Bab 20

823 Kata
Ika masuk kedalam kamarnya begitu Bara meninggalkan rumah. Pada Ika, Bara bilang akan berangkat ke kantor. Bara sudah lama tidak masuk kantor, sudah seharusnya ia kembali ke aktivitas hariannya. Pembicaraan mereka masih belum ada titik temu. Bara tidak mau berpisah dengan Ika dan mau terus melanjutkan pernikahan mereka yang tentu saja ditolak oleh Ika dengan tegas. Ketakutannya akan masa depan tidak bisa mengalahkan prinsip yang dianutnya sejak lama. Meski sebagian orang mau dipoligami dengan dalil syariat tapi Ika tidak! Mencari pahala tidak harus dengan mengorbankan harga diri dan kebahagiaan. Bagaimana bisa berbuat baik pada orang lain jika pada diri sendiri saja masih belum bisa. Ika tidak bisa membayangkan akan berbagi suami dengan wanita lain. Pasti akan ada rasa cemburu dan sakit hati nantinya. Ika tidak sekuat itu sampai memilih dipoligami. Hatinya sangat lemah dan rapuh. Ika juga tidak ingin memberikan opsi untuk bisa berlaku adil pada Bara. Jalan yang harus Ika pilih hanya berpisah saja. Sejak awal pernikahan mereka memang sudah dipaksakan. Sebaik apapun mereka menjalaninya namun jika sudah tidak berjodoh, mau bagaimana lagi ? Ada takdir yang tidak bisa mereka lawan. Melihat Bara yang sangat menentang rencana perpisahan mereka, Ika ingin pergi saja dari kediaman Bara. Lebih baik ia pergi daripada terus berpolemik dengan Bara yang keras kepala. Namun, Bara yang sudah mengantisipasi niatan Ika, mengancam tidak akan menikahi Karin jika Ika sampai meninggalkannya dan memastikan akan menemukan keberadaan Ika dimanapun ia berada. " katakan kemana kamu akan pergi jika keluar dari rumah ini ? " tanya Bara saat mereka sarapan tadi pagi. " Aku tidak tahu " ucap Ika ," aku belum memikirkannya ." " Kamu tidak punya tempat untuk pergikan ?" tanya Bara lagi. Bara tahu Ika memang tidak punya lagi tempat yang bisa ia tuju. Itulah alasan kenapa mereka dipaksa menikah. Paksaan yang sekarang sangat disyukuri oleh Bara. " Akan aku pikirkan nanti kemana aku akan pergi. Kamu tidak perlu memikirkannya." " Ada wanita lain yang sedang mengandung anakmu ." ucap Ika mengingatkan meski hatinya sakit untuk mengakuinya. Bara berdecih kesal. Tentu saja Bara akan memikirkannya, Ika adalah isterinya. Selain karena tanggung jawab, juga karena rasa cinta yang dirasakannya. Untuk urusan Karin, Bara ingin mengenyampingkannya, setidaknya untuk sebentar saja. " Pokoknya kamu tidak boleh kemana - mana. tempatmu ada dirumah ini !" ucap Bara menegaskan. " Kalau aku bisa aku pasti akan tetap disini " " Kamu bisa jika mau " " Kamu tahu aku tidak akan maukan ?!" " Kalau begitu aku akan membuatmu mau ." kata Bara ," Atau kalau perlu aku akan membuatmu harus mau tetap menjadi isteriku " Ika menatap Bara tajam ," Apa kamu tidak merasa hina telah memaksa wanita agar tetap berada disampingmu ?" Kedua alis Bara berkerut menatap Ika. " Kenapa harus merasa hina ?" tanya Bara. " Karena kaulah yang menyebabkan kita harus bercerai dan kau jugalah yang telah melakukan kesalahan yang memaksamu harus bertanggung jawab. Apa kamu tidak pernah berpikir diposisiku, Jika orang - orang tahu kalau suamiku menghamili wanita lain, apa yang mereka pikirkan tentangku ? dibanding dituduh merebut calon ayah dari anak yang tak berdosa, lebih baik aku dianggap tidak becus menjaga suami sehingga suamiku memilih wanita lain ." Bara tidak terima Ika merendahkan dirinya, kenyataannya jelas tidak seperti itu. " Aku tidak mau dikasihani sebelumnya, tapi kali ini aku akan membiarkan orang mengasihiku dan menyalahkan dirimu ataupun kekasihmu karena telah mengkhianati pernikahan kita !" ucap Ika berapi ," suami yang berselingkuh tidak memiliki tempat dimata orang -orang apalagi wanita simpanan! " Bara tersenyum sinis. Wanita ini kenapa memiliki keberanian yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. " Apa kau sanggup melakukannya ?" Ika mengangguk ," karena terpaksa ... aku harus sanggup ." jawab Ika bertekad. " Apa kamu tidak memiliki rasa sedikitpun padaku lagi ?" tanya Bara penuh selidik. Ika tidak menjawabnya. Tentu saja ia masih memilikinya. Belum berkurang sedikitpun. *** Ginanjar Wirama menatap sehelai foto usang yang ada ditangannya. Foto yang berumur lebih dari empat puluh tahun itu adalah foto dirinya dengan sahabat baiknya, yang tak lain ayah dari menantunya. Mereka menjadi besan sekarang, meski tidak pernah berjumpa disaat sudah menjadi keluarga. Temannya sudah berpulang lebih dulu, dan Wirama telah menepati janjinya untuk menjaga anak dari sahabat baiknya itu. Menjadikan Anulika sebagai bagian dari keluarga Wirama, dengan cara menikahkan Ika dengan Bara. Sebelumnya Wirama sudah amat senang melihat anak dan menantunya telah menerima pernikahan mereka. Wirama bisa sedikit membalas apa yang sudah Yusuf berikan padanya. Tapi tidak untuk sekarang, kebahagiaannya langsung dimusnahkan oleh Bara dalam sekejap. Dengan kondisi Bara yang sudah menghamili Karin, bukan lagi kebahagiaan yang akan dirasakan oleh Ika, tapi justru sebaliknya. Sekarang Wirama merasa sudah menarik anak sahabatnya itu kedalam neraka kehidupan. Wirama malu dengan perbuatan anaknya. Dibandingkan dengan kelakuan Bara yang sudah - sudah, sekaranglah yang paling membuatnya kecewa. Biasanya Wirama akan memarahi Bara dan menghukumnya, tapi kali ini Wirama tidak tahu akan melakukan apalagi. Sungguh tamparan yang sangat keras yang Bara berikan padanya. Wirama mengusap air bening yang jatuh disudut matanya. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN