Chapter 7

1721 Kata
Ini sudah hari ke enam sejak kemarahan tak beralasan Mike ketika aku tertidur di loteng saat itu. Dan sejak hari itu, aku benar-benar tidak diizinkan keluar kamar. Bahkan Mike tidak pernah menemuiku lagi. Para pelayan bergantian mengantarkan sarapan, makan siang, dan makan malam untukku. Aku hanya duduk seharian menatap keluar jendela sambil sesekali membaca buku untuk mencari kesibukan. Mike benar-benar mengurungku. Ini mungkin sudah kali kesekian aku menitipkan pesan kepada para pelayan bahwa aku ingin berbicara dengan Mike, tapi semuanya sia-sia. Banyak yang melaporkan bahwa mereka telah menitipkan pesanku pada nyonya Robinson, sang kepala pelayan yang sekaligus pelayan khusus Mike untuk menyampaikan pesan dariku, tapi tidak menerima kabar apa-apa hingga saat ini. Aku sempat berpikir bahwa nyonya Robinson-lah yang tidak menyampaikan pesan itu pada Mike. Tapi mengingat ia adalah seseorang yang menjunjung tinggi tanggung jawab dan kedisiplinan, sangatlah tidak mungkin bila ia melakukan hal bodoh seperti itu. Jadi aku berkesimpulan bahwa Mike-lah yang benar-benar tidak ingin berbicara denganku. Berkali-kali aku mencoba untuk memprotes perlakuannya yang semena-mena mengurungku di kamar, tapi akhirnya merasa kesal sendiri karena diabaikan. Kemarin sore aku meminta bantuan para pelayan untuk menggeser rak buku sehingga menutupi pintu tembusan antara kamarku dan kamar Mike. Aku masih sedikit berharap bila mengetahui jalan tembusannya diblokir, mungkin Mike akan datang menemuiku dengan marah-marah. Tidak masalah bila ia muncul dan marah-marah lagi. Itu bahkan jauh lebih baik dari pada mengabaikanku dan menolak untuk diajak berbicara. Tapi hingga sore hari ke enam ini ia tetap tak juga kunjung datang, membuatku benar-benar sangat geram. Apa aku harus melompat dari jendela lantai dua ini dan mematahkan kaki agar Mike akhirnya bersedia berbicara denganku? Tentu saja itu bodoh. Mungkin akan kulakukan bila tidak ada pilihan lain lagi yang tersisa. Aku kembali memutar otak untuk mencari cara lainnya. Ide gila lain akhirnya berhasil hinggap dalam kepalaku. Aku akan mogok makan hingga Mike akhirnya datang dan memarahiku. Ide bagus yang patut untuk dicoba. Ketika akhirnya tiba saat makan malam, aku hanya menatap makanan di hadapanku dalam diam. Hingga akhirnya membuat pelayan terkejut saat mereka hendak mengambil piring kotor makan malamku. “Aku tidak akan makan bila Michael tidak mau berbicara padaku dan menjelaskan alasan tololnya mengurung di sini,” tegasku saat mereka bertanya mengapa aku tidak makan sedikit pun. Merasa tidak bisa memaksaku, pelayan tersebut menyerah dan akhirnya pergi keluar. Persis seperti dugaanku, mereka mengadukan hal itu pada kepala pelayan. Tak lama setelahnya, muncullah Jane yang dianggap paling ampuh untuk membujukku, yang pada akhirnya tentu saja juga gagal. Ide bodohku itu tentu saja harus sukses. Meski pun ini kekanakan, tapi aku perlu bicara dengan Mike. Kupikir Mike akan segera muncul setelah gagalnya aksi pembujukan Jane saat itu, tapi lama aku menunggu hingga larut malam, dirinya tak juga kunjung datang. Dengan perut sakit karena lapar, akhirnya setelah mendengar lagi jeritan yang muncul seperti biasa yang entah dari bagian mana mansion ini, aku akhirnya jatuh terlelap. ***   Pagi harinya aku bangun dengan rasa haus yang teramat sangat di kerongkongan. Perutku rasanya tipis sekali karena tidak makan semalaman. Ingin rasanya memanggil pelayan untuk membawakanku minum, tapi aku tidak ingin usahaku kali ini gagal. Jadi kuurungkan niatku itu dan tetap berbaring di tempat tidur untuk menghemat tenaga. Ketika pelayan muncul seperti biasa untuk mengantarkan sarapan, aku segera menutup kepalaku dengan bantal agar tidak tergiur oleh wangi masakan yang dihidangkan untukku itu. Aku tidak boleh goyah. Usahaku kali ini harus berhasil. Aku terkesan karena akhirnya sukses menahan lapar dan haus hingga akhirnya waktu makan malam tiba. Tubuhku sangat lemas, dan tenggorokanku terasa perih. Aku yakin suaraku pasti serak bila aku berbicara. “Nyonya, master Michael berpesan Anda harus makan makanan ini,” ucap seorang pelayan padaku sambil meletakkan makanan di meja yang ada di sebelah tempat tidur. Oh, akhirnya Mike merespon perbuatanku. “Katakan padanya aku akan makan bila ia bersedia menjelaskan padaku alasannya mengurungku di sini.” Dengan sisa tenaga, kujawab dengan suara parau dan perih pada tenggorokan. “Baiklah, Nyonya,” jawab si pelayan tanpa protes lalu pergi meninggalkan kamar. Tak lama setelah itu pintu kamar terbuka. Aku sudah siap menghadapi amarah Mike dan melirik pintu. Tapi ternyata yang muncul adalah nyonya Robinson. Dengan kecewa, kupalingkan kembali wajah pada langit-langit. “Nyonya,” sapanya. “Master Michael mengatakan akan berbicara jika Anda mau menghabiskan makan malam terlebih dahulu.” “Katakan pada Michael di sini yang mengajukan penawaran adalah aku, bukan dia. Jadi...,” kutarik nafas untuk memunculkan sedikit tenaga untuk melanjutkan berbicara. “Katakan padanya aku tidak akan makan bila ia tidak mau berbicara padaku.” Kupalingkan lagi wajah, mengabaikan keberadaan nyonya Robinson di kamarku. Perutku benar-benar sakit kali ini. Rasanya aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Bibirku juga sudah sangat kering dan mulai pecah-pecah. Aku berguling pada satu sisi  untuk menghilangkan rasa perih itu. Dan tiba-tiba saja kurasakan satu sisi tempat tidur di dekat kakiku bergerak turun. Baru saja aku ingin membuka mulut untuk mengusir nyonya Robinson yang masih nekad membujukku, ternyata yang duduk di sana adalah orang yang sejak kemarin kutunggu-tunggu kehadirannya. Persis dugaanku, wajahnya cukup horror kali ini. Kupaksakan tubuh yang mulai melemah untuk duduk dan berbicara padanya. “Katakan padaku,” seru kami bersamaan, yang kemudian akhirnya sama-sama terdiam. “Kau duluan,” ujarku mengalah. Aku sudah siap dengan cercaan yang akan dilontarkan Mike. “Kau yang duluan,” katanya dengan sorot mata membunuh. Aku yakin kepalaku sudah bolong karena tertembus tatapan tajamnya. “Kau saja,” kataku menyulut amarah Mike lagi. “Apa yang kau pikirkan?” geramnya marah. Bagus, ini yang aku tunggu. Silakan marah-marah tuan besar. “Kau pikir dengan mogok makan seperti itu dapat menyelesaikan segalanya.” “Ya,” jawabku singkat. Mike tidak menjawab lagi. Apakah sekarang giliranku? “Mengapa kau mengurungku? Apa salahku?” tanyaku dengan suara pelan. Hah, tenagaku sudah semakin menipis saat ini. “Karena kau membuatku marah.” “Apakah karena aku menghilang dan tidur di loteng?” “Ya.” “Hanya itu? Kau benar-benar lucu.” “Ya, aku memang lucu. Sekarang makan makananmu,” perintahnya. “Apakah jika aku makan kau akan berhenti mengurungku?” Mike tidak menjawab. “Jawab aku!” Pintaku dengar suara lebih tinggi, yang kemudian membuat tubuhku terasa semakin lemas. “Berhenti bertingkah seperti anak kecil. Apa dengan cara menyakiti diri sendiri kau bisa merasa senang?” Aku diam saja dan terus menatapnya marah. “Cepat makan makananmu.” “Aku tidak lapar,” jawabku lalu berbaring kembali dan menarik selimut. “Apa kau ingin aku memaksamu dengan caraku agar kau bersedia makan?” Aku berbaring menyamping, membelakangi Mike. Diam dan memejamkan mata, tak ingin menjawabnya. “Kau benar-benar menguji kesabaranku ya,” ujarnya lalu kudengar suara peralatan makan yang bertubrukan. Tak lama setelah itu kurasakan Mike duduk di belakangku. Oh, apakah ia akan mencoba sedikit berbuat manis dengan menyuapiku? Aku merasa geli dan ingin tertawa saat ini. Tapi, baru saja aku ingin menggerakkan bibir untuk tersenyum, lengan Mike menarikku hingga terlentang dan kurasakan bibirnya di bibirku. Karena kaget aku membuka sedikit mulut dan kurasakan air mengalir ke dalam mulutku. Ia memberiku minum lewat ciuman! Rasanya ingin sekali aku memuntahkannya karena hal ini bisa merusak rencanaku. Tapi aku tidak bisa melakukannya, Mike masih menutup bibirku dengan bibirnya. Mau tidak mau akhirnya kutelan juga air itu. Membuat tenggorokanku yang kering seketika bersorak senang.             Aku masih saja diam ketika Mike akhirnya melepaskan ciumannya. Kulihat ia kembali meraih gelas di atas nampan, menenggaknya lagi lalu menoleh padaku.             Aku berusaha mundur untuk menghindar tapi Mike lebih cepat mengurungku di bawahnya. Kupalingkan wajah tapi Mike menangkup wajahku dan menciumku lagi.             Lagi-lagi air tersebut sukses mengalir ke dalam mulutku. Aku berusaha menutup jalannya air, tapi lidah Mike menerobos pertahananku. Ia menekan kepalaku agar aku tidak bisa bergerak untuk memisahkan mulut kami, dan melumat bibirku ketika air yang diberikannya sudah habis kutelan.             Kuakui aku merindukan ciumannya. Ciuman yang tidak pernah lagi terasa memaksa, dan telah berubah menjadi sangat manis. Lama aku membiarkan Mike melakukan sendiri apa yang diinginkannya di mulutku, hingga akhirnya aku menyerah. Kutarik kepalanya lebih dekat dan balas melumat bibirnya. Aku merindukannya. Merindukan sentuhannya, kehangatannya, juga dirinya di dalamku.             Ketika kurasa Mike hampir saja kehilangan kontrolnya, ia akhirnya memutuskan ciuman kami dan kembali duduk. “Berhenti! Kau belum makan.”             “Aku tidak mau makan jika kau masih mengurungku di kamar ini.”             “Berhentilah menjadi orang yang keras kepala,” geramnya.             “Kau yang keras kepala!” balasku. “Aku hanya menghilang beberapa jam dan tertidur di loteng, tapi kau mengurungku satu minggu di kamar dan menolak berbicara denganku karena tahu aku akan memprotes hal itu.” Mike hanya diam menatapku.             “Jangan diam saja dan jawab aku,” pintaku dengan mata berkaca-kaca. “Kau pikir aku merasa  senang terkurung di kamar dan hanya ditemani buku-buku? Sepanjang hari hanya menatap keluar jendela...“ Sekuat tenaga kutahan isakan. “Kau benar-benar jahat.”             “Aku memang jahat,” jawab Mike santai.             “Aku membencimu,” balasku.             “Aku tidak pernah memintamu untuk menyukaiku.”             “Kau benar-benar menyebalkan,” kupukul lengannya dengan sisa tenaga yang ada.             “Apa kau ingin aku memasukkan makanan ke mulutmu seperti saat memberimu minum tadi?” tanyanya sambil meraih tanganku yang terus memukuli lengannya, membuatku seketika terdiam.             “Diam kuanggap sebagai jawaban ‘Ya’.” Mike lalu meraih mangkuk sup-ku yang sudah mulai dingin.             “Aku bisa sendiri,” cegahku saat melihat Mike yang telihat tidak main-main dengan ancamannya.             “Kau berjanji tidak akan menumpahkan dan memuntahkannya?” tanya Mike melihatku yang mengulurkan tangan meminta mangkuk tersebut.             Aku pun mengangguk. Siapa yang ingin menumpahkannya? Aku sudah sangat lapar saat ini. Mike akhirnya setuju menyerahkan mangkuk tersebut ke tanganku dan membiarkanku makan sendiri. Meskipun tanganku gemetar, dengan cepat kuhabiskan makananku. Para pelayan memang pengertian, sup ini dengan mudah bisa kutelan setelah melewatkan beberapa jam makan. Setelah selesai, Mike kemudian mengulurkan gelas padaku sambil tersenyum geli.             “Jangan menatapaku seperti itu,” protesku sebelum minum.             Ia meraih mangkukku yang telah kosong lalu mengembalikannya ke atas nampan. “Merasa lebih baik?” tanyanya. Aku mengangguk lalu menyerahkan gelasku padanya.             “Kelaparan membuatmu benar-benar berubah,” dengusnya geli. “Lihat betapa cerewetnya dirimu tadi.” Dan ia tersenyum dengan menyebalkan.             “Jangan mengejekku,” kataku kesal.             “Aku hanya jujur,” ujarnya lalu merangkak naik dan duduk di sebelahku. “Apa kau tidur dengan baik selama satu minggu ini?” tanyanya sambil mengamati wajahku yang kuyakini terlihat sangat kusut sekali saat ini.             “Apa kau pikir seseorang yang dikurung di dalam kamar selama satu minggu bisa tidur dengan nyenyak?” kutatap ia dengan sebal.             “Baiklah, aku akan bertanggung jawab,” desahnya lalu menarikku ke dalam pelukannya. Memberikanku rasa hangat yang selama ini kurindukan. “Berbaringlah dan tidur,” ucapnya sambil mengecup puncak kepalaku. Sedikit bingung dengan Mike yang berubah menjadi sangat manis, aku pun menurut dan berbaring sambil menatap langit-langit kamar.             “Bisakah kau berhenti berpikir dan tidur saja?” tanya Mike yang kini juga ikut berbaring di sebelahku. “Apalagi yang kau pikirkan?”             “Apa besok aku diizinkan keluar kamar?” tanyaku dan menoleh padanya.             “Itu tergantung pada sikapmu. Jika kau bisa berubah menjadi wanita yang baik, kurasa jawabannya adalah ‘Ya’,” katanya lalu menarikku kedalam pelukannya.             Kutempelkan kepala pada d**a bidang Mike dan merapatkan tubuh padanya. Aku merindukannya, benar-benar merindukannya. Ketika aku mulai menikmati kehangatan tubuh Mike, lambat-lambat mataku menutup dan aku pun tertidur dalam pelukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN