Bara memasuki rumah tepat pukul tujuh malam. Dengan menenteng sebuah plastik berlogo rumah makan ternama ia berjalan menuju ruang makan untuk meletakkan bawaannya disana. Hidangan untuknya makan malam sudah tersedia seperti biasanya. ternyata meski dalam kondisi bersedih, Ika masih bersedia memasak untuknya. Jujur saja membuat perasaan Bara jadi tersentuh. Padahal Bara sudah mengira Ika akan mogok masak, makanya ia sengaja mampir membeli makanan untuk mereka makan malam.
Bara tidak bisa memungkiri kalau kemampuan Ika dalam hal memasak dan mengurus rumah sangat dinikmatinya. Memang begitu wanita ideal dalam bayangannya selama ini. Pekerjaan rumah tangga lainnya boleh dikerjakan oleh orang lain tapi khusus memasak Bara mau dilakukan oleh isterinya sendiri. Tidak harus setiap hari juga, kadang kala boleh dilakukan oleh orang lain tapi tetap dengan rules dari isterinya.
Namun, tentu saja tidak semua wanita suka dan bisa memasak. Karin contohnya. Entah karena masih muda atau memang tidak suka sehingga membuatnya tidak punya ketertarikan sama sekali. Hidupnya lumayan hedon selama ini. Urusan makan maunya di restoran dan hotel berbintang. Tidak masalah juga bagi Bara yang memang mampu untuk membiayai gaya hidup seperti itu. Tidak apa - apa Karin tidak mau masak untuk saat ini yang penting dia bisa menyenangkan Bara dalam hal lainnya. Nanti suatu saat akan tiba masanya Karin mau berubah demi kebahagiaan Bara. Begitulah keyakinan Bara selama ini. Banyak wanita disekeliling Bara yang berubah menjadi lebih baik setelah menikah.
Itu sebelum Ika menjadi isterinya, sekarang setelah melihat sosok wanita idealnya ada dalam diri Ika sukses membuat Bara gamang jadinya.
Mereka memang belum terlalu lama bersama, namun semua hal yang dilakukan oleh Ika terasa pas dihatinya. Cara Ika menata dan memilih peralatan dapur dan rumah saja bisa membuatnya merasa klik dengan pilihannya.
Bara tidak tahu kenapa bisa begitu cepat terpengaruh dengan keberadaan Ika disisinya. Hatinya terlalu mudah goyah dan condong pada wanita itu tapi Bara sadar tidak bisa serta merta menerima Ika dan mencampakkan Karin begitu saja. Bara bukanlah laki - laki b******k yang mudah menyakiti orang lain apalagi orang terdekatnya.
Karin sudah menjadi sumber kebahagiaannya selama ini. Karin juga sudah dengan sabar menantinya meski orang tua Bara tidak kunjung merestui. Karin sudah terbukti setia disisinya sedangkan Ika belum teruji. Sekarang saja sudah ada indikasi Ika memiliki pria lain. Bara tidak bisa menerima penghianatan dalam bentuk apapun.
" Kamu sudah pulang ? " tanya Ika mengusik lamunan Bara.
Bara menatap Ika penuh selidik. Tampilan wajah Ika kelewat biasa dibanding tadi pagi. Seolah ia tidak pernah berteriak dan menangis sebelumnya.
" Kamu beli apa itu ? " Ika kembali bertanya walau pertanyaan sebelumnya tidak dijawab oleh Bara.
" Rendang " jawab Bara sambil menggesernya ke arah Ika.
Ika meraihnya dan segera membuka bungkusan makanan kesukaannya tersebut.
" Boleh minta gak ? " tanyanya menatap Bara penuh harap. Ika memang sudah lapar sejak tadi karena melewatkan jam makan siangnya. Bara terlalu bingung untuk bersuara. Kenapa juga Ika masih terus bertanya dan meminta izin padanya. Sepertinya wanita ini perlu diberitahu betapa seorang Bara alaric wirama sangat royal pada orang sekitarnya. Akhirnya Bara mengangguk sekali saja sebagai jawaban pertanyaan Ika. Ika tersenyum senang melihat anggukan dari Bara.
Ika berlalu kedapur untuk mengambil piring untuk dirinya sendiri karena sebelumnya hanya menyiapkan piring untuk Bara saja. Bara sudah bersiap akan makan saat celetukan Ika menghentikan niatnya yang akan menyendok nasi ke piring.
" Kamu nggak mandi dulu ? "
Bara memandangi badannya, baru menyadari belum mandi dan berganti baju.
" Kamu jangan makan dulu ya, tungguin aku mandi sebentar " ucapnya seraya berlalu.
Ika terpaku mendengar ucapan Bara yang memintanya untuk makan bersama. Sebelumnya Bara tidak pernah seperti itu.
Aneh,
Bosan menangis, Ika memutuskan untuk tidur dan mengistirahatkan badan dan fikirannya.
Lewat tengah hari barulah Ika bangun dan mandi berendam.
Tidak ada gunanya terus bersedih dan meratapi nasib. Lebih baik ia menghadapinya saja. Ika harus mengikhlaskan pekerjaan yang sudah didepan matanya. Hidupnya akan terus berjalan dan Ika berjanji untuk mencari pekerjaan baru. Semoga nantinya ia mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan Bara. Permintaan Ika tidak pernah muluk - muluk, Ia akan menjalani saja takdir yang sudah digariskan padanya. Selagi Bara masih mau menafkahinya, selama itu Ika tidak boleh mengeluh dan menyalahkan nasibnya.
Setelah mampu membenahi emosinya Ikapun kembali kerutinitas awalnya.
Dengan mood yang lebih baik, Ika memasak untuk makan malam mereka.
Bara tersenyum menyadari Ika belum makan karena menunggu dirinya. Tidak ada yang spesial dengan apa yang dilakukan oleh Ika karena cuma menuruti permintaannya saja, tapi tetap membuatnya senang.
Mereka makan dalam diam, tidak ada topik yang bisa dibahas untuk mencairkan suasana atau juga mereka memang tidak sedekat itu sampai bisa membicarakan hal - hal remeh sambil makan. Pada dasarnya mereka masih dua orang asing yang berusaha saling mendekatkan diri.
Selesai makan Bara membantu Ika membersihkan meja dan mencuci perkakas bekas mereka makan. Hal sepele yang juga ingin dilakukan oleh Bara saat ia menjadi suami. Dalam berhubungan dengan orang lain Bara adalah orang yang sangat sederhana dan berkesadaran tinggi. Hanya pekerjaan yang menuntutnya menjadi pribadi yang rumit dan ekslusif. Sehingga Bara terlihat memiliki kepribadian yang berbeda, tergantung dimana ia berada.
Ika yang tidak punya gambaran tentang pernikahan dan suami yang ideal merasa apa yang dilakukan oleh Bara mampu menyentuh perasaannya. sehingga tanpa sadar membuat bibirnya tersenyum.
tbc