Aku memilih untuk makan siang dan makan malam di kamarku hari ini. Sejak kata-kata menyakitkan Mike tadi pagi, aku akan berusaha untuk menghindar darinya.
Besok aku juga akan sarapan di kamar saja, pikirku. Setelah akhirnya pelayan mengambil kembali piring makan malamku, aku segera mengunci pintu kamar dan naik ke tempat tidur. Aku bersyukur bahwa tidak seorang pun menggeser rak buku yang kemarin kupindahkan untuk menutupi pintu tembusan, jadi aku tidak perlu khawatir Mike akan muncul di kamarku malam ini.
Bagaimana kalau ia masuk dengan kunci cadangan? Tentu saja ia memilikinya. Aku menjadi gelisah memikirkan hal itu. Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Aku masih marah. Ya, sangat marah. Aku tidak punya ide mengenai kata-kata apa yang akan kulontarkan bila bertemu dengannya lagi. Tapi aku juga tergelitik untuk mengetahui bagaimana sikapnya padaku setelah kejadian tadi pagi.
Akankah ia membujukku juga dengan setangkai bunga seperti yang dilakukan tuan Carter tadi pagi? Kurasa tidak mungkin. Tuan keji seperti Mike tentu saja tidak akan mungkin berbuat romantis seperti itu. Ataukah ia akan muncul dan meminta maaf karena menyesali kata-katanya? Tentu saja ini lebih mustahil. Aku yakin Mike tidak pernah mengucapkan kata maaf sepanjang hidupnya.
Lantas apa yang aku harapkan? Kenapa aku malah sibuk memikirkannya? Perasaan aneh yang kurasakan ini belakang sering sekali muncul. Aku benci merasakannya.
***
Sudah tiga hari aku tidak bertemu Mike. Ia pasti tahu aku sedang tidak ingin bertemu dengannya, maka dari itu ia memang tidak muncul untuk menemuiku. Para pelayan terus saja mengantarkan makanan ke kamarku karena aku tidak pernah turun ke ruang makan lagi sejak saat itu. Saat menghubungi kakakku dengan telepon yang ada di ruang kerja Mike karena ponselku tertinggal di rumah sejak kejadian pernikahan dadakan lalu, aku malah mendapat nasihat darinya untuk berhenti membuat suamiku itu kesal. Sebenarnya siapa adiknya saat ini? Maksud ingin mengadu, malah aku yang disalahkan.
Aku mengunjungi tuan Carter seperti biasa setelah mengacau sebentar di dapur, kemudian kembali ke kamar. Terus saja seperti itu setiap harinya. Duduk manis seperti yang diharapkan Mike.
Tadi pagi saat mengantarkan sarapan, aku mendengar berita dari pelayan bahwa seseorang dengan sengaja telah menggantungkan bangkai kucing di pintu dapur dan membuat Rosie yang biasa tiba di dapur lebih awal terpekik hingga nyaris saja pingsan. Membuatku teringat akan kucing tuan Carter, Rover. Setelah sarapan aku segera mengunjungi pondoknya. Sungguh melegakan rasanya ketika melihat sendiri Rover berlari-lari di atas rumput saat aku berjalan menuju ke arah pondok. Kucing itu masih hidup. Kucing yang disebut-sebut tadi entah berasal dari mana, tidak ada yang mengaku memeliharanya. Yang malah menjadi perbincangan hangat ternyata adalah siapa pelakunya dan apa motifnya.
Aku pun juga ikut bertanya-tanya, kerjaan siapa yang dengan tega membunuh seekor kucing tak berdosa dan menggantungnya di pintu dapur. Apakah itu hanya sekedar main-main? Sungguh keterlaluan. Jika aku sedang tidak libur bicara dengan Mike, mungkin akan langsung kutanyakan padanya mengenai hal ini. Ini masalah serius, pelakunya harus segera ditangkap. Jika memang ini lelucon, tetap saja sungguh keterlaluan.
Rasa penasaranku juga bertambah dengan kejadian yang terjadi dua malam yang lalu. Aku kembali mendengar suara jeritan. Sedikit menakutkan tapi membuatku malah menajamkan telinga untuk mendengar dengan jelas dari mana asal suara itu. Terdengar seperti dari arah sayap barat. Ya, mungkin memang dari sana. Jelas sekali ada sesuatu di sana karena Mike melarang keras agar aku tidak mengunjungi tempat itu. Membuatku bertekad untuk menyelidiki sendiri semuanya.
Saat ini pukul dua siang, kupikir seluruh pelayan pasti sedang beristirahat. Melihat lorong-lorong yang kulewati sangat sepi, membuatku sedikit lega karena tidak akan ada yang menghalangiku menuju tempat itu. Dengan langkah pelan-pelan, aku berlagak seperti biasa dan berjalan menuruni tangga.
Aku berhasil tiba dengan selamat di sisi barat mansion tanpa ada yang menghentikanku. Sedikit hati-hati, aku melirik ke belakang. Tidak ada pelayan, semua sepi. Merasa aman, dengan lega aku berjalan menaiki tangga.
Sayap barat ini kurang lebih sama seperti sayap timur, hanya saja lebih berdebu dan kurang terawat. Dindingnya dipenuhi lukisan dan ada beberapa perabot kayu, bunga-bunga plastik yang diletakkan di dalam sebuah vas porselen, serta patung manusia. Juga ada beberapa lampu yang di tempel di dinding.
Aku berjalan menyusuri lorong yang terlihat sudah tidak asing karena hampir semuanya sama persis dengan yang ada di sayap timur. Tetapi ada satu yang berbeda. Di belokan sebelah kanan, di bagian paling ujung ada sebuah pintu kayu besar dengan ukiran unik yang menarik perhatianku.
Dengan penuh rasa ingin tahu, aku berjalan menuju pintu itu dan berharap pintu tersebut terkunci saja agar aku tidak berjalan terlalu jauh mengikuti keinginan isi kepalaku. Tapi entah karena beruntung atau memang sebenarnya tidak pernah terkunci, dengan mudah aku bisa membukanya.
Di dalamnya ada sebuah sofa panjang berwarna putih, dengan bantal-bantal kecil di atasnya dan sebuah meja kaca bundar di depannya. Sofa itu di letakkan di sudut ruangan dekat perapian. Di belakangnya, ada empat buah jendela dengan kaca mozaik, dua untuk masing-masing sisi.
Aku melangkah masuk ke ruangan itu. Rasanya sedikit berbeda dengan ruang-ruang lain di dalam mansion ini. Hawa ruangan ini agak sedikit membuatku takut. Di sebelah kiri terpapar sebuah tirai tebal penutup dinding dengan motif hewan dan manusai setinggi lantai berwarna hijau gelap, yang membuatku penasaran sekali ingin menyibak dan menemukan apa yang ada di baliknya. Di sisi lainnya, terdapat sebuah meja dengan beberapa pigura-pigura kecil berwarna perak, vas bunga, dan tempat lilin di atasnya.
Tepat di dinding bagian atas meja itu, ada sebuah lukisan besar seorang wanita cantik bergaun putih. Aku merasa familiar dengan wajahnya, tapi tidak tahu itu siapa.
Foto yang ada di dalam pigura di atas meja ternyata lebih menarik perhatianku. Seorang anak laki-laki kecil berambut coklat, dengan mata berwarna toska terlihat sedang berlari di atas hamparan rumput setinggi mata kaki. Tangannya memegang sebuah layangan berukuran sedang dengan lonceng emas yang terikat diujungnya. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Bocah ini tampak seperti Mike.
Dalam pigura lainnya, ada seorang anak laki-laki kecil dengan rambut pirang keemasan, bermata biru laut dan berwajah pucat sedang duduk di… di ruangan ini. Aku tahu itu karena bagian belakangnya persis seperti sudut yang ada di belakang sofa di dalam ruangan ini, empat buah jendela berkaca mozaik dengan pola khas yang hanya ada di tempat ini. Wajah bocah itu terlihat lesu. Pandangan matanya menyiratkan bahwa ia tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi. Berbeda dengan bocah satunya yang terlihat sangat bahagia, pancaran mata dari bocah dalam pigura ini benar-benar menyayat hati. Siapa anak ini?
Aku kemudian melirik pigura lainnya yang berukuran lebih kecil. Seorang gadis kecil berambut ikal panjang, pirang keemasan seperti bocah sebelumnya, dan mengenakan gaun biru selutut tengah tersenyum sambil duduk di sebuah ayunan. Sebuah boneka kelinci berwarna putih ada di pangkuannya. Senyumnya sangat manis, membuatku yang merasa sedih melihat bocah sebelumnya akhirnya ikut senyum.
Bocah pertama tadi pastilah Mike, lalu kedua bocah berikutnya adalah saudaranya. Gadis kecil ini pasti adik kecil Mike yang tenggelam di danau seperti yang diceritakan Annabelle saat itu. Tapi siapa bocah pirang yang satu lagi?
Aku memutar tubuh untuk mengeksplorasi ruangan ini lebih jauh. Tapi mataku menangkap sebuah boneka kelinci kecil yang sudah kumal duduk di atas sebuah bantalan sofa. Aku yakin sekali saat masuk tadi boneka itu tidak ada di sana.
Seseorang telah meletakkannya di tempat itu.
Sepersekian detik aku tertegun. Apakah arti perasaan tak enak yang kurasakan sejak awal tadi adalah bahwa aku memang tidak sendirian di ruangan ini. Tapi siapa? Kalau pelayan rumah ini, pasti aku sudah dimarahi sedari tadi. Dan kalau pun itu Mike, aku yakin dia akan melakukan hal yang sama.
Bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Aku mulai merasakan lagi sepasang mata yang mengawasi gerak-gerikku. Jelas ia tahu aku sedang panik. Dan aku tahu dengan pasti itu adalah tatapan yang sama dengan tatapan yang kurasakan saat pertama kali datang ke mansion ini dahulu. Tapi dimana? Dan siapa pemilik sepasang mata itu? Mike juga memiliki tatapan sadis, tapi bukan seperti yang satu ini. Yang kurasakan ini adalah sorot mata yang seperti ingin menggorok leherku.
Tidak ingin berlama-lama, aku segera berlari menuju pintu keluar. Saat melewati tirai tebal yang menggantung di dinding kulihat ujung sebuah belati perak di baliknya.
Seseorang sedang bersembunyi di sana!
Aku punya firasat buruk soal ini. Jika ada yang mengancam nyawamu, kau pasti akan mendapat firasat akan hal itu, dan itu terjadi padaku sekarang. Tidak ingin mengambil resiko dengan berbalik untuk memeriksa, aku langsung berlari keluar dan terus berlari menyusuri lorong sayap barat ini. Kudengar sepasang langkah kaki mengikutiku di belakang. Aku berusaha untuk menoleh, akan tetapi leherku tidak mau dibelokkan.
Aku merutuki ketololanku dengan mengabaikan larangan Mike. Langkah kaki itu semakin mendekat, sementara aku semakin mempercepat lariku. Mengapa lorong ini terasa lebih panjang dari sebelumnya? Dan sejak kapan lampu-lampu di dinding ini hidup? Aku tahu ini bukanlah sebuah candaan, maka aku terus berlari sekencang yang aku bisa. Peluh sudah mulai memenuhi dahiku.
Aku melihat tangga yang tadi kulewati, merasa sedikit bersyukur bahwa aku sudah dekat dengan lantai dasar. Kakiku terasa sangat sakit, aku tahu pasti lecet. Kumohon... seorang pelayan ataupun nyonya Robinson mucul saja dan marahi aku yang sudah bertindak bodoh ini. Aku berbelok dan melihat sekelebat bayangan hitam dengan kilauan cahaya dari sebuah plat besi memantul ke arahku.
Belati tadi! Tidak salah lagi. Bergegas sekuat tenaga kugerakkan kaki menuruni tangga, lebih cepat dan lebih cepat. Semoga aku tidak tersandung dan terjatuh. Mike, maafkan atas ketololanku.
Akhirnya aku berhasil menginjak lantai dasar dan langsung berjalan keluar dari lorong sayap barat. Kenapa tidak ada seorang pelayan pun? Dadaku mulai terasa sesak. Aku terus berlari melewati hall yang sepi dan masuk ke lorong sayap timur. Kuinjakkan kaki pada anak tangga dan melangkah dengan cepat, membuatku nyaris saja terguling pada salah satunya.
Hingga akhirnya aku berhasil berada di lantai dua. Satu belokan lagi di depan aku akan tiba di kamar. Aku pun terus melangkah tanpa mengurangi kecepatan. Tapi tiba-tiba dari arah samping kiri sebuah lengan kokoh menarikku, menghentikan langkahku. Membuatku berteriak sangat kencang.
Kurasa aku harus siap untuk merasakan tajamnya sebuah mata pisau mengiris leherku. Pasrah, aku pun menutup mata dan mengucapkan selamat tinggal pada semuanya.