Bab 10

746 Kata
Bara dan Ika duduk berhadapan. Ponsel Ika yang sempat disita oleh Bara terletak diatas meja dihadapan mereka. " Ini aku kembalikan lagi " ucap Bara ," Nomor pria itu sudah aku blokir dan hapus ". Bara berkata jujur untuk melihat reaksi Ika terhadap apa yang sudah ia lakukan. Bara bahkan sudah menyiapkan diri menerima amukan Ika. Namun Ika hanya menatapnya datar, Tidak sesuai dengan ekspektasinya sama sekali. Setelah sebelumnya dibuat terheran - heran dengan kelakuan baiknya sekarang semakin takjub dengan pengendalian dirinya yang berada diatas rata - rata wanita pada umumnya. dibanding Karin lebih tepatnya, bisik hati kecil Bara. " Apa perlunya kamu melakukan hal seperti itu? " tanya Ika kelewat biasa ," Kalau memang kamu tidak suka aku bekerja disana, cukup dengan melarangku saja. Kenapa malah menyibukkan diri sendiri ? " " Aku sudah melarangmu tapi kamu tetap memaksa " jawab Bara berusaha tidak meninggikan suaranya karena Ika juga berkata dengan cukup pelan. " Kamu tidak menjelaskan alasan yang masuk akal " " Aku sudah berbicara panjang lebar! " Bantah Bara mulai meninggi. " Sudahlah, aku juga sudah tidak mau tahu apa masalah kamu dengan kak Ezra, tidak penting juga. tapi setidaknya kamu memberikan aku kesempatan untuk mengatakan kalau aku tidak jadi bekerja disana. setelah apa yang dia usahakan rasanya tidak pantas kalau aku menghilang begitu saja " " Aku sudah jawab pesannya jadi tidak bisa dianggap kalau kamu menghilang begitu saja. tapi andai dia beranggapan seperti itu juga lebih baik " Ika menahan dirinya lagi, jangan terpancing Ika ... emosi hanya akan menguras energimu saja! " Baiklah, Mari kita lupakan kejadian tadi pagi seolah tidak pernah terjadi sebelumnya. Nanti saat aku akan melamar pekerjaan lagi, aku berjanji akan memberitahu kamu terlebih dahulu agar tidak terjadi lagi kejadian serupa " Bara benar - benar takjub dengan kompromi yang Ika berikan padanya. Bagaimana Ika bisa berubah jadi begitu legowo dalam waktu yang relatif singkat. Apa Ika sedang merencanakan sesuatu yang buruk padanya ? Sayangnya, Bara tidak melihat ada kepura - puraan dalam diri Ika. " Soal kerjaan yang kamu mau, aku bisa berikan " " Benarkah ? " tanya Ika antusias. Bara mengangguk ," Aku dan teman - temanku akan mendirikan Yayasan kamu bisa bekerja disana " Raut antusias diwajah Ika seketika redup mendengarnya. " Meski tidak banyak, kamu akan tetap digaji secara profesional nantinya " jelas Bara. " Apa tidak ada pekerjaan lain ? " " Kamu menolak karena mencari pekerjaan yang bergaji besar? " Ika menggeleng ," Aku mencari kerja untuk jangka waktu lama ." " Kamu bisa bekerja lama jika kalian para pengurus bisa mengurus Yayasan dengan baik dan benar. Lagipula dengan bekerja disana kamu punya kesempatan menolong orang banyak. " Jelas Bara meyakinkan. Perkataan Bara memang benar tapi membuat Ika ingin meneriakinya bodoh. " Aku yang akan jadi penyandang dananya, jadi kamu pastikan saja bisa berjalan dengan baik " memang bodoh! " Aku mencari pekerjaan yang berkelangsungan bukan untuk sementara waktu saja " " Sepertinya kamu tidak yakin dengan kemampuan dirimu sendiri " ucap Bara berdecak. Ika berdecih ," Kamu yang tidak punya perhitungan yang akurat! " tuduh Ika membuat Bara merasa diremehkan. Enak saja Ika menuduhnya tidak punya perhitungan. Walaupun untuk kegiatan amal tapi Bara punya perhitungan sistematis dan ekonomis didalamnya. Bukan untuk mencari keuntungan buat diri pribadi tapi demi kelangsungan Yayasan itu sendiri. Agar semakin banyak kebaikan yang bisa mereka tebar lewat Yayasan tersebut. Sebagai Pemilik perusahaan, Bara memang sudah sangat akrab dengan berbagai Yayasan yang di kelolanya. Baik atas nama perusahaan, Keluarga ataupun yang rutin disantuninya saja. " Kamu tidak lupa dengan tenggang waktu pernikahan kitakan ? " Pertanyaan Ika menyentil kesadaran Bara. Ternyata Bara sudah melupakan sesuatu yang esensial dalam hubungan mereka. Ika benar. Bara memang lupa dengan masa berlakunya pernikahan mereka. Kehadiran Ika melenakan perasaan Bara. Bara tidak bisa memungkiri jika ia menikmati kehadiran Ika dihidupnya. Meski dalam waktu yang relatif sebentar tapi mampu menyita perhatiannya. Hari demi hari seakan pesona Ika kian melingkupinya. Dan anehnya Bara tidak ingin menolaknya. Pernah juga fikirannya terusik dengan kenyataan mereka yang tidur terpisah. Menyesali dirinya yang memberi ide untuk pisah kamar karena ia tidak ingin terlibat secara perasaan lebih jauh dengan Ika. Apa gunanya mereka pisah kamar kalau sekarang saja Ika sudah masuk kedalam fikirannya. Rencana Bara untuk menceraikan Ika tampaknya akan ia tunda dulu sampai ia memastikan perasaannya yang sebenarnya. Bara takut apa yang ia rasakan hanya euforia semata. Meninggalkan Karin juga tidak mungkin Bara lakukan dengan segera. Bara merasa kasihan dengan nasib Karin jika sampai ia tinggalkan. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN