“Hitam, putih, merah, atau biru. Atau...” ujar Mike saat aku sedang memasangkan dasinya pagi ini. “Maksudmu dasinya? Bukankah kau sudah setuju dengan warna ini?” Refleks tanganku berhenti mengikatkan dasi ke lehernya. Tadi ia telah membawa lima macam dasi ke kamarku untuk dipilihkan. Kenapa sekarang berubah pikiran? Mike kemudian menunduk menatapku yang hanya setinggi dagunya itu. “Tidak, pilih saja salah satu dari warna yang kusebutkan tadi.” “Untuk apa?” “Rahasia.” Ia merendahkan kepalanya dan mengecup dahiku. “Ck, aku tidak suka rahasia. Ayo katakan untuk apa?” Kutarik dasinya ke arahku hingga wajah kami sejajar sekarang. “Jawab dulu pertanyaanku,” balasnya. “Putih,” jawabku pada akhirnya karena tidak sabar menunggu informasi darinya. “Oke.” Dan bukannya menjelaskan alasannya, i

