Bab 11

874 Kata
Ika tidak bisa menerima pekerjaan yang diberikan oleh Bara padanya meski sebenarnya Ika sangat tertarik bekerja dibidang sosial, karena merupakan salah satu impiannya saat kecil. Bisa membantu orang lain tentu saja sangat menyenangkan baginya. Penawaran dari Bara mampu membuatnya galau setengah mati. Kapan lagi ia bisa turun tangan langsung dalam usaha menolong kaum marginal dengan payung hukum yang jelas. Memang, Menolong sesama bisa dengan banyak cara, bersedekah contohnya. Ika sudah melakukannya sejak remaja. Hasil didikan dari Ayahnya. Tapi dengan bersedekah, orang yang ia bantu sangat terbatas sekali. Berbeda jika ia bekerja diYayasan yang sedang digodok oleh Bara dan teman - temannya. Disana akan ada pelatihan usaha mikro juga. Bahkan, Ika sudah memiliki bayangan bentuk kegiatan dan usaha yang akan mereka kembangkan nantinya. Namun, Ika tidak bisa menerimanya begitu saja. Tenggang waktu pernikahan mereka akan menjadi kendala yang berarti dikemudian hari, Oleh karena itu Ika kembali berkutat dengan laptopnya untuk mencari peluang pekerjaan yang mungkin bisa ia coba kirim berkas lamarannya kesana. Ika tidak terlalu fokus membaca setiap halaman yang ia buka karena terbagi dengan bayangan Yayasan yang Bara tawarkan. Bara sudah berangkat bekerja sejak tadi. Tidak ada pembicaraan berarti yang mereka lakukan saat sarapan bersama. Hubungan mereka kembali mundur ketitik awal pernikahan tapi itu mungkin lebih baik bagi Ika. Bara dengan mode banyak bicara padanya membuat perasaan Ika semakin menjadi padanya. terkadang Ika merasa Bara memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi buru - buru ditepisnya agar tidak semakin terlena dengan status mereka. Perasaan suka memang tidak bisa dicegah begitu saja tapi Ika yakin masih bisa mengontrolnya dengan baik. *** Bara memainkan ponselnya dengan memutar benda persegi tersebut diatas meja kerjanya. Kebiasaan unfaedah yang sering ia lakukan saat sedang banyak fikiran. Penolakan Ika yang paling mengganggunya. Niat hatinya ingin menolong Ika dan mendekatkan hubungan mereka dengan terlibat didalam kegiatan yang sama. Setidaknya ada bahan pembicaraan mereka saat berdua. Tidak seperti biasanya yang kesulitan untuk membuka pembicaraan diantara mereka. Bara sebenarnya percaya kalau Ika tidak sedingin yang terlihat diluar tapi sepertinya Ika sengaja menjaga jarak diantara mereka. Bukan salah Ika juga, Bara sendiri yang sedari awal memberikan batas dalam rumah tangga mereka. Lamunan Bara buyar oleh kedatangan Karin yang membawa makan siang untuk mereka. Biasanya Bara akan senang melihatnya. Hatinya akan menghangat begitu menyadari ada seorang wanita yang mau merepotkan diri untuk menyiapkan makan siang untuknya. namun sekarang telah berubah, sebenarnya tidak serta merta berubah juga tapi seiring dengan berjalannya waktu karena setiap membawa makanan ke tempat kerjanya, Karin akan meminta imbalan tersirat dengan menemaninya berbelanja ke tempat yang ia inginkan. Belum lagi semua makanan yang ia bawa selalu berasal dari rumah makan dan restorant. Tidak pernah hasil tangannya sendiri. Tentu saja tidak jadi spesial baginya karena tanpa Karin pun, Bara bisa memesan menu yang sama lewat aplikasi online. " Sayang ... " Panggil Karin melihat wajah datar sang kekasih. tidak ada senyum manis yang menyambutnya disana. " Kamu kenapa ? " tanyanya kemudian. " tidak senang melihat aku datang ? " Kenapa harus bertanya jika tahu jawabannya. " apa aku pulang saja ?" tanya Karin merajuk. Bara tidak memberikan reaksi atas rajukan Karin karena dirinya belum memberikan atensi sepenuhnya pada kedatangan Karin. Fikirannya masih berada dirumah. Pada Ika lebih tepatnya. " Yang ! kamu melamun ya ? " tanya Karin setengah membentak. Bara yang kaget langsung mengetatkan rahangnya menahan emosi. Bara paling benci dengan orang yang membentaknya. Kalau bisa ngomong pelan kenapa harus teriak. " aku sudah ngomong pelan, kamunya saja yang tidak dengar " ucap Karin membela diri. Bisa dilihatnya perubahan emosi diwajah sang kekasih. Karin tidak mau sampai dimarahi oleh Bara. Jika Bara tidak melamun Karin juga tidak akan meninggikan nada bicaranya. " mau apa kamu kesini ?" tanya Bara. " makan bareng, kamu pasti belum makan kan ? " tanyanya dengan nada lembut merayu. " aku bawain makanan kesukaan kamu " " dari restorant mana ?" Karin merengut mendengar pertanyaan sarkas Bara. " tempat kita biasa makan, kamukan suka sekali sama menu yang disana " Sebelumnya Bara memang suka, sekarang masakan Ika terasa lebih enak dilidahnya. Bara ingat dahulu sekali neneknya pernah berkata kepada tantenya yang masih muda bahwa jika wanita ingin memenangkan hati pria harus dimulai dari perutnya. Kalau pria sudah menyukai dan puas dengan masakan sang wanita pasti akan lebih mudah menawan hatinya. Bara kecil masih tidak mengerti maksud dari perkataan neneknya. Baginya rasa masakan sama saja. setiap orang tuanya berganti restoran saat makan malam keluarga terasa selalu enak dilidahnya. tapi tidak bisa ia pungkiri kalau papanya selalu bersemangat setiap kali menyantap hidangan yang dimasak oleh mamanya. tak bisa disangkal lagi darah Ginanjar wirama mengalir ditubuhnya. Bara yang biasanya menganggap papanya kolot berubah mengikuti cara sang papa dalam menilai seorang wanita. " kamu sedang ada masalah ya ? dari tadi diam saja seakan aku tidak ada " keluh Karin. " Iya ... masalah kerjaan " jawab Bara berbohong. Karin mengangguk memaklumi. Pacarnya adalah orang penting diperusahaannya sudah barang tentu punya banyak hal yang harus ia fikirkan. Karin mengerti dengan kondisi Bara tapi ia tidak mau ikut repot memikirkannya. Bukan urusannya juga. Karin hanya perlu Bara yang selalu mencintainya sehingga selalu menopang semua kebutuhan dirinya. Karin berhak mendapatkannya karena Karin juga sudah melakukan hal yang diinginkan oleh Bara selama ini. tbc antique : Hallo... Masih adakah yang membaca cerita ini ??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN