“Apa kau yakin tidak ingin memberitahu Collin cerita yang sebenarnya? Menurutku dia berhak tahu mengenai apa yang telah terjadi,” ujarku menatap Mike yang kini duduk di sisi tempat tidur. Ini merupakan topik pembicaraan terhangat kami belakangan karena sejak beberapa waktu lalu, menurut Ronald waktu switching antara Collin dan makhluk tak bernama itu semakin memiliki jeda yang panjang. Jadi kami bisa mengajak Collin mengobrol lebih lama sebelum makhluk itu menarik paksa Collin dari mode sadarnya dan mengacaukan pembicaraan kami. “Aku takut melukai perasaanya,” ujar Mike sambil mengusap kepalaku. “Dia bisa saja merasa sangat bersalah, kemudian tertekan dan akhirnya melemah. Membuat makhluk itu memiliki kesempatan lebih besar lagi untuk menguasai tubuhnya.” Kuraih jemari Mike dan memaink

