Rasa penasaran selalu mengalahkan segalanya. Kalimat itulah yang cocok disematkan kepada Divtia saat dia repot-repot harus mengalahkan harga dirinya untuk menyapa di depan pintu, hanya karena melihatku keluar dari mobil Walter dalam keadaan setengah basah. Bahkan saking menjaga gengsi, saat bertanya pun Divtia menolak menatap secara langsung dan kuabaikan dengan memberikan jawaban singkat di mana ia sendiri sudah tahu jawabannya. Aku tahu Divtia terlampau kesal saat menerima reaksi tersebut. Terlihat jelas dari hidung kempas-kempis, langkah kaki yang dibuat seberisik mungkin, dan melemparkan kekesalan terhadap sesuatu yang tidak tahu apa-apa seperti; ketika dia mengekoriku untuk naik ke lantai dua, tidak sengaja ia tersandung anak tangga kemudian menyalahkan benda mati tersebut secara be

