Chapter 8a

1194 Kata
Pagi harinya, lagi-lagi untuk kali kesekian aku terbangun sendirian di tempat tidur. Mike pasti kembali ke kamarnya semalam. Dengan malas, aku melangkah turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah akhirnya menyelesaikan ritual pagi, tepat saat selesai menyisir rambut di meja rias, terdengar ketukan di pintu dan Jane melangkah masuk. “Selamat pagi, Nyonya. Sarapan sudah siap,” katanya sambil membungkuk. Sarapan sudah siap? Kali ini ia muncul dengan mengatakan sarapan sudah siap, bukan membawakan nampan berisi makanan untukku. Itu berarti aku sudah diizinkan keluar kamar dan pergi ke ruang makan bukan? “Apakah sarapan itu diletakkan di atas meja di ruang makan?” tanyaku dengan t***l. “Tentu saja, Nyonya,” jawabnya sambil tersenyum melihatku yang tampak berbinar dengan kabar yang dibawakannya itu. Dengan perasaan senang aku segera melangkahkan kaki menuju ruang makan. Ternyata di sana Mike telah lebih dulu menyantap sarapannya. Aku duduk di kursiku dan mulai menyantap makananku. “Hmmm... Mike, terimakasih telah mengizinkanku keluar kamar,” kataku menatapnya sambil tersenyum. Mike melirikku sekilas lalu kembali fokus pada makanannya. “Bukan apa-apa,” jawabnya datar. “Jika kau berbuat sesuatu yang membuatku kesal lagi, jangan coba-coba untuk memprotes bila aku mengurungmu untuk kedua kalinya.” Oh, dia kembali menjadi Mike yang menyebalkan. Kemana perginya Mike yang hangat semalam? Pria ini benar-benar hebat, mendadak bersikap manis dan berubah menjadi kejam dalam hitungan jam. Aku bertanya-tanya apa lagi yang telah kuperbuat pagi ini hingga merusak suasana hatinya. “Aku tidak akan membuatmu kesal lagi,” kataku mengalah. Tidak ingin mengawali pagi dengan sebuah perdebatan panjang. “Bagus.” Ia lalu menyesap kopi dari gelas yang ada di hadapannya. “Ngomong-ngomong,” kataku yang membuat mata toska Mike mengintip di balik gelas dan menatap ke arahku. “Apa kau mengenal seorang pelayan yang bernama Annabelle?” Mike meletakkan gelasnya kembali. “Di sini ada begitu banyak pelayan, dan itu bukan tugasku untuk mengingat nama mereka satu per satu,” jawabnya dingin. Aku berhenti makan dan meletakkan kedua lenganku di atas meja, memajukan duduk sambil menatap Mike antusias. “Aku sudah bertanya hampir ke seluruh pelayan tapi tidak seorang pun yang mengenalinya.” Ia menarik nafas panjang dan menatapku lelah, seolah berbicara denganku bagaikan mendaki sebuah gunung. “Jadi apa masalahmu dengan pelayan itu?” tanyanya terlihat tidak tertarik. “Tidak ada. Aku hanya penasaran dengannya. Ia berjanji akan mengajariku membuat sebuah roti sebelum kau mengurungku di kamar kemarin.” Kutatap lurus mata dingin Mike dengan berani. “Jadi?” Ia membalas tatapanku dengan tajam. “Karena hari itu kau mengurungku, aku gagal bertemu dengannya. Saat ini karena tidak ada pelayan yang mengenalinya sulit bagiku untuk bertemu lagi dengannya.” “Jika kau ingin belajar membuat roti, kau bisa bertanya pada Gloria. Atau bila kau merasa tidak puas, aku akan mendatangkan koki khusus untuk mengajarimu,” ujarnya lalu mengelap pinggir bibirnya dengan serbet. “Aku tidak perlu koki khusus, aku hanya ingin bertemu lagi dengan gadis itu,” ucapku jujur. “Oh, apa yang telah diperbuat pelayan itu sehingga kau begitu ingin bertemu lagi dengannya?” “Aku merasa seperti memiliki teman jika berbicara dengannya. Sejak kau membawaku ke sini, aku hanya menghabiskan hari-hari dengan kegiatan yang membosankan. Aku bahkan tidak punya teman.” “Bukannya kau memang terbiasa mengurung diri sendirian dan menjauh dari peradaban?” “Dari mana kau tahu itu?” Sebelumnya aku memang tidak suka keluar rumah dan hanya menghabiskan waktu mengurung diri dengan buku dan menonton serial favoritku. Tapi itu dulu, sebelum ia muncul dan merusak segalanya. “Aku berbicara banyak dengan kakakmu,” jawabnya datar. “Jadi karena itu kau sengaja mengurungku?” “Tidak juga.” “Itu berbeda. Di sana adalah rumahku, tapi di sini aku harus beradaptasi lebih dulu. Dan aku tidak punya apa-apa untuk dikerjakan,” kataku sedih. “Kau ingat, aku telah membelimu. Kau seharusnya merasa bersyukur karena aku tidak memberimu tugas apapun, kau hanya tinggal duduk manis dan menjadi istri yang baik.” Aku tersentak mendengar kata-katanya barusan. Itu melukaiku. “Menjadi istri yang baik ya?” Aku ingin sekali melemparkan garpu ke arahnya. “Menjadi istri yang baik seperti apa? Kau bahkan tidak mengizinkanku menginjakkan kaki ke dalam kamarmu. Kau bahkan tidak tidur di kamarku. Kau hanya muncul ketika merasa perlu untuk dipuaskan saja,” balasku penuh emosi. Ia hanya diam menatapku tanpa ekspresi. “Jadi begitukah istri yang baik menurutmu? Hanya seorang pemuas nafsu?” Aku berdiri dari tempat dudukku. Mike hanya menatapku dengan mata dinginnya sambil bersandar di punggung kursi makan. “Aku tahu kau telah membeliku dengan paksa dan menjauhkanku dari segala yang kupunya. Tapi bisakah kau sedikit saja memperlakukanku selayaknya manusia, bukan hanya peliharaan yang bisa kau perintah semaumu,” ucapku dengan suara bergetar. “Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kakakku, dan kau telah memisahkanku dengannya. Setidaknya bisakah kau memperlakukanku dengan baik?” Mike tetap diam dalam duduknya. “Aku hanya berbincang-bincang dengan seseorang yang kuanggap sebagai teman dan kau mengurungku selama satu minggu hanya karena aku menghilang beberapa jam dari sangkarku.” Air mataku sudah menggenang sekarang. “Begitukah istri yang baik menurutmu?” Mike tetap tidak merespon sedikit pun. Aku benar-benar kesal. “Baiklah jika itu maumu.” Susah payah kutahan isakan yang tersangkut di tenggorokan. “Terimakasih telah mengingatkan.” Segera aku berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Kupikir Mike sudah mulai membuka diri untukku. Kupikir aku sudah bisa berdamai dengan diriku sendiri dan menerima nasib. Aku sudah berusaha untuk bersikap baik sebagai seorang istri, tapi apa yang dikatakannya barusan? Aku telah dibeli olehnya? Ya, dia memang benar. Aku hanyalah sesuatu yang telah dibelinya dan pantas diperlakukan semaunya. Tanpa kusadari, air mata yang sekuat tenaga kutahan sedari tadi akhirnya tumpah juga. Hatiku sakit.  Kupikir aku tidak pernah menangis lagi sejak kematian orangtuaku. Tapi hari ini, dia, pria yang membeliku dengan paksa, pria yang merebut ciuman pertamaku, pria yang merenggut keperawananku, pria yang membuatku kehilangan kesempatan untuk menikmati manisnya memiliki seorang kekasih, membuatku menangis karena kata-katanya yang menyakitiku. Apa yang aku harapkan? Rasa cinta dan kasih sayang darinya? Sungguh konyol. Aku merutuki diriku sendiri yang begitu t***l karena berharap lebih pada seseorang seperti Mike. Aku terus berjalan sambil sesekali menghapus air mata, hingga akhirnya tanpa kusadari telah tiba di halaman rumah tuan Carter. “Selamat pagi, Nyonya,” sapa tuan Carter ramah seperti biasa. “Oh, apa gerangan yang membuat Nyonya cantik saya ini menitikkan air mata?” tanyanya penuh perhatian. Suara lembut kebapakan yang keluar dari mulut tuan Carter mengingatkanku kembali pada Dad yang dulu sering membujukku ketika menagis karena Rhez. Hal ini malah membuatku semakin sedih dan menagis semakin deras. “Ini untuk Anda.” Tuan Carter menyerahkan setangkai bunga Poppy berwarna merah. “Bunga Poppy adalah bunga pelipur hati,” katanya yang membuat tangisku sedikit terhenti.  Ia berjalan menuju deretan tanaman lainnya lalu menyerahkan setangkai bunga Krisan kuning padaku. “Dan ini untuk melambangkan sebuah kesetiaan dan rasa kesal,” ucapnya sedikit terkekeh. “Master Michael memang sedikit kekanakan,” ujarnya. Tahu persis siapa penyebab tangisku. “Tapi beliau adalah pria yang baik.” Aku merasa senang karena tuan Carter berbaik hati menghiburku. Tapi kata-katanya barusan yang membela Mike malah membuatku merasa kesal. “Kau tahu, dia mengurungku selama satu minggu hanya karena aku ketiduran di loteng. Dan ia menolak untuk bicara denganku. Apakah kau masih ingin menyebutnya pria yang baik?” Pria tua itu terkekeh geli mendengar keluhanku. “Tidakkah Anda lihat ada kekhawatiran di sana, Nyonya?” “Khawatir jika aku kabur dari sini?” “Tentu saja tidak. Bisakah Anda melihatnya dari sisi lain? Saya yakin master Michael khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Anda. Ia hanya kurang pandai mengekspresikannya.” Tuan Carter mengambil penyiram tanaman lalu mulai menyirami bunga-bunga yang ada di hadapan kami. “Bukankah pertengkaran kecil menjadikan kalian menjadi lebih akrab?” Jelas sekali tuan Carter salah paham di sini. Aku sedang tidak bertengkar dengan Mike. Saat ini aku adalah korban, korban kata-kata dan perlakuan kejinya. Akhirnya aku hanya duduk menyaksikan tuan Carter menyirami tanaman sambil melirik bunga-bunga yang ada di tanganku tanpa berkata apa-apa lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN