bc

Galaksi di ufuk Senja

book_age18+
6
IKUTI
1K
BACA
HE
bxg
kicking
scary
brilliant
highschool
high-tech world
enimies to lovers
soul-swap
like
intro-logo
Uraian

Gala dan Senja pelajar di sebuah sekolah yang sama. mereka berdua bukanlah siswa siswi yang akrab, melainkan musuh bebuyutan. Gala seorang murid pindahan, tidak pernah bersahabat dengan siapapun. ia hanya baik dengan adiknya yaitu Starla.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
“Eh, kalian tahu gak kalau di kelas kita akan ada anak baru!" seru Ara kepada teman gengnya. “Oh ya? Kamu tahu dari mana?” tanya Tya menimpali ucapan Ara. “Apa kau lupa jika Ara adalah anak wakil kepala sekolah?” tegur Riska dengan tatapan sinis. Semua pun hanya bisa memamerkan cengiran khas seekor kuda, sebagai tanggapan ucapan Riska. Ara, Riska, Tya, Isna, dan Senja adalah teman satu kelas dan satu geng. Mereka dikenal sebagai siswi populer, selain karena parasnya yang cantik dan otak cemerlang, mereka juga berasal dari keluarga konglomerat. Geng mereka dikenal dengan nama geng artis, karena itu merupakan singkatan dari inisial nama mereka. “Masuk kelas yuk, sebentar lagi bel akan berbunyi.” ujar Senja kepada teman-temannya. Dan benar saja, belum sempat masuk ke dalam kelas bel masuk pun berbunyi. Seluruh murid berhamburan masuk ke dalam kelas, hingga terjadi aksi saling mendorong. BUGH!! “Duh, maaf ya Senja, aku gak sengaja," ucap Refan dan segera membantu Senja bangkit dari lantai. “Hmm, lain kali hati-hati. Liat nih lututku jadi lecet kan,” ujar Senja dengan wajah ketus. “Iya sekali lagi aku minta maaf.” ucap Refan lagi dengan nada menyesal. Senja tidak menghiraukan, ia memilih segera menuju mejanya. “Kenapa?” tanya teman se-gengnya kompak. “Noh si cupu tabrak aku sampe jatuh, lecet kan lututku jadinya.” “Apa perlu aku beri dia pelajaran?” Isna yang terkenal tomboy sudah berdiri hendak menghampiri meja Refan. “Udah gak usah diperpanjang, dia juga sudah minta maaf kok.” ujar Senja menahannya. Suasana kembali kondusif, semua sibuk membuka buku pelajaran sembari menanti kedatangan guru mata pelajaran yang akan mengajar. Sekitar sepuluh menit kemudian, pintu kelas terbuka lebar sehingga mengalihkan atensi para murid ke arah pintu. Pak Tomi yang akan mengisi mata pelajaran hari ini masuk ke dalam kelas, dan diikuti oleh seorang siswa dari arah belakang. Terdengar suara bisik-bisik dari semua murid yang berada di kelas sembari menatap ke arah murid baru itu. “Selamat pagi anak-anak,” “Selamat pagi pak..” jawab semua murid serempak. “Hari ini sebelum Bapak memulai pelajaran, Bapak mohon perhatiannya. Kita kedatangan seorang murid baru, pindahan dari luar provinsi. Nak, silahkan perkenalkan dirimu.” tukas Pak Tomi mempersilahkan murid tersebut untuk memperkenalkan dirinya. “Namaku Gala, lengkapnya Galaksi.” “Galaksi Bima Sakti, gak?” celetuk Tia yang membuat semua murid tertawa. “Sudah tenang, ayo Gala silahkan dilanjutkan.” pinta pak Tomi lagi. “Saya rasa itu saja pak, gak ada yang penting dan menarik dalam hidup saya untuk diketahui orang lain.” “Njir, songong banget tuh anak.” celetuk salah seorang siswa bernama Beno, yang terkenal nakal. “Gala, kamu bisa duduk dengan Senja. Karena kebetulan dia duduk sendiri. Kamu tidak keberatan kan, Senja?” Tampak Senja menghela nafasnya seraya menganggukkan kepala, karena ia tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan ucapan gurunya. Dengan langkah santai Gala menghampiri meja Senja yang ada di barisan belakang, lalu meletakkan tasnya dan duduk di sebelah gadis itu. “Perkenalkan namaku Senja.” Ucap gadis itu menyodorkan tangan. Namun Gala tidak menyambutnya, pria itu lebih memilih untuk fokus melihat ke arah depan. “Aku sudah tahu." hanya itu jawaban yang diucapkan Gala. “Loh kok bisa?” tanya Senja lagi dengan wajah penasaran. “Aku rasa kamu belum pikun dan tuli, bukankah Pak guru sudah mengatakannya tadi.” Senja menatap Gala dengan tatapan kilat, yang menyatakan berkibarnya bendera perang. Sungguh ia tidak habis pikir jika niat baiknya disambut dengan ketus seperti itu oleh Gala. “Kalau masih bego, lebih baik kamu fokus sama penjelasan pak guru.” ucap Gala santai. Ingin sekali rasanya Senja menarik rambut pria itu yang sebagian menutupi matanya, dan membakarnya. Untuk pertama kalinya Senja dianggap remeh oleh orang yang baru ia kenal. Sejak saat itu permusuhan diantara mereka berdua tercipta. Bel tanda istirahat berbunyi, hampir semua murid keluar kelas menikmati waktu yang hanya tersedia lima belas menit, kecuali geng artis dan murid baru. Mereka berlima lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas, selain karena sudah membawa bekal dari rumah masing-masing, salah satu anggota mereka sedang dilanda _badmood_. Siapa lagi jika bukan Senja. Sejak Gala mengacuhkan dirinya ketika berkenalan, Senja menjadi tidak fokus mengikuti pelajaran matematika yang dibawakan oleh Pak Tomi. Sedangkan Gala memilih acuh, ia sibuk membaca buku komik yang sengaja dibawanya dari rumah. “Kamu kenapa, Senja?” tanya Ara yang melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu. “Gak apa-apa kok.” jawab Senja dengan memamerkan senyum indahnya, hanya sekedar untuk menutupi kekesalannya. “Gak usah ditutupi kalau kesal, kamu tu gak pandai untuk menyembunyikannya. Bilang sama aku, siapa yang sudah melakukannya?” Isna mulai menggulung lengan baju seragamnya, hendak memberi pelajaran kepada orang yang sudah membuat Senja sedih. “Sudah ah gak usah diperpanjang, mending kita makan. Kamu bawa bekal apa hari ini?” Senja mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin suasana hatinya semakin jelek jika terus menerus membahasnya. Mereka berlima pun terlibat dalam percakapan mengenai menu makanan dan mulai saling bertukar lauk. Gala yang mendengar kebisingan dari para kaum wanita itu, langsung menggebrak meja. BRAK!!! “Eh anjing!!” celetuk Isna tanpa sadar, sedangkan yang lain hanya memegang d**a reaksi dari keterkejutannya. “Bisa gak kalian berlima jangan berisik??” seru Gak dengan suara lantang. “Eh siapa kamu larang-larang kami ribut? Lagian kamu dari planet mana sih, bisa-bisanya marahin orang ribut saat jam istirahat!” ujar Riska yang mulai terpancing emosinya. "Dasar barisan perempuan alay," gumam Gala sembari melirik sinis kearah lima siswi yang masih dilanda keterkejutan. "Apa kamu bilang? Alay? Eh, singkong rebus gak usah belagu ya, masih baru aja udah songong!" Isna mulai mendekati meja Gala, namun dengan cepat Senja menghalanginya. "Jangan halangi aku, Senja. Biar laki-laki banci ini tau sedang berhadapan dengan siapa!" Isna melepas celana tangan Senja, ia segera mendekati Gala. "Isna, jilangan kotori tanganmu dengan menyentuh ya, bukankah katamu dia banci?" Senja masih tersu berusaha untuk menghalangi Isna, gadis itu tidak mau jika temannya sampai terlibat masalah. Isna menarika nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, menetralkan emosinya. "Bacot doang digedein," gerutu Gala yang masih bisa didengar oleh Senja. "Mimpi apa aku semalam, bisa-bisanya hari ini ketemu sama pria modelan kayak banci kaleng, iihh!" balas Senja dengan menghampiri Gala di saat Isna sudah kembali berkumpul dengan teman yang lainnya. Gala menatap Senja dengan lekat, lalu kembali fokus membaca komiknya. "Jangan pikir aku takut sama orang kayak kamu, Galaksi!" bisik Senja penuh penekanan lalu kembali melanjutkan makan siangnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.9K
bc

Wolf Alliance Series : The Path of Conquest

read
42.4K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.3K
bc

Putri Zhou, Permaisuri Ajaib.

read
8.7K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
4.7K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook