Anya memandang langit-langit kamarnya cukup lama. Sudah hampir dua jam dia melamunkan seseorang yang sempat terlupa dari ingatannya. Pikiran Anya melayang pada pertemuan dengan lelaki yang tak diduga akan dia lihat lagi wajahnya. Anya memutar tubuhnya ke kiri, lalu berputar lagi ke kanan sambil memeluk guling dengan dahi berkerut. Wajah lelaki itu kembali menguasai otak Anya, terutama saat tersenyum. Paras tampan lelaki itu terlalu sulit untuk dilewatkan begitu saja. Setelah menghela napas panjang, Anya memutuskan untuk mengubah posisi dari rebah sembarangan kini menjadi duduk. Tubuhnya masih setia memeluk guling yang menjadi korban pelampiasan keresahan hati. Ada berbagai perasaan yang tengah dia rasakan saat ini dan Anya tidak berhasil menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya.

