Arthur begitu senang ketika aku membawanya bermain di pondok tuan Carter sore itu. Ia begitu menyukai Rover dan tidak berhenti untuk menggendong kucing itu. Tuan Carter juga menikmatinya. Ia sesekali mengajak Arthur berbicara yang kemudian dijawab dengan kalimat balita oleh Arthur, membuat kami tertawa karena bocah itu belum begitu lancar berbicara. Rambut merahnya berkibar tertiup angin saat ia berlari-lari kecil mengejar Rover di halaman, disaat kucing itu berusaha kabur dari gendongannya. “Kitty…kitty….” Pekiknya sambil berlari dengan kedua kaki mungilnya. Aku yakin sekali Rover yang terbiasa bebas merasa sangat sebal dimanja olehnya. Tapi aku bersyukur Rover adalah peliharaan yang baik, ia tidak pernah sekalipun mencoba untuk mencakar ataupun menggigit Arthur, meski Arthur hampir men

