Bara bangun dengan kondisi tubuh basah oleh keringat. Ia baru saja mimpi buruk yang tidak bisa diingatnya dengan jelas.
Dirabanya tempat kosong disisinya. Ika tidak ada disana, padahal Bara sudah merasa terbiasa merasakan perasaan nyaman saat memeluk tubuh Ika saat tidur maupun saat bangun tidur. Bara jadi merasakan ada yang hilang begitu tidak menemukan Ika disampingnya.
Bara mengernyitkan matanya agar lebih jelas melihat. Berusaha menyesuaikan dengan kondisi penerangan yang menyambutnya kala membuka mata. Ternyata hari sudah siang. Cahaya matahari sudah menerobos masuk dicela gorden yang tidak tertutup sempurna.
Bara juga baru sadar kalau ia sedang berada dikamarnya. Diingat - ingatnya lagi kenapa ia bisa berada dikamarnya. Harusnya ia berada di kamar Ika. Kamar yang sebelumnya sudah ia patenkan menjadi kamar tidur mereka. Kamar tidur sementara sampai ia bisa merenovasi bagian lain dari rumahnya menjadi lebih luas untuk dijadikan kamar tidur utama mereka.
Bangkit dari tidurnya Bara langsung keluar kamar mencari Ika.
Senyum dibibirnya langsung terbit melihat sang isteri sedang berkutat didapur. pemandangan yang tidak akan pernah bosan untuk ia lihat.
Bara berjalan mendekati Ika yang belum menyadari kedatangannya. Ika sedang mengaduk masakannya diatas kompor.
Bara langsung memeluk tubuh Ika dari belakang. Ika yang terjengkit kaget ingin melepaskan pelukan Bara diperutnya tapi segera ditahan oleh Bara dengan mengetatkan pelukannya.
Bara menghendus leher Ika dari belakang. Ika yang kegelian menahan kepala Bara dengan tangannya.
Setelah Bara melonggarkan sedikit pelukannya Ika berbalik kearah sang suami. Kali ini Bara memeluknya dari depan. Kembali menemukan leher sang isteri untuk dimainkan dengan hidung dan bibirnya.
" Kamu habis ngapain sampai basah begini ?" tanya Ika mengalihkan pikirannya dari gelenyar aneh akibat perbuatan Bara.
Bara tidak menjawab, terus fokus dengan leher Ika yang mampu membangkitkan gairahnya. Tidak cukup dengan memberikan cumbuan saja, Bara membawa Ika untuk mendaki puncak bersama. Tidak peduli dengan keadaan mereka yang sedang di dapur. Setelah mendapatkan kepuasan yang mereka inginkan keduanya pun mandi bersama.
" Kamu tidak berangkat kerja ? " tanya Ika kepada Bara seusai mereka sarapan.
Bara menggeleng ," Aku memutuskan untuk libur seminggu ini."
Ika memandang Bara, ragu untuk mengungkapkan uneg - uneg yang mengganggunya.
" Apa kamu masih mencari lowongan kerja ? " tanya Bara yang dibalas oleh Ika dengan anggukan.
Bara tahu Ika sedang menunggu penjelasan darinya. Seharusnya Bara segera memberitahukan pada Ika masalah yang sedang menderanya. Namun Bara sedang meragu. Tidak berani untuk berterus terang. Takut Ika tidak bisa menerima kenyataan dan pergi meninggalkannya. Bara tidak mau Ika pergi darinya.
Bara juga bimbang dengan perasaannya atas kehamilan Karin. Jika memang Karin mengandung anaknya apa yang harus ia lakukan ?
Bara menepis fikirannya sendiri. Hatinya masih belum percaya kalau Karin sedang hamil tanpa memberitahu padanya.
Bara ingin menemui Karin untuk memastikannya. Tapi Papanya melarang. Andai Bara tetap melakukannya, Papanya pasti mengetahuinya dan akan membuat masalah baru diantara mereka.
" Apa tawaran dariku tidak masuk kedalam pertimbanganmu ? " Bara kembali bertanya mengingat status mereka yang sudah berubah.
" Apa kamu yakin akan bertahan lama ? " Ika balik bertanya dengan pertanyaan yang ambigu.
" Tentu saja aku yakin " jawab Bara.
Ika menatap Bara mencari kejujuran dalam mata sang suami.
Bara sangat jujur dengan kata - katanya. Hanya saja, Bara menyimpan ketakutannya sendiri.
" Kalau kamu yakin aku akan mencobanya. Aku serahkan masa depan karirku padamu " Balas Ika.
Bara termangu mendengar ucapan Ika. Bukannya senang mendengarnya, Bara justru merasa ada tekanan didalamnya. Menyadari kalau Ika belum sepenuhnya menyerahkan masa depannya ditangan Bara, membuat Bara merasa belum cukup diakui menjadi seorang Pemimpin dalam rumah tangga mereka.
" Besok kamu ikut meeting sama mereka ya ... setelah itu baru kamu putuskan mau lanjut atau tidak "
Ika mengangguk sambil tersenyum dan dibalas oleh Bara dengan senyuman juga.
***
Bara tidak bisa menolak permintaan Karin untuk bertemu. Maka disinilah mereka sekarang. Di sebuah cafe yang berada tidak jauh dari kampus Karin.
" Apa yang kamu inginkan ? " tanya Bara tidak sabar. Ingin cepat selesai supaya bisa segera pulang.
" Status " jawab Karin ," Bukan untuk aku saja tapi untuk anak yang ada dalam kandunganku. Kamu pasti tidak maukan anak kita terlahir sebagai anak haram ? "
Bara menatap Karin tajam. Matanya tertuju ke perut Karin yang masih terlihat rata.
" Kamu pasti bertanya kenapa aku tidak ngasih tahu kamu duluankan ? " tanya Karin sebelum Bara bertanya ," rencananya aku akan mengasih kejutan saat kamu ulang tahun nanti tapi sebelum kamu ulang tahun kamu sudah lebih dulu mutusin aku, jadi terpaksa aku mendatangi Papamu "
" Kamu yakin sedang hamil anak aku? " tanya Bara membuat Karin tersinggung.
" Bukannya aku meragukan kehamilanmu tapi aku sendiri sangat yakin selalu memakai pengaman setiap kita berhubungan "
Karin memandang sinis pada Bara ," Bagaimana mungkin kamu bisa seyakin itu padahal kita sering melakukannya disaat kita sedang mabuk !"
Bara bungkam mendengarnya. Memang terkadang mereka minum - minum dulu sebelum bercinta.
" Aku hanya minta kamu nikahi secepatnya. secara siri juga tidak apa - apa "
" Aku tidak bisa melakukannya " tolak Bara ", Selain karena aku sudah punya isteri, aku juga tidak bisa menentang Papa "
" Kamu tidak harus memberitahu Papamu. Kita bisa menikah dikampungku setelah itu kamu bisa kembali pada isterimu" saran Karin membujuk Bara ," Aku hanya ingin punya status saja. Apa menurutmu permintaanku terlalu berlebihan ? "
Jika memang Karin sedang mengandung tentu Bara harus bertanggung jawab terhadap Karin dan anak yang sedang dikandungnya. Bara tidak bisa lepas tangan begitu saja pada mereka.
" Bagaimana ? Kamu maukan kita menikah secara diam - diam saja ?"
" Akan aku fikirkan "
Karin tersenyum ," Jangan terlalu lama, nanti perut aku akan membesar. Akan lebih sulit bagiku untuk menyembunyikannya " ujar Karin dengan ancaman yang tersirat.
" Kamu mungkin bisa melupakan aku dan menukarku dengan wanita beruntung itu tapi kamu tidak bisa melupakan anakmu begitu saja. Dia selamanya akan jadi tanggung jawabmu "
Bara menghela nafasnya berat. Kenapa ia bisa seceroboh ini sampai membuat makhluk tak berdosa terancam telantar karenanya.
Bara tidak mungkin setega itu sama darah dagingnya sendiri. Bara pasti akan bertanggung jawab meski tak sepenuh hati.
Tbc