Sudah sejak tadi Ika keluar dari kamar mandi namun belum ada pembicaraan diantara mereka. Ika tidak mau mendesak Bara untuk bercerita. Biarlah Bara yang memutuskan mau bercerita atau tidak padanya. Terlalu muluk bagi Ika jika masih berharap pada Bara yang jelas - jelas enggan untuk melibatkannya dalam permasalahannya.
Bibir Bara terasa kelu untuk memulai pembicaraan. Wajah masam Ika padanya membuat nyalinya semakin ciut saja. Tenggorokan Bara terasa kering. Rasa gugup tiba - tiba melandanya.
Bara berharap Ika mau memulai pembicaraan diantara mereka agar suasana tidak terlalu canggung.
Bara berdehem untuk membasahi tenggorokannya juga untuk meminimalisir rasa gugupnya.
" Aku akan membuat pengakuan dosa ," ucap Bara bersusah payah. Ia harus segera berbicara sebelum sisa keberaniannya menguap semuanya ," Wanita itu mengaku hamil ."
Mata Ika membesar seiring dengan ucapan Bara. Jantungnya berdegup tak karuan. Kehilangan kata - kata karena terlalu kaget. Sungguh kejutan yang tak disangka - sangka. Karena itukah Bara mengurung diri?
Bara memandang Ika penuh sesal dan rasa bersalah. Meski Bara melakukannya sebelum berkomitmen dari hati ke hati dengan Ika, tetap saja Bara merasa bersalah karena masih berhubungan badan dengan wanita lain disaat sudah terikat pernikahan dengan Ika.
Ika diam mematung. Tidak bereaksi sama sekali. Jangankan marah ataupun berteriak, berucap pun tidak.
Ika jelas sekali sedang syok mendengar pengakuan Bara. Sampai - sampai tubuhnya mendadak berhenti berfungsi.
Bara pindah kebawah, duduk kehadapan Ika yang sedang duduk berjuntai diatas tempat tidur. Diraihnya kedua tangan Ika yang ada dipangkuannya. Digenggamnya erat kedua tangan Ika yang lemas tak berdaya.
" Maafkan aku Ika, Maafkan ... " ucap Bara terisak. Air matanya jatuh diatas tangan Ika. Mengembalikan lagi kesadaran Ika yang sempat melayang. Isakan Bara suda berubah menjadi tangisan.
Ika membiarkan saja Bara menangis untuk beberapa saat. Hatinya tak kalah laranya dibanding Bara. Ika merasa tersakiti oleh kejamnya takdir. Ingin marah tapi ia tahu hanya percuma saja. Tidak akan merubah apapun.
" Kalian masih melakukannya ?"
Bara mendongak. Menatap Ika yang akhirnya bersuara ," Tidak pernah. "
" Berapa usia kandungannya ?"
Bara menggeleng ," Aku tidak tahu."
" Kenapa kamu tidak menanyakannya ? "
" Aku tidak kepikiran kesana, aku tidak bisa berpikir jernih ." Bara memegang kepalanya frustasi.
Ika memandang Bara lekat. Menimbang sesuatu. Namun urung menyuarakan isi hatinya. Bara tampaknya sangat yakin dengan kehamilan Karin. Ika hanya menyimpan keraguannya.
" Dia meminta aku untuk menikahinya ."
Ika tidak terkejut sedikitpun mendengarnya. Memang seperti itu seharusnya. Tidak terkejut bukan berarti Ika tidak apa - apa. Ika jelas terluka karenanya. Sangat - sangat terluka hatinya.
Kembali keduanya terdiam. Larut dalam pikiran masing - masing. Bara merutuki kebodohan dirinya, telah memperturutkan nafsu syahwat tanpa memikirkan akibatnya. Tidak ada dosa yang tak berbalas. Bara menyadarinya sedari dulu. Bara mengabaikan ganjaran yang akan ia terima dengan harapan akan dibayarnya dengan amalan saat tua nanti.
" Kapan kita akan bercerai ?" tanya Ika diluar dugaan Bara.
" Kita tidak akan bercerai !"
" Sayangnya kita harus bercerai " kata Ika getir.
Bara menatap Ika protes. Siapa yang mengharuskan mereka untuk bercerai.
" Bara, sejujurnya aku juga tidak mau bercerai. Aku bahkan tidak tahu mau kemana setelah kita berpisah nantinya. Tapi kita tetap harus bercerai ... maksudku, aku yang mau kita bercerai. Kamu harus menikahi calon ibu dari anakmu dan aku tidak akan mau dimadu."
Bara bungkam. Menundukkan kepalanya. Bingung.
" Kamu tidak mau memaafkanku ?"
" Bukan soal 'maaf', Bara ... ini soal tanggung jawab dan prinsip," sahut Ika ," Tanggung jawab kamu menikahi karin secepatnya dan Aku punya prinsip monogami ."
Ika memanipulasi perasaannya dengan baik. Terlihat tegar diluar meski hancur didalam.
Tbc ...