Walter benar, meski aku berusaha menampiknya. Jajaran pepohonan yang tidak terlalu rindang, hingga mampu ditembus cahaya matahari lalu membentuk kombinasi hangat dan lembab ternyata tidak terlalu buruk. Maksudnya, kedua hal tersebut mengingatkanku dengan kampung halaman terutama jika berbicara mengenai aroma hutan serta suara pergesekan antara ranting serta dedaunan akibat embusan angin, sukses menghasilkan kenangan di mana dulu--saat kuliah--pernah menjadi salah satu anggota pencinta alam.
Aku cukup menyukai alam. Mereka seolah memiliki suara, aroma, dan sentuhan masing-masing pada setiap panca indra manusia. Seperti halnya jika berada di lautan akan terasa berbeda saat berada di sungai. Meski sama-sama air, panas di lautan terlalu terik dan terlalu kering, beberapa orang pun akan berpikir untuk menyeburkan diri sebab kandungan garam yang tinggi mampu membuat kulit kering serta gampang gosong. Sedangkan panas di sungai, menurutku memilki kesegaran tersendiri karena selalu sukses mengundang siapa saja untuk berenang.
Seperti Walter saat ia menuntunku masuk ke dalam hutan, hingga kami bertemu dengan beberapa jajaran balok besar yang diikat menyerupai rakit di pinggir sungai dan pada saat itu pula, Walter membuka pakaiannya dengan hanya menyisakan boxer.
Ia menoleh ke arahku, sambil meletakkan celana jins pagar dermaga, bersamaan dengan kaos oblongnya lalu tersenyum miring. "Kau bisa berenang, 'kan? Karena kalau tidak aku akan tetap memaksa agar kau turun dan mengambil kesempatan untuk menyentuhmu di dalam air." Ia mengerling jenaka dan aku tertawa ringan.
Well, tidak ada kesempatan dalam kesempitan. Itu prinsip hidup yang diterapkan ibu, sehingga sambil melipatkan kedua tangan di bawah d**a, aku berkata, "Aku tidak membawa pakaian renang, apalagi bikini. Sehingga secara tegas kukatakan—"
"Pakai bajuku," kata Walter kemudian menyerahkan kaos oblong yang sebelum menggantung di pagar dermaga. "Kalau sudah begini, tidak ada alasan untuk menolak."
Sebelah alisku terangkat, bersamaan dengan senyum di antara kami berdua. "Well, I need privacy."
"Oh, oke." Mengedikkan bahu, Walter si lelaki tahu diri itu memutar tubuhnya--membelakangiku. Dia benar-benar memiliki tubuh yang bagus dan kuyakin bukan dengan cara instan, apalagi takdir untuk mendapatkan keindahan tersebut.
"Jangan bergerak dan jangan mengintip," pesanku sembari melepas kaos bigsize serta hotpants kemudian menggantinya dengan milik Walter. Diam-diam aku bisa mencium aroma parfum lelaki itu, di mana mereka masih memiliki kesamaan seperti saat pertama kali kami bertemu.
Hari keempat berada di California dan aku masih mengingatnya, membuatku berpikir bahwa yang dikatakan ahli parfume memang benar adanya. Kita akan mengingat seseorang bukan hanya dari mata, tetapi juga dari indra penciuman di mana secara otomatis selalu menggiring kepada kenangan.
Kenangan, ya? Haha, aku bahkan tidak berniat memiliki kenangan spesial bersama Walter. Mungkin jika kembali ke Indonesia nanti, Walter hanya mendapatkan label sebagai tetangga sepupuku.
"Walter," panggilku dan Walter menoleh. "I'm done."
"Nice for you." Sambil menunjuk menggunakan sorot mata, Walter melemparkan pujian saat aku mengenakan pakainnya. "Seharusnya kau sering-sering mengenakan pakaianku."
"No way." Aku menggeleng sambil memukul bahu Walter. "Yang kau katakan tidak jauh berbeda dengan bualan para playboy."
"Hai, kalau begitu, apa kau menyebutku sama seperti mereka?"
"Tergantung dari bagaimana kau bersikap," kataku sambil terus berjalan hingga ke tepi dermaga dan ketika Walter benar-bernar berdiri di sisiku ....
... tanpa aba-aba aku pun memutuskan untuk mendorongnya.
Tentu saja Walter berteriak--cukup kaget--mungkin--karena saat aku mendorong, ia sedang mengatakan sesuatu di mana aku pun tidak menyimaknya. Sehingga sebelum lelaki itu muncul di permukaan, dalam hitungan ketiga kuputuskan untuk melompat ke sungai--menyusulnya.
"Kupikir akulah yang akan mendorongmu." Walter berenang mendekatiku ketika selesai dengan aksi menyelam sejenak kemudian memunculkan kepala di hadapan Walter. Ia mencipratkan sedikit genangan air menggunakan tangan lalu mundur dan mendekat lagi, setelah kami berenang perlahan saling berputar.
"Dan akhirnya akulah--si gadis Indonesia--yang berhasil mendorong--lelaki Amerika," ujarku dengan masih berenang dengan arah berputar. "Aku tidak pernah tau ada sungai di sekitar sini? Terakhir, saat melihat peta di Google Map, Sungai Yuba adalah yang terdekat. Namun, tetap saja memerlukan perjalanan panjang."
"Kurang lebih tujuh jam menggunakan mobil." Walter menaikkan sebelah alisnya kemudian berhenti berenang mengikutiku dan hanya diam di tempat--membiarkanku berputar mengitarinya. "Apa kau ingin mengunjunginya? Kita bisa pergi bersama. Terakhir, aku mengunjunginya saat acara penyambutan musim panas SMA."
"Jika Paman Arya mengizinkannya, kupikir aku bisa mengajakmu."
Walter menggeleng. "Tidak. Hanya kita berdua."
Tersenyum miring, aku mengerti maksud dari semua ini. Yaitu, kemungkinan besar Walter mengajakku kencan dengan sesuatu yang lebih privacy sebab keberadaan kami di sini saja, sudah termasuk dalam hal kencan. Sehingga agar tidak terjadi sesuatu yang merepotkan, tugasku sekarang adalah berprilaku tegas di hadapan Walter.
Secara perlahan, kuputuskan untuk berenang mendekati Walter hingga jarak kami hanya sekitar tiga jengkal tangan orang dewasa. Kami saling bertatapan dan jika tidak kuat iman, maka tidak perlu dipungkiri bahwa sesuatu yang lebih--mungkin--terjadi.
"Aku di dalam tanggung jawab pamanku. Sebagai tamu yang harus dijaga dan sudah seharusnya segala hal--jika berada di luar rumah--aku harus menginformasikannya," kataku lugas dan kuharap Walter mengerti karena kami sudah bukan lagi seorang remaja, dengan keingintahuan tinggi dengan pikiran sederhana.
Namun, ekspresi kecewa justru tergambar jelas di wajah Walter, hingga tanpa kusadar jarak kami menjadi semakin dekat--hanya sekitar satu jengkal--dan membuatku sedikit ....
... berdebar.
"Apa kau tidak penasaran tentang kenapa aku menyukai tempat ini?" Walter bertanya padaku dan ini lucu. Maksudnya, mengapa aku harus menanyakan hal yang sudah jelas di depan mata? Tentu saja Walter menyukaimya karena tempat ini indah, tersembunyi dan mungkin memang tidak banyak yang tahu.
"Tell me," pintaku dan hal itu malah membuat Walter meletakkan kedua tangannya di bahuku.
"Tahan napasmu dan bersiaplah untuk masuk ke duniaku."
Tertawa pelan, kurasa ini konyol. Apa Walter ingin melakukan hal semacam--
"Just hold your breath and leave your eyes open, Kirana," perintah Walter lagi dan akhirnya ....
"Fine," kataku, sambil menjepit hidung menggunakan ibu jari dan telunjuk kemudian Walter membawaku menyelam.
Sebenarnya, menyelam bukanlah hal baru bagiku. Namun, melakukannya bersama Walter adalah sesuatu yang baru. Dari dalam sungai, Walter menelusuri kedua lenganku. Meraba dengan hati-hati dan berakhir saat ia menggenggam tanganku aku membalasnya dan ....
... entah apa yang telah diciptakan Walter hingga jarak di antara kami hanya tersisa tiga inchi. Walter menutup matanya dan sebelum hal itu terjadi, aku segera lari ke permukaan dengan drama kehabisan napas.
Kasarnya, Walter ingin menciumku.
Kebalikannya, aku tahu apa yang menjadi favorit Walter.
Keheningan. Itu yang menjadi daya tarik saat menyelam. Saat berada di dalam sungai, tidak ada suara lain, selain deru air akibat pergerakan arus pasang surut. Dan dari keheningan serta ketenangan tersebut, Walter menciptakan nuansa romantisme hingga jika aku tidak waspada maka--
"I'm so sorry, Kirana." Walter menjauh dariku, memberikan mimik menyesal saat aku--berpura-pura--batuk akibat kehabisan napas. "Seharusnya aku tidak menahanmu." Itu katanya dan serius, terdengar benar-benar menyesal hingga marah pun tak kuasa kulakukan.
"It's ok," ujarku sambil memberikan isyarat menggunakan jemari. "Hal yang barusan itu normal karena kita berbeda kelamin. Perbedaannya hanya sebatas seberapa kuat kita mampu mengendalikan diri." Aku tersenyum ke arahnya kemudian berenang mendekat dan memberanikan mengusap rambut cokelat terangnya karena kebetulan tersangkut daun.
Kupikir ini jalan Tuhan agar suasana di antara kami tidak berakhir canggung. "Daun kering saja tertarik pada pesonamu, tapi di waktu bersamaan, terlalu cepat jika kau memikirkan bahwa aku adalah orangnya."
"Atau aku yang terlalu percaya diri." Walter tersenyum kikuk hingga memberikan kesan lucu pada diriku.
"Setidaknya aku punya hutang untuk menjadi pacar pura-pura di pesta penyambutan musim panas nanti." Sebisa mungkin kuhibur Walter agar harga diri seorang lelakinya terangkat dan tidak terkesan dijatuhkan. "By the way, kapan pestanya akan berlangsung?"
"Nanti malam. Akan kujemput jam tujuh."
"Pertanda, bahwa kita harus pulang sekarang." Kuusap sambil mengacak-acak rambut Walter lalu berenang menuju dermaga. Namun, kalah gesit dengan Walter sehingga dengan sikap gentleman, ia mengulurkan tangan sekadar membantuku naik.
Well tidak buruk. Meskipun ditolak, Walter masih bersikap baik dan tidak meninggalkanku seperti Harry.
Oh, c'mon Kirana! Kenapa harus membanding-bandingkan Walter dengan Harry? Di mana mereka jelas-jelas berbeda.
"Aku akan berbalik. Jika kau sudah selesai katakan saja," kata Walter setelah mengenakan celana jins kemudian tanpa diminta berdiri memunggungiku.
Memang hal kecil, tapi serius, itu cukup manis bagi seorang tetangga baru.