bc

Antara Harta Dan Janda

book_age18+
244
IKUTI
1K
BACA
billionaire
sex
scandal
badboy
badgirl
drama
others
affair
wife
husband
like
intro-logo
Uraian

(WARNING 21+)

Khusus bacaan dewasa 17+, 21+.

Prolog

Memiliki harta kekayaan adalah dambaan dari setiap orang, baik pria maupun wanita.

Namun sayangnya, tidak semua orang akan mampu memiliki hak seperti itu.

Tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Dias, seorang pemuda berusia 23 tahun dengan statusnya sebagai seorang mahasiswa jurusan komunikasi di salah satu Perguruan tinggi swasta di kota Jakarta.

Bukan lahir dari keluarga yang kurang mampu, namun dia tak pernah tahu latar belakang dari kedua orang tuanya. Sehingga dia tak pernah berfikir akan mendapatkan harta kekayaan tanpa bekerja dengan giat. Dia tak pernah menyangka, jauh sebelum dia lahir terjadi konflik antara kedua orang tuanya dan kakeknya, yang membuat dia dan kedua orang tuanya hidup pas-pasan.

Dengan kondisinya sekarang, yang hidup dengan sangat sederhana. Dan harus banting tulang untuk bisa membantu keuangan orang tuanya.

Namun tak pantang arah, dia tetap menjalaninya dengan tegar dan bahkan sabar dalam menghadapi segala ujian dan takdir yang telah di gariskan.

Terlebih lagi, dari mulai dia duduk di bangku Sekolah Dasar, SMP dan SMA, banyak temannya yang sering memandangnya hina, atau bahkan sengaja merendahkan dirinya. Namun tetap saja dia menjadi pribadi yang biasa saja.

Kini, dia telah beranjak dewasa dan telah berada di titik terbaiknya, menjadi seorang mahasiswa dan terlebih lagi dengan tingkat kecerdasan yang berbeda dari teman teman sebayanya. Tapi tetap saja, masih dalam tingkat perekonomian yang rendah.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 001 Identitas Awal
*** Pukul 06:00 Pagi Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang menghangatkan tubuh setiap insan. Kicauan suara burung dan ayam jantan berkokok, masih terdengar dengan lantang menyambut hari yang indah. Dua cangkir kopi tersedia di latar rumah berikut goreng pisang yang jumlahnya tak banyak. Kepulan asap masih terlihat, menandakan air dalam cangkir kopi masih terasa hangat. Beberapa batang rokok dan koreknya pun tersedia untuk menyambut sang pemilik rumah menghiasi hidup di awal pagi yang cerah ini. Pemandangan yang sudah sering terjadi setiap harinya. Terutama dengan si pemilik rumah. Inilah awal dari aktifitas sang bapak dan Dias ketika mengawali hari di pagi hari sebelum keluarga itu memulai aktifitasnya masing-masing. Bapaknya hanyalah seorang pekerja serabutan yang penghasilannya tak tentu setiap harinya. Hal tersebut jugalah yang membulatkan tekad Dias untuk membantu perekonomian keluarga. Lukman Hadi namanya, seorang pria paruh baya dengan usia 50 tahun. Hanya itu identitas yang Dias ketahui, tanpa sedikitpun rasa ingin lebih jauh mengetahui identitas yang sebenarnya. Dan ibunya hanyalah seorang kuli cuci yang juga penghasilannya tak seberapa, namun tetap dijalani demi menyambung hidup bersama suami dan anak tunggalnya. Terlebih lagi dengan status mahasiswa yang saat ini anaknya pegang, dia harus benar-benar ikut membantu untuk tambahan biaya kuliah anaknya. Irma namanya, usianya 40 tahun, terpaut 10 tahun dari bapaknya. Dengan wajah yang masih terlihat cantik berpadu dengan tubuh yang tidak terlalu langsing, namun bisa dikatakan sebagai wanita idaman para lelaki. 07:15 Setelah menikmati apa yang sudah di sediakan ibunya. Dias izin pamit kepada orang tuanya untuk berangkat kuliah. Tatapan tajam menatap mantap langkahnya, Dias berangkat kuliah untuk menimba ilmu. Dengan menggunakan transportasi umum dia sudah sangat terbiasa dengan debu jalanan yang setiap hari menyapu wajah tampannya. Dias, dan itulah namanya. Pemuda berusia 23 tahun dengan statusnya sebagai seorang mahasiswa jurusan komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Memiliki wajah yang tampan, dengan tubuh yang atletis karena seringnya dia bekerja keras untuk membantu perekonomian keluarga. Tak ada rasa malu sedikitpun, dia tetap tegar dalam menghadapi problematika ekonomi keluarganya. Justru dia sangat bangga kepada bapaknya yang saat ini masih menjadi tulang punggung keluarga. Tidak pernah terdengar kata mengeluh dari mulut bapaknya. Selalu saja nasehat yang Dias terima untuk terus melangkah maju mencapai segala impiannya. Tak hanya bapaknya dan Dias yang ingin mengangkat perekonomian keluarga, sang ibu yang saat ini masih ada pun turut membantu perekonomian keluarga, dengan berjualan kecil-kecilan dan bekerja menjadi kuli cuci untuk para tetangganya. *** 08:00 Tiba di kampus. Disela lamunannya setelah Dias turun dari angkot, dia dikagetkan dengan suara lantang yang sudah sangat ia kenal selama menjalani dunia perkuliahan hingga memasuki semester 5 kali ini. "Woi, Dias!!!" Salah satu teman seangkatannya Roni menyapa saat Dias memasuki gerbang kampus. Roni merupakan teman seangkatannya, memulai dunia perkuliahan bersama dengan Dias, tapi perbandingan strata keluarganya berbeda. Roni lahir dari keluarga yang bisa di bilang lumayan kaya, karena ayahnya memiliki posisi terpenting dalam perusahaan di tempat ayahnya bekerja. Ayahnya sebagai General Manager di salah satu perusahaan terbesar di Jakarta. "Barenglah jalannya" ucap Roni sambil merangkul pundak Dias. "Tumben Ron, biasanya klo ngga naek motor, ya bawa mobil?" balas Dias sambil memperhatikan kanan kiri jalannya. "Ngga asik Yas kalai naik kendaraan sendiri, lebih seru naik kereta atau bus!, hahahaha", Seru Roni sambil tertawa. "Si Bemo kemana ya?, tumben belom muncul?, biasanya rajin kalau ada kelas Bu Ratna?". Tanya Roni. Bimo nama aslinya, karena sudah akrabnya mereka bertiga dari semester awal, Roni seenaknya saja memanggil. "Ngga tau dah, gue ajah baru nyampe!" jawab Dias celingukan sambil mencari keberadaan Bimo. Sambil berjalan melewati lorong kampus, mereka terus melangkahkan kaki bersama dan tetap mencari keberadaan Bimo. Dan tanpa sadar, tibalah di depan pintu kelas yang ternyata belum ada kehadiran sang dosen. "Untunglah, Bu Ratna juga belum Dateng, taro tas dlu lah,", Ajak Roni. Tanpa berkata apapun, Dias melangkah masuk. "Ke kantin dulu yu ah, nyari sarapan?", Ajak Roni lagi. "Duh, nanti dah ah, tanggung udah sampai kelas", Jawab Dias. Meskipun tingkat perekonomian Dias di bawah rata-rata di banding teman-temannya, namun tak dapat di pungkiri, bahwa wajah serta perawakan Dias lumayan baik. Dengan wajah tampan, badan sedikit atletis karena lebih sering bekerja keras untuk menambah biaya kuliah serta uang jajannya, Dias juga memiliki rambut yg hitam, tebal dan lurus ( bayangin ajah dah ya, kaya artis2 korea gtu lah, tp kulitnya ajah yang sawo matang). Berbeda dengan Roni, yang perawakannya lebih kurus dengan tampilan modis ala artis Jepang dengan Harajuku stylenya. Sementara Bimo memiliki badan yg agak sedikit gemuk, tapi tidak terlalu buruk dengan sedikit atletis juga. Di dalam kelas, semakin banyak para mahasiswa yang datang dan semakin bising dengan suara-suara yang memusingkan telinga. Terlebih lagi dengan para mahasiswi, di pagi hari seperti ini pun masih saja bergosip tentang ini dan itu. Dias bukannya risih, tapi sangat menggangu, apalagi dengan statusnya dia sebagai mahasiswa yang memiliki IQ di atas para Mahasiswa lainnya. Dan dia pun mampu masuk perguruan tinggi dengan sedikit bntuan atas kecerdasannya, namun tetap saja tidak mendapatkan beasiswa, setidaknya dia mendapatkan keringanan dari pihak kampus karena kecerdasannya. "Nah itu, si Bemo datang!" ucap Roni sambil tersenyum sinis. "Emang dasar lu sialan!, ngga pernah berubah lu dari awal, tetap saja nyebut gue bemo!", Gerutu Bimo saat tiba di kelas dan mengambil tempat duduk bersebelahan denga Dias dan Roni. "Yaelah, masih bae sensi lu, kaya sama siapa bae lah!", Sanggah Roni. "Udah si ah, berisik lu berdua!!", Umpat Dias kepada dua temannya. Suara langkah dengan sepatu hak tinggi pun mulai terdengar, dan mulai memasuki ruangan, di iringi para mahasiswa yang sedari tadi duduk menunggu di depan kelas. "Selamat Pagi, maaf saya agak sedikit terlambat", Ucap seorang dosen cantik menyapa para mahasiswa/i. Suara keras dari seorang dosen cantik mengagetkan beberapa mahasiswa yang sedang asyik berbincang. Terlihat tubuh yang tinggi serta ramping dan seksi menyapa para mahasiswa kelas itu. "Selamat Pagi juga Bu Ratna", Serentak dari dalam kelas. Kelas di mulai, dan mereka seperti biasa mengikuti kelas dengan seksama, terlebih lagi, pagi ini di suguhi dengan kelas yang dosennya terlihat cantik dan menawan. 'Seger melihat yang beginian pagi-pagi, semangat kuliahnya juga', Umpat Roni dalam hati sambil mengamati materi dari suara merdu Bu Ratna. Tak banyak suara, hanya beberapa suara pengajuan pertanyaan dari beberapa mahasiswa waktu di kelas. Dan waktu pun terasa begitu cepat, 2 jam sudah kelas ini mereka ikuti. Bel tanda berakhirnya kelas pun sudah terdengar. "kkkrrriiiiiiiinnnggggg" tanda bel berakhirnya waktu kuliah..

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Patah Hati Terindah

read
83.0K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.2K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Revenge

read
35.6K
bc

Beautiful Pain

read
13.7K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
34.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook