Bab 002 Dasar Miskin!

1393 Kata
*** Setelah bel tanda berakhirnya kelas terdengar, Dias, Roni dan Bimo Segera merapihkan buku dan peralatan tulis ke dalam tas. Tak banyak materi kuliah yang Dias dapat hari ini, tapi tak ada masalah sedikitpun dengan apa yang sudah dijabarkan oleh sang dosen. Dias memahami setiap materi yang diberikan, bahkan selalu menarik kesimpulan dari setiap mata kuliah yang dia ikuti. Dengan hal yang demikian jugalah membuat nilai Akademik Dias selalu baik atau bahkan selalu mendapat nilai terbaik. Kendati demikian, tak membuat dirinya merasa puas. Dias selalu ingin lebih dari apa yang telah dia capai. Maka dari itu, disela waktu luangnya Dias selalu menyempatkan diri untuk kembali belajar di perpustakaan. Entah karena kurangnya Dias akan Ilmu ataupun hanya sekedar untuk mencari kesimpulan baru dari setiap kelas yang sudah dia hadiri. "eh bro, ke kantin dulu yu ah, lapar gue belom sarapan tadi pagi", ajakan Roni yang merasa perutnya sudah bunyi dikarenakan bangun kesiangan. "Lu berdua ajah dah ya yang ke kantin, gue mau ke perpustakaan", jawab Dias. Dan selalu saja jawaban yang sama Dias lontarkan kepada Roni dan Bimo ketika mengajak Dias untuk makan ataupun minum di kantin setelah jam kuliah berakhir. "Selalu ajah Yas, dari dulu ngga pernah berubah, sekali-kali dong Yas kita ke kantin bareng?", rengek Bimo dengan nada yang sedikit bosan karena sikap Dias. Dan pada dasarnya kedua temannya itu tahu sikap Dias, dan memang belum pernah melihat Dias melakukan hal lain selain ke perpustakaan setelah kuliah selesai. Namun rasanya, Bimo sedikit jengah dengan sikap Dias yang selalu seperti itu, terkesan Dias tak ingin menikmati masa kuliahnya dengan sedikit bermain dan meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang memang menjadi kebiasaan dari seorang mahasiswa. "Yas, kita ini temenan sudah dari awal masuk kuliah, bahkan sampai sekarang masuk semester 5, kenapa sih Yas ngga pernah berubah?". Tanya Roni dengan sedikit kesal. "Gue juga paham dengan kondisi lu, dan gue siap buat selalu bantu lu kalau memang lu ngga punya uang untuk bayar makan ataupun minum!". Tambah Roni menegaskan dengan nada yang masih sama. Dias hanya mematung melihat kedua temannya berkata seperti itu, dan mungkin memang dirinya selalu bersikap seperti itu. Hingga membuat kedua temannya merasa kesal dengan sikap Dias selama ini. Tapi dia punya alasan lain dan tetap pada pendiriannya, sekalipun harus ditentang oleh kedua temannya. Namun, di sisi lain, ada rasa yang begitu mengharukan juga setelah kedua temannya melontarkan kata-kata seperti tadi, sedikit bergetar hati Dias. Apalagi mereka memang selalu bersama sejak dari awal kuliah. Namun tetap saja, Dias tidak mungkin ingin merepotkan kedua temannya itu hanya karena dia tak memiliki banyak uang. Bahkan terkadang, dari pada harus menghamburkan uang, lebih baik Dias tabung sisa uang saku yang dia peroleh dari hasil kerja kerasnya dan tambahan dari orang tuanya untuk masa depan. Itulah yang selalu Dias pikirkan dan sudah menjadi prinsip dalam hidupnya. "Iya, gue paham sama maksud lu berdua, tapi jujur, lebih baik gue tabung atau kasih lagi ke ibu gue uang yang seharusnya jadi uang saku gue buat tambahan biaya hidup sob" jawab Dias mengaskan kepada kedua temannya. "Gue hargain kebaikan lu berdua, tapi maaf kalau gue masih bertahan dengan prinsip gue" lanjut Dias dengan jelas. "Jadi ngga ada niatan sedikitpun buat menyusahkan atau memanfaatkan lu berdua dengan keadaan gue yg sekarang". Tambah Dias dan segera bangkit dari tempat duduknya. Sebelum melangkahkan kakinya, terdengar suara dengan lumayan keras. "emang dasar lu nya ajah yang miskin!!!!". "Deeegghhhh" Bagaikan di pukul tepat di ulu hati begitu mendengar suara yang tidak asing lagi dari kelas itu. Ya, suara dari salah seorang mahasiswa yang juga seangkatan dengan mereka bertiga. Aldi namanya, usianya 23 tahun, memiliki temperamen yang kurang baik dan seorang anak orang kaya yang sombong dan angkuh yang Dias kenal sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Aldi kini kembali bertemu Dias di perguruan tinggi swasta yang sama. Dia juga sangat ingin masuk kampus ini karena terkenal dengan jurusan komunikasinya. Pada awalnya dia tidak tahu jika Dias melanjutkan sekolahnya sampai ke perguruan tinggi, karena dia paham dengan kehidupan Dias. Menurutnya, mana mungkin seorang yang sangat kekurangan seperti keluarga Dias mampu membiayai pendidikan anaknya. Meski dia tahu bahwa Dias termasuk anak yang sangat cerdas. Sambil menoleh ke arah suara tadi, ketiga orang itu terperangah dengan apa yang dikatakan Aldi. "lu apa-apaan sih Di??". Gertak Bimo yang kesal dengan apa yang di ucapkan Aldi. "Woy, gue kasih tahu lu berdua ya, Dias itu memang anak miskin yang bahkan untuk biaya hidup sehari-hari ajah harus mencari uang dengan susah payah, beda sama lu berdua, yang jelas-jelas keturunan anak orang kaya seperti kita?" Ujar Aldi seraya menjelaskan kepada Roni dan Bimo dan juga para mahasiswa/i lainnya yang masih ada di kelas. Mereka sangat terkejut dengan apa yang Aldi katakan tadi. Dan pada awalnya mereka hanya mendengar kabar itu hanya sebatas gosip belaka. Namun, kebenaran tentang kondisi Dias kini sudah bukan menjadi gosip saja. Bahkan dengan lantangnya, Aldi menegaskan bahwa kabar tersebut benar adanya. Meskipun Aldi tak punya konflik dengan Dias sebelumnya. Hanya saja Aldi merasa jijik dengan kehadiran Dias di kampus ini dan ingin menyelamatkan teman-teman lainnya agar tak di manfaatkan oleh Dias. "Dias tuh ngga pantas masuk kuliah, apalagi kita semua tahu, bahwa kampus kita ini termasuk kampus yang biaya semesternya lumayan mahal dan termasuk kampus favorit di jurusan komunikasi". Lanjut Aldi memprovokasi. "Dasar miskin!!!" Teriak Aldi di barengi suara tawa yang keras bersama 4 orang teman di belakangnya. "hahahahahahahahaha" Sambil tertawa, kelima orang itupun beranjak bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi meninggalkan situasi kelas yang mulai panas penuh emosi, terutama Roni dan Bimo. Sementara Dias tetap tenang dan santai dalam menghadapi kondisi itu. Dias tahu, dia takkan mungkin membalas apa yang sudah Aldi perbuat kepadanya hari ini, karena memang Dias sendiri pun mau ada konflik. Namun Aldi telah memulainya, dengan kata lain, Dias akan mengingat kejadian ini seumur hidupnya. Dari kelima orang itu, salah satu diantaranya adalah seorang perempuan cantik yang membuat siapapun ingin memandangnya. Anggun namanya, wajahnya yang imut membuat siapapun akan senang bertemu dengannya. Memang tidak terlalu tinggi, sekitar 165 cm tinggi tubuhnya, namun memiliki tubuh yang sintal dan jelas dengan p******a yang membusung kedepan dan kencang. Di tambah dengan b****g yang padat dan besar, membuat lelaki manapun akan terus memperhatikannya. Roni mengepalkan tangannya, merasa tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Aldi tentang sahabatnya satu ini. Dia tahu Dias dengan keadaan seperti apa yang dikatakan Aldi, namun sedikitpun dia tak ingin mengumbar itu yang sudah menjadi aib bagi Dias. Dia sangat menghargai Dias, dalam segi apapun dan tidak merasa lebih kaya atau sebaliknya, karena memang dia selalu di ajarkan untuk tidak menghina dan selalu menghormati orang lain apapun keadaannya. "Jaga omongan lu!!!!". Ungkap Roni dengan marah karena ucapan Aldi. Namun di cegah oleh Dias agar tak terjadi keributan hanya karena dia. Sambil berjalan hendak keluar kelas, salah satu diantara mereka menoleh ke arah Roni. "Lah kan Aldi bicara apa adanya Ron, kenapa lu yang marah!!!". Umpat Richard melotot membalas ucapan Roni . Richard Brilian, pemuda berusia 23 tahun, dengan tubuh tegap dan gagah serta wajah yang tampan. Dia termasuk mahasiswa populer dengan latar belakang keluarga yang sangat terhormat. Kekayaan keluarganya terbilang luar biasa. Bahkan di antara mereka, Richard lah yang paling kaya. "Udahlah boy, katanya mau ke kantin, kenapa jadi membahas anak miskin yang ga ada apa-apanya sih!, Cuma buang-buang energi lah!". Celetuk Anton dengan menarik tubuh Richard yang sempat ingin menghampiri Roni. Dan kemudian merangkul pundaknya seraya melanjutkan langkahnya meninggalkan kelas. Sambil tertawa terbahak-bahak, kelima orang tersebut meninggalkan ketiganya dan masih ada beberapa orang lagi di kelas. Dias hanya tertunduk lesu dengan tatapan tak berdaya, sambil bangkit dan berjalan keluar kelas tanpa berkata apapun dan memilih untuk langsung menuju perpustakaan. Diikuti oleh Roni dan Bimo dibelakangnya. "Yas, kok ke arah situ?, katanya mau ke kantin?", seru Roni yang masih menahan emosinya. Dan andai saja Dias tak menghalangi Roni, mungkin tadi terjadi perkelahian antara Roni dan Richard. Namun bukan tanpa alasan kenapa Dias menghentikan Roni. Dia tahu bahwa Roni tidak akan mampu menghadapi Richard dengan tubuh yang tidak sebanding. Hal tersebut justru malah menambah keseriusan dalam konflik yang terjadi hari ini karena ulah Aldi. Dias menoleh, "kan gue sudah bilang, gue mau ke perpustakaan bukan ke kantin!", jawab Dias dengan malas. Dan berbalik terus berjalan menuju perpustakaan. Keduanya terdiam menatap punggung Dias dengan heran. "Ya sudahlah, kita ke kantin dulu ajah beli makan sama minum, terus ke perpustakaan sambil bawain makanan buat Dias", ajak Bimo sambil merangkul Roni dan berjalan ke kantin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN