Bab 2

1030 Kata
"Eh, hari Sabtu nanti nonton yuk," ujar Ara saat mereka tengah merapikan buku, bersiap pulang. "Boleh nih, gimana yang lain? Bisa gak?" timpal Isna sembari melihat teman-temannya satu per satu. "Seperti biasa kalau Sabtu aku gak bisa ya," ujar Senja yang juga sedang merapikan buku-bukunya. Senja duduk di bangku terpisah dengan teman gengnya, karena keempat yang lainnya duduk di bangku tengah barisan ketiga dan keempat, sedangkan senja di bagian kiri barisan kelima alias terakhir. "Yaah, kok gak bisa sih? Gak bisa bolos sehari gitu dari latihan biola?" tanya Ara protes. Senja hanya bisa menggeleng dengan mengulas senyum, Gala yang tidak sengaja mendengar obrolan mereka ikut berdecih. "Cih, sok-sokan latihan biola. Bilang saja gak punya duit buat jajan," cibir Gala yang masih bisa didengar oleh gadis itu. "Ternyata selain songong, dia juga gila," gumam Senja membalas ucapan Gala. Gala ingin protes dengan ucapan teman sebangkunya itu, namun ia kalah cepat, sebab gadis itu sudah pergi meninggalkan kelas bersama teman-temannya. Senja dan gengnya berjalan di koridor sekolah sembari tertawa. Setiap kali kelima siswi kelas XI itu berjalan, selalu saja menjadi pusat perhatian terlebih oleh para lawan jenis. Gala yang merupakan murid baru pun juga ikut menjadi pusat perhatian. Pria berbadan tinggi dengan wajah penuh kharisma, membuat banyak yang berdecak kagum. Gala tidak memperdulikan bisikan-bisikan yang ia dengar sepanjang koridor, karena baginya itu bukanlah hal yang baru. Di sekolah lama pun Gala selalu jadi pusat perhatian, selain karena paras, juga karena otaknya yang cemerlang. Gala berjalan melewati geng artis yang tengah asyik berbincang, dan secara sengaja pula Gala menyenggol tubuh mungil Senja hingga membuat gadis itu nyaris tersungkur, jika tidak dengan sigap Ara menahan tangan gadis itu. Isna yang tidak terima dengan perlakuan Gala, langsung menyusul langkah sang murid baru. "Eh bangke! Tunggu!!" Isna mempercepat langkahnya lalu menarik tas yang dikenakan oleh Gala. "Shitt!!" Gala terkejut karena langkahnya tertahan. "Apa b*****t?" tanya Gala geram. "Oh ternyata selain songong, Lo juga gak tahu diri ya?" Isna mencengkeram kerah seragam Gala. Tubuh Gala dan Isna yang nyaris sama tingginya, membuat sang gadis dengan mudahnya menatap mata pria itu. "Apa maksud Lo, ha?" tanya Gala tidak kalah sengit. "Lo gak sadar kalau sudah dengan sengaja menabrak tubuh teman gue, Senja? Jangan bilang kalau Lo juga sudah hilang ingatan!" Gala melirik ke arah gadis yang dimaksud, lalu tersenyum smirk. "Oh dia yang ketabrak toh, gue kira tadi keranjang sampah doang!" BUGH!! Sebuah pukulan mendarat pada pipi anak baru itu, bukan hanya sekali melainkan dua kali, dna itu semua menjadi tontonan para murid lainnya. "Isna!!" pekik semua teman-temannya melihat tangan Isna yang mendarat dengan cantik di pipi Gala. Semua berlari mendekati Isna, lalu segera menarik tubuh gadis itu agar menjauh dari Gala. Senja sengaja memilih tetap tinggal dan berdiri di hadapan Gala yang terus mengusap-usap pipinya. Perbedaan tinggi diantara mereka berdua membuat Gala menganggap remeh gadis yang berdiri di hadapannya. "Apa aku punya salah sama kamu?" tanya Senja lembut. Gala menelisik penampilan gadis itu dari atas ke bawah, lalu tersenyum smirk menganggap remeh gadis itu. Gala tidak menjawab melainkan memilih pergi meninggalkan gadis itu yang masih diliputi tanda tanya akan sikap Gala padanya. Gala duduk menyendiri di halte bus, sembari menunggu kedatangan kendaraan panjang tersebut. Dari jauh sebuah mobil mewah berhenti di depannya yang masih asyik mendengarkan lagi melalui earphone yang menempel di telinga. "Gala!" Pria itu terkejut, sebab suara panggilan itu tepat di telinganya. "Lo yang namanya Gala, 'kan?" tanya gadis yang mengenakan seragam dengan corak yang sama dengannya. Gala tidak menjawab, ia memilih untuk memasang kembali earphone yang dilepas oleh siswi itu. Rupanya siswi yang bernama Starla tidak menyerah untuk mendapat sedikit perhatian dari Gala. "Hei...!" Gala yang kesal karena kesenangannya selalu diusik, akhirnya memilih bangkit dan masuk ke dalam bis yang salah. Sengaja ia lakukan, setidaknya bisa membuatnya cepat terhindar dari gadis centil itu. Gala menutupi tubuhnya dengan sebuah Hoodie putih, setidaknya bisa menutupi bekas memar di wajahnya, hadiah dari Isna. "Iihh, kok malah dicuekin sih?" gerutu Starla melihat kepergian Gala. Starla memilih untuk segera kembali masuk ke dalam mobilnya, dan meminta sopirnya untuk segera melajukan mobilnya. "Kamu gak apa-apa 'kan, Senja?" tanya Riska dengan begitu perhatian. "Gak apa-apa kok. Aku baik-baik saja. Yang seharusnya diperhatikan adalah Isna. Tangannya gak terluka 'kan?" Ara, Riska dan Tya langsung menoleh ke arah Isna yang tengah mengontrol emosinya. "Udah gak usah segitunya lihatin aku. Aku baik-baik saja, seharusnya tadi kalian gak tahan aku buat pukul dia," Semuanya mendengus kesal, mereka tahu bagaimana perangai Isna si gadis tomboy, yang tidak akan segan-segan membela teman-temannya dari gangguan orang usil. Satu persatu mobil jemputan mereka datang, dan menyisakan Senja seorang. Ia berulang kali menghubungi sopir pribadinya, namun tidak juga kunjung di angkat. Menelepon kedua orang tuanya juga sama, begitu pun dengan orang rumah. Senja perlahan berjalan menuju halte yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Bukan baru pertama kalinya Senja pulang menaiki bis, jadi ia sudah tahu bis warna apa yang harus ia tumpangi. Sebuah bis berwarna biru berhenti di halte, Senja segera bangkit dan masuk ke dalamnya. Tanpa gadis itu sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak ia masuk. Seseorang yang mengenakan Hoodie, duduk di bangku tepat di belakang Senja. Entah mengapa sejak pertama kali ia melihat gadis itu, rasanya banyak hal yang ingin ia cari tahu. Gadis penuh misteri itulah julukan yang ia berikan. Meski baru sebentar mengenalnya, namun ia sadar jika Senja bukanlah gadis biasa, ada sebuah energi yang terpancar dari tubuhnya. Senja turun di halte yang sepi, tidak ada satu calon penumpang yang menunggu. Tanpa menunggu lama orang yang sejak tadi memperhatikannya ikut turun. Hari ini sudah berapa kali ia berputar dan berganti bis agar bisa pulang. Senja sadar jika sejak tadi ada yang selalu memperhatikannya dan kini menguntitnya juga. Senja sedikit gugup, meski daerah yang ia lalui tidak terlalu sepi, dan hari pun juga masih siang. Senja semakin mempercepat langkah kakinya dan masuk ke dalam sebuah gang sempit yang memiliki beberapa cabang. Orang itu kehilangan jejak Senja yang berjalan begitu cepat. "Ahh, hari pertama yang melelahkan. Dan hari pertama langsung dapat hadiah, dasar perempuan sialan!" umpat Gala yang baru saja tiba dan menghempaskan tubuhnya di atas sebuah ranjang empuk dan besar. "Bisa ku pastikan jika dia dan antek-anteknya akan mendapatkan balasan!" gerutu Gala sebelum akhirnya ia terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN