Aku keluar dari kedai minuman itu dengan wajah yang masih sama merahnya. Atau mungkin lebih merah. Beberapa orang menjauhiku karena manik mata biruku. Walau rambutku masih berwarna perak. Tapi, dilihat dari mataku sudah jelas sekali siapa jati diriku yang sebenarnya. Aku sekali lagi mengambil serbuk ajaib dari kantong bajuku. Untunglah, masih tersisa sedikit. Ternyata aku belum benar-benar menghabiskannya. Aku menuangkan serbuk itu di atas mataku. Perlahan manik biru itu berubah jadi coklat. Yah, setidaknya walau rambutku masih perak, ada hal yang membedakanku dari Nymph. Orang-orang pasti tidak akan melempariku dengan tomat busuk dan telur jika melihat mataku. Tunggu sebentar! Apa tadi aku menyiram seorang Raja dari kekaisaran tetangga dengan air minum yang sudah aku ludahi?! Yang

