Bab 18

714 Kata
Sejak kembali dari pergi, yang diakui Bara sebagai pertemuan dengan rekan bisnisnya, Bara berubah menjadi murung dan pendiam. Bara kembali mengurung diri didalam kamarnya. Ia bahkan sampai melewatkan jam makannya. Ika tidak bisa memintanya untuk keluar kamar karena Bara yang seakan menulikan telingannya. Ika tahu ada yang tidak beres dengan Bara. Ini sama dengan keadaan sebelumnya. Ternyata Bara adalah orang yang suka memedam masalah. Bisa juga karena Bara belum menerima Ika sebagai isterinya dengan sepenuh hati. Ika jadi menerka - nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan Bara. Masalah pekerjaan ataukah masalah pribadi. Sementara itu Bara termenung sendirian didalam kamar yang sebelumnya sudah ia kunci dari dalam. Bara perlu ruang dan waktu untuk berfikir. Hati dan Perasaannya sedang bekerja keras dalam memutuskan apa yang harus ia lakukan terhadap permintaan Karin padanya. Bara tidak bisa lari dari tanggung jawabnya. Tapi juga tidak mau meninggalkan Ika demi menikahi Karin. Dua hari berlalu ... Selama masa Bara mengurung diri, Ika selalu menyiapkan makanan untuknya. Walau tidak pernah disentuh olehnya. Hanya ada cangkir bekas kopi yang ia temukan didalam sink setiap Ika bangun pagi. Ika tidak pernah tahu kapan Bara keluar kamar untuk menyeduh kopi. Mereka kembali menjadi orang asing yang terjebak dalam tempat yang sama. Hari ini Ika memutuskan untuk keluar rumah. Menghirup udara bebas demi mengalihkan pikirannya dari memikirkan Bara. Ika harus melakukan sesuatu diluar rumah agar kewarasan akalnya tetap terjaga. Pada dasarnya Ika orang yang paling benci dicuekin untuk hal yang tidak ia ketahui. Ika lebih suka diajak bicara langsung. Diberitahu apa kesalahannya agar ia bisa meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya. Namun sepertinya Bara orang yang sangat bertolak belakang dengannya. Setelah bersiap - siap, Ika berangkat ketaman yang ada didalam komplek tempat tinggalnya. Sampai di taman Ika memilih duduk disebuah bangku kayu yang kosong. Selain Ika ada juga ibu - ibu muda yang menemani anaknya bermain. Mereka sempat melempar senyum ramah pada Ika. Ika membalasnya dengan senyuman juga. Dalam hati Ika terbersit keinginan Ika semoga nantinya ia juga bisa mengalami apa yang para ibu lakukan. Menemani anaknya bermain dipagi hari sebelum matahari berubah menjadi terik. Ika tersenyum gamang. Belum tentu juga Bara menginginkan hal yang sama dengannya. Sampai sekarang saja hubungan mereka tidak ada kemajuan kecuali soal seks. Hanya untuk urusan ranjang saja mereka bisa cepat menyatu selebihnya masih seperti awal pernikahan. *** Bara sudah bangun dan mandi dengan bersih. Ia merasa sudah cukup dengan semedinya. Masalahnya tidak akan selesai dengan mengurung diri. Bara tahu apa yang bisa ia lakukan untuk mengatasi masalahya. Bara hanya perlu pengertian dan dukungan dari Ika. Hanya wanita itu yang bisa membantu Bara keluar dari polemik yang sedang menderanya. Bara tidak menemukan sang isteri didapur. Tidak juga dikamarnya. Ketakutan langsung Bara rasakan karena tidak menemukan Ika meski sudah ia cari kesemua penjuru rumah. Dengan panik bercampur cemas Bara kembali kekamar yang ditempati oleh Ika. Bara mengecek isi lemari pakaian Ika. Bara menarik nafas lega begitu melihat pakaian Ika masih ada. Matanya awas mengamati setiap sudut kamar. Tidak ada yang berubah dari biasanya. Kemana Ika ? Pandangan Bara beralih kearah pintu kamar Ika yang sedang dibuka dari luar. Ika masuk dan terlihat terkejut saat menemukan sosok Bara dalam kamarnya. Sempat bertatapan sejenak namun Ika menjadi pihak pertama yang memutus pandangannya. Ika jelas terlihat masih marah mengingat kelakuan Bara yang mendiamkannya selama nyaris tiga hari. Ika berlalu begitu saja tanpa menyapa Bara yang berdiri tidak jauh dari pintu kamar mandinya. Ika sedang kebelet ingin buang air. Andai tidak terpaksa mungkin Ika masih betah duduk ditaman memandangi anak - anak tetangganya yang tampak begitu bahagia tanpa ada yang mengganggu pikirannya. Masa kecil kebanyakan orang selalu indah, dan Ika boleh berbangga hati karena memiliki Ayah yang luar biasa menyayanginya. Bara memandangi tubuh Ika sampai hilang tertutup pintu. Perasaannya jadi terganggu melhat wajah kurang bersahabat dari isterinya. Belum juga ia mengutarakan maksud hatinya suasana hati Ika sudah buruk duluan, bagaimana dengan nanti jika ia meminta sesuatu yang sensitif pada sang isteri. Niat hati yang awalnya sudah bulat kembali menjadi ragu. Bara belum siap dengan reaksi Ika nantinya. Entah akan kecewa ataupun bersedih, keduanya sama tidak diinginkan oleh Bara. Ika tidak boleh merasakan dua perasaan tersebut. Seperti Bara yang bahagia dengan kehadiran Ika disisinya begitupun harusnya yang Ika rasakan saat bersama dengannya. Melihat apa yang sedang terjadi sudah pasti Ika akan merasakan perasaan tersebut. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN