Bab 12

871 Kata
Bara mendesah lega setibanya didalam mobil. Sejak sore tadi nafasnya seakan tersendat karena berusaha sabar ditengah hatinya yang sedang gelisah. Fikiran yang sedang berkelana pergi dari badan membuatnya nelangsa selama menemani Karin berbelanja. Sejak keluar dari kantor hatinya memang sudah tidak tenang. merasa cemas terhadap sesuatu yang tidak pasti. Takut bertemu dengan orang - orang yang mungkin mengenalinya. Perasaan terganggu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Inikah yang dirasakan oleh orang yang sedang berselingkuh? Dengan mengucap Bismillah Bara menjalankan mobilnya menuju kediamannya. Jarak tempat tinggal Karin dan rumahnya terasa sangat jauh. Bara ingin segera tiba dirumah. Bertemu dengan Ika dan berharap Ika belum tidur agar mereka bisa makan malam bersama. Harapan Bara tidak terkabul, Ika sudah masuk kamar dan tidak ada tanda - tanda kalau dia masih bangun. Sudah menjelang jam sepuluh, mungkin Ika sudah tidur. Bara berdiri diluar kamar Ika. Jantungnya jadi deg degan tak karuan. Ingin masuk tapi meragu. Belum pernah selama mereka menikah Bara masuk kekamar tersebut disaat Ika juga berada didalam kamar. Dengan pelan diputarnya handle pintu dan didorongnya ke dalam. Ternyata Ika tidak mengunci pintunya. Penampakan kamar Ika sangat lengang dan rapi. Ika ketiduran dengan laptop yang masih menyala didepannya. Hati Bara terasa dicubit pelan melihat halaman yang sedang menampilkan situs lowongan kerja yang baru dibuka oleh Ika. Kalau bukan karena dirinya, Ika pasti sudah memiliki pekerjaan. Tapi Bara tidak sampai merasa bersalah karenanya, karena Bara sangat meyakini kalau apa yang ia lakukan benar dan sudah seharusnya. Dengan hati - hati dipindahkannya laptop Ika keatas meja yang ada disamping tempat tidur. Ika terjaga. Matanya menangkap sosok Bara yang memandang kearahnya. pandangan keduanya seolah terkunci. Bara memang tahu kalau Ika cantik dan banyak wanita diluaran sana yang juga tak kalah cantiknya. Tapi baru sekarang ia menyadari, Ika memiliki kemampuan untuk membuat darahnya berdesir kuat tanpa melakukan apapun. Disisi lain, Ika terbengong oleh pesona Bara yang tidak pernah gagal membuatnya terpana. Ika menganggap ia sedang bermimpi seperti sebelumnya. Bertemu Bara yang tersenyum lembut padanya. Menatapnya dengan penuh pemujaan layaknya lelaki yang mencintai pasangannya. Mimpi yang sama sudah beberapa kali menghiasi tidur malamnya. Jelas Ika sedang bermimpi karena saat terbangun, Bara yang ia temui cenderung dingin dan datar. Sisi dewasanya mendamba sentuhan dari pria yang memang halal baginya. Saat Bara menyatukan bibir mereka, Ika tidak menolaknya. Meski dalam mimpi saja Ika ingin merasakan berciuman dengan Bara. Ciuman dan lumatan dari Bara semakin kuat dan intens membuat mata Ika yang sudah terpejam kembali terbuka. Ika baru yakin kalau ia tidak sedang bermimpi. Ini kenyataan, Bara ada dikamarnya dan sedang menciuminya! Dengan pelan didorongnya wajah Bara dengan kedua tangannya. Melihat sejauh mana kesadaran Bara dalam menyentuhnya. Jangan sampai Bara sedang tidak sadar dan menyesalinya esok hari. Bara memegang tangan Ika yang ada diwajahnya. Diusapnya lembut tanpa memutus tatapan mereka. " Aku rasa aku mulai mencintaimu " ucapnya serak. Bukan karena gairah tapi lebih karena haru yang menyeruak keseluruh aliran darahnya. Bara terharu karena bisa yakin dengan perasaannya. Kupu - kupu berterbangan didalam perut Ika. Bahagia mendengar pengakuan Bara yang sudah dinantikannya. Bara membelai wajah Ika dan kembali menciumnya lembut. Ika menyambut ciuman dari Bara, membalasnya dengan sama bergairahnya dengan Bara. Tangan Bara berpindah kepunggung Ika dan menariknya kedalam rengkuhannya. Bara merasakan kehangatan dalam tubuh Ika, membuatnya ingin mempererat pelukannya. Pikiran Ika berkabut menyamai Pikiran Bara yang telah dulu b*******h. Perasaannya bercampur aduk. Disatu sisi, Ika ingin membiarkan dirinya hanyut dalam gairah yang sama dengan suaminya, namun disisi lain, rahasia pernikahan mereka mengusik sudut hati dan egonya. Bara merasakan tubuh Ika yang mendadak kaku meskipun tidak terlalu kentara sekali. Bara bisa menebak penyebabnya dengan pasti. Ika sedang meragu padanya. Bara melepaskan tautan bibir mereka. Menatap Ika dengan lembut. " Maafkan aku, aku mau kita melanjutkan pernikahan kita tanpa embel - embel apapun yang menyertainya. Aku menyabut semua kata - kataku sebelumnya " Ika bahagia mendengarnya, tapi ... " Karin bagaimana ? " " Dia hanya masa lalu " jawab Bara tegas ," Aku sedang mengusahakan untuk putus darinya. " Belum putus ternyata, berarti Bara masih menjadi pacarnya Karin. Apa Ika sekarang menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka? " Beri aku waktu untuk menyelesaikannya " pinta Bara sungguh - sungguh. Ika mengangguk pelan. Bara mendesah lega, bertekad akan segera mengakhiri hubungannya dengan Karin secepatnya. Ada Ika yang harus ia utamakan karena Ika adalah isterinya. " Boleh ... " Bara meminta izin tersirat pada Ika. Ika kembali mengangguk ," Pelan - pelan. ini pertama buatku " Bara terkejut mendengar penuturan Ika. Ika sudah sangat dewasa untuk tetap menjadi perawan. Apa mantan Ika tidak memintanya selama ini. Bara tahu nyaris tidak mungkin bisa bertahan jika dirinya yang menjadi pacar Ika sebelumnya. Kenapa Ika bisa menahan diri dari hal yang meski sebelumnya dianggap tabu tapi sudah biasa dilakukan oleh banyak orang. Bara sadar, dirinya beda kelas dengan Ika dalam menjalani masa muda mereka. " Kenapa tidak mulai ? " tanya Ika gugup. Bara menatap Ika bimbang ," Aku tidak sesuci kamu " bisiknya penuh sesal. Ika pasti merasa Bara tidak pantas untuknya. penzina tidak cocok dengan wanita baik - baik. d**a Bara bergetar mengakui fakta tersebut. " Masa lalu setiap orang banyak khilafnya, jika kamu mau berubah dimasa depan aku bisa menerimanya." Bara seakan meledak mendengar kepercayaan yang diberikan oleh Ika kepadanya. Bara berjanji menjaganya. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN