Bab 13

892 Kata
Paginya, Bara dan Ika bangun terlambat. Tentu saja karena tubuh mereka yang kecapean setelah aktifitas panas mereka yang baru berakhir menjelang subuh. Awalnya Bara tidak berniat menggempur Ika yang memang belum berpengalaman. Bara akan bersabar sampai Ika terbiasa, tapi karena Ika membalas setiap sentuhan yang Bara berikan, tentu saja membuat Bara bersemangat dan jadi lepas kendali. Gairah lelakinya tidak mungkin padam saat ia sadar wanita yang ia cintai menginginkan hal yang sama dengan dirinya. Ika ingin segera bangkit dari tempat tidur begitu menyadari kalau mereka sudah sangat terlambat bangun. Ia memandang Bara dengan perasaan bersalah karena Bara akan terlambat sampai kekantor. Ika harus segera mandi dan kedapur menyiapkan sarapan. Namun Bara kembali menarik tubuh Ika yang sedang duduk dengan memegang ujung selimut, agar kembali tidur dipelukannya. " Hari sudah siang, kamu pasti terlambat" kata Ika malu karena menyadari penyebab mereka terlambat bangun. " Nggak apa - apa " balas Bara ," aku nggak kekantor hari ini " Ika menatap Bara heran, sekarang masih hari kerja. Sebelumnya Bara tidak pernah tidak ke kantor dihari biasa. Bahkan pernah juga berangkat dihari minggu. " Aku lagi malas saja, maunya dirumah saja sama kamu " Ika tersipu mendengar penuturan Bara. Kenapa Bara jadi tidak profesional begini. " Anggap saja aku mengambil cuti menikah yang belum sepenuhnya aku ambil". Kentara sekali dia mencari alasan untuk meliburkan diri. Ika tersenyum geli jadinya. Tidak perlu juga Bara membela diri dari dirinya sendiri. Tidak ada atasan yang akan memarahinya karena tidak datang tanpa alasan yang jelas. " Tidur saja lagi kalau masih ngantuk " ucap Bara kembali menutup matanya. Bukan Ika yang mengantuk tetapi Bara. " Aku sudah tidak mengantuk " sebut Ika ," Kamu saja yang tidur, aku mau mandi " Bara membuka matanya ," Mandi bareng ? " Ika mau menggeleng tapi urung ia lakukan karena Bara sudah lebih dulu bangkit. " Kamu nggak jadi tidur ? " Bara menggeleng ," Ada yang lebih menarik daripada tidur " " Bukannya kamu masih mengantuk ? " Bara tersenyum mendengar pertanyaan Ika yang menyindirnya ," Sudah hilang ngantuknya " Ika tertawa mendengar jawaban Bara. " Ayo " ajak Bara yang sudah selesai memakai celana boxernya. Ika menggeleng malu. Ia masih telanjang dibalik selimutnya. " Kamu duluan saja " Bara menampilkan smirknya melihat Ika yang masih malu padanya. Tadi malam mereka sudah menyatu, apalagi yang membuatnya malu. Kemana perginya Ika yang penuh percaya diri tadi malam ? Dengan sekali hentak selimut yang menutupi tubuh Ika sudah berpindah kelantai. Belum sempat Ika menjerit, tubuhnya sudah melayang kekamar mandi. Saat tersadar dengan apa yang suaminya lakukan, Ika menjerit sekuat tenaga tapi teredam oleh mulut Bara yang mencium bibirnya. Tak butuh waktu lama bagi Bara untuk menyulut gairah Ika. Begitu sampai dikamar mandi, ciumannya sudah berbalas. Keduanya saling melumat dan meremas apa yang bisa ia jangkau. Semudah itu tubuh keduanya terpancing. Tak lama kemudian hanya suara desahan, erangan dan jeritan yang tertahan, yang terdengar memenuhi kamar mandi bersama suara air yang mengalir percuma dari shower. Menjelang tengah hari barulah mereka keluar dari kamar dan sarapan diwaktu mendekati jam makan siang. Keduanya menyantap roti panggang dan kopi dengan nikmat. Sarapan biasa yang terasa luar biasa karena mereka sedang kelaparan. Bara memandangi Ika dengan sedikit rasa bersalah. Karena ia minta terus Ika jadi kelaparan begini. Bara juga lapar tapi kebutuhan bawah perutnya mengalahkan rasa laparnya. " Kenapa liatin terus ? aku jadi malu " Kata Ika memutus lamunan Bara tentang kegiatan panas mereka. " Malu kenapa ? kamu kan sudah pakai baju " goda Bara. Ika melotot padanya. Bara sengaja mengingatkan Ika pada ketelanjangannya tadi pagi. Malu yang ia ucapkan tidak sesuai dengan reaksi tubuhnya saat bersentuhan dengan Bara. Bara menyukai Ika yang agresif dan tidak malu - malu saat berhubungan intim dengannya. Ika menjadi spesial dimata Bara karena bisa berlaku agresif disaat yang tepat. Ternyata tidak perlu pengalaman dulu untuk urusan s*x, cukup dengan mengikuti naluri saja. Ika yang terbukti masih perawan saja bisa mengimbanginya tanpa perlu praktek terlebih dahulu sebelum menikah. " Habisin sarapannya, ntar kita keluar jalan - jalan " ucap Bara ," Itupun kalau kamu nggak capek " " Aku nggak capek kok " jawab Ika cepat, terlalu bersemangat mendapat ajakan jalan - jalan untuk pertama kalinya dari sang suami. Bara mengangguk ," Kamu mau main kemana ? " " Kemana saja " Bara tampak berfikir, mengingat tempat yang cocok sebagai tempat kencan pertama mereka. " Kalau nonton ke Mall gimana ? " Cuma itu pilihan terbaik yang terfikirkan oleh Bara. Ika mengangguk dengan seulas senyuman. *** Ezra memandangi sepasang suami isteri yang baru keluar dari bioskop itu. Wajah keduanya terlihat bahagia sambil sesekali tergelak untuk hal yang tidak bisa ia dengar. Rupanya hubungan keduanya cukup dekat, berbeda dari apa yang ia tahu selama ini. Apa karena itu Ika tidak jadi bekerja ditempatnya. Ezra jadi penasaran dengan hubungan Bara dengan kekasihnya. Apa pacarnya tahu kalau Bara menggandeng Ika sekarang. Tidak mungkin secepat itu hubungan mereka berakhir. Dari hasil pantauannya, hubungan Bara dengan pacarnya sudah terjalin cukup lama. Ezra berjalan mendekati keduanya. " Anulika, apa kabar ?kebetulan sekali kita bertemu disini " sapa Ezra sambil tersenyum penuh makna. Langkah kaki Bara dan Ika terhenti mendengar sapaan dari Ezra. Raut yang berbeda terlihat dari muka Bara dan Ika. Bara terlihat dingin dan kaku. tidak bersahabat sama sekali. Ika tersenyum canggung yang membuat Ezra merasa kalau Bara telah mengatakan sesuatu yang kurang baik tentangnya. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN