"Huh?" Walter mengerutkan kedua alisnya. Mengenakan kaos oblong, sambil terus menatapku bingung. "Be honest, what do you think, Kirana?"
Mendengar pertanyaannya barusan, refleks aku pun terdiam. Hati-hati untuk menjawab karena jika salah pilih, maka bisa mempermalukan diri sendiri sehingga satu-satunya yang mampu kulakukan sebagai pengalihan isu adalah menatap ke sekeliling, melakukan pemindaian mengenai ruang tamu keluarga Fred dan secepat mungkin harus menemukan topik menarik.
Dan satu.
Dua.
Tiga.
Otakku berpikir keras, untuk kesan pertama rumah keluarga Fred memiliki d******i warna putih, sehingga memberikan kesan luas dan terdapat cermin besar di atas sofa—berperan sebagai hiasan dinding—serta vas bunga minimalis di sudut ruangan, lalu beberapa bingkai foto masa kecil Fred bersaudara berjajar menarik menggunakan meja merangkap rak berukuran sedang yang menjadi tempat perkumpulan kaktus mini. Dalam sekali lihat, aku kesulitan untuk mencari bahan pengalihan, sehingga ketika sorot mataku tidak sengaja melihat foto wisuda Greg, maka ....
"Di mana Greg? Sepertinya aku harus bicara dengannya karena kudengar dari Divtia dia seorang dosen." Sengaja kupalingkan wajah demi menghindari menatap wajah Walter secara langsung, pandangan pun turut diedarkan secara acak hingga akan terus seperti itu, jika Walter tidak menahan wajahku dengan kedua tangannya.
Kedua tangan itu masih di wajahku dengan jarak yang terlampau dekat di antara kami. Jika kalian berada di antara kami—memergoki—maka tuduhan pertama pastilah pernyataan bahwa kami ingin berciuman karena sepasang netra Walter tidak pergi dariku. Jantungku berdebar, sempat memerhatikan pahatan bibir lelaki itu dan—
"Seriously, aku tahu kau sedang dalam mode pengalihan isu. Jadi jika memang penasaran tentang di mana Greg, maka dia ada di kamarnya sedang main PS dan aku kalah beberapa kali hingga mendapat hukuman seperti yang kau lihat. Untungnya tidak sampai telanjang saat aku harus membuka pintu untukmu," jelas Walter begitu panjang kali lebar, tanpa menggunakan filter hingga—mungkin—kedua pipiku bersemu merah karena teringat bagaimana Tuhan menciptakan tubuh Walter dengan setuja kelezatan.
Aku mengangguk pelan, tapi bukan berarti Walter akan menjaga jarak di antara kami. Dia masih berada di posisi serupa, sampai-sampai dengan terpaksa harus kukatakan, "Walter, bisa kau menjauh? Ini akan mengundang kesalahpahaman jika seseorang melihat kita."
Dasar pikiran kolot dan tingkat kepercayaan tinggi, tanpa manfaat.
"Kau pikir aku akan menciummu?" tanya Walter yang sudah jelas ia pasti tahu jawabannya. Aku mengangguk dan dia kembali bicara, "Sebenarnya itu bukan masalah besar karena kau pacarku sejak kemarin."
"Hanya pacar pura-pura dengan beberapa syarat dan ketentuan." Sesegera mungkin kuperbaiki definisi pacar pura-pura yang kami sepakati beberapa hari lalu, sebagai bayaran tumpangan gartisnya hingga aku berhasil sampai dengan selamat di rumah Paman Arya. "Kau tidak lupa dengan ilmu pengetahuan mengenai nilai-nilai sosial orang timur, bukan?"
Mengangguk sambil mengedikkan bahu, Walter menunjuk ke belakang menggunakan ibu jarinya. "Yeah, itu bualanku sebagai pengalaman karena memiliki tetangga sekaligus teman dari berbagai Negara. Jadi, mau ikut denganku ke suatu tempat? Aku yakin kau akan menyukainya dan ...." Walter menjeda ucapannya, demi memangkas kembali jarak di antara kami. Ia menunduk dengan posisi kedua tangan saling menjabat di balik punggung. "Anggap saja ini sebagai pemanasan sebelum kau menjalani peranmu yang sesungguhnya nanti malam," ujar Walter kemudian menarik tanganku tanpa permisi, membawa ke lantai dua hingga aku sampai di kamar lelaki itu.
Oke, aku bisa melihat jendela kamarku dari sini.
... dan dia mengunci pintu, hingga pikiran ketimuranku melahirkan sikap waspada kemudian melakukan perhitungan secara otomatis, seperti cara terbaik kabur dari sini jika hal paling buruk terjadi.
"Welcome to my laboratorium." Suara Walter sukses mengejutkanku hingga membuatnya sadar dan itu justru menjadi hal lucu karena di waktu bersamaan ia tertawa, sambil menepuk pundakku. "Relax Kirana, I won't do anything weird without your permission," ujar Walter, "don't worry, I'm a professional."
"Well, itu hanya gerakan refleks. Jadi jangan terlalu percaya diri, Tuan Fred." Melangkah menuju jendela yang bersebelahan dengan jendela kamarku, kuletakkan kedua tangan di atas kusen lalu mengedarkan pandangan ke sekitar perumahan. Dari balik punggung, suara pintu terbuka terdengar jelas seiring dengan permintaan Walter agar aku mempertahankan posisi karena ia ingin mengganti celananya.
Very strange. Akal sehatku seketika berkomentar begitu pedasnya, sampai menggiringku secara paksa untuk memikirkan tentang mengapa dan bagaimana aku bisa berakhir di kamar orang asing. Memang kami tidak melakukan apa pun, tapi selama dua puluh lima tahun hidup di dunia hal seperti ini merupakan sesuatu yang baru bagiku dan juga adalah bentuk kepercayaan tingkat tinggi, di mana jika dibiarkan bisa membahayakan diri sendiri.
Sehingga, diam-diam kuedarkan kembali pandangan ke sekeliling kamar Walter, meski bukan sejauh delapan puluh derajat seperti kelinci karena manusia hanya mempunyai sudut pandang tak lebih dari seratus dua puluh derajat, tanpa memiliki titik utama. Dari sebelah kiri samping jendela, Walter meletakkan gitar akustik dengan posisi bersandar kemudian di sebelah buffet yang tidak menempel pada sudut dinding, lelaki itu menyembunyikan tongkat baseball, kemudian di sebelah kanan aku berdiri terdapat dua papan skateboard serta tumpukan pakaian kotor. Melihat hal tersebut, secara sepihak aku pun menyimpulkan bahwa Walter bukanlah jenis pembersih.
... mungkin ceroboh karena sekarang ia sibuk bertanya pada diri sendiri mengenai di mana ia menaruh kunci mobilnya.
Aku membalikkan tubuh, saat pertama masuk ruang ini dan melakukan pemindaian cepat sebagai bentuk refleksi otak, penilaianku tidak pernah salah. Walter memang bukan sosok yang sangat rapi. Kasur cukup berantakan, terlalu banyak pakaian menggantung dan tergeletak di lantai, serta terlalu banyak pernak-pernik berbau baseball di setiap sudut. Melihat keadaan tersebut, rasa ingin geleng-geleng kepala merajaiku. Namun, tidak akan kulakukan karena Walter hanya tetangga asing dengan segala urusan yang bukan menjadi keperluanku sehingga hanya karena kami sama-sama manusia, aku memutuskan untuk membantu Walter, sebelum ia menjadi gila.
Hanya dengan sekali menjelajah dan aku menemukan benda yang dicari Walter, menyatu dengan jajaran sunglasess di meja belajar bertemakan Iron Man. Jujur saja, jika diizinkan, rasanya ingin tertawa karena dari sudut ini, kecintaan Walter terhadap sosok Iron Man terlihat jelas. Terlalu banyak pernak-pernik berbau superhero tersebut sehingga kupikir ia mungkin membutuhkan tempat baru untuk meletakkan mereka agar tidak memenuhi ruangan.
"Aku menemukan yang kau cari sekarang. Jadi berterima kasihlah lalu biarkan aku kembali ke rumah karena aku belum mengatakan apa-apa mengenai ajakanmu barusan," kataku, sambil melempar kunci mobil ke arah Walter. "Tangkapan yang bagus dan jangan terlalu percaya diri, Walter." Senyum ringan kuarahkan padanya, sambil memutar kenop pintu, membukanya serta bergegas keluar dari kamar Walter.
Namun, memang kepala batu. Walter tetap melangkah di belakangku setelah mengatakan ke mana dan dengan siapa ia akan pergi bersama Greg sambil mengabaikan aksi protesku yang memang tidak dilakukan secara heboh.
"Kau yakin masih tidak ingin ikut, Miss?" Walter membukakan pintu mobil untukku yang kebetulan sudah sangat siap digunakan. "Kukatakan bahwa kau pasti akan menyukainya karena itu adalah tempat favoritku untuk menenangkan diri."
"Kupikir kau adalah lelaki yang tidak membutuhkan itu."
Walter mendecak. "Yeah, semua orang pasti membutuhkan situasi itu dengan mengabaikan seberapa b******k dan jahatnya mereka."
"Bagaimana kau bisa berpikir bahwa aku akan menyukainya? Alasan yang kau gunakan sebenarnya terlalu mendasar dan semua orang memiliki penilaian masing-masing dengan banyak perbedaan."
"Apa kau selalu seperti ini?" Kedua alis Walter menyatu. Sinar matahari yang berada di sisi kanan kami membuat rambut cokelatnya berkilau sekaligus memberikan kesan seksi karena matanya sedikit menyipit.
"Bukan hal buruk. Hanya berhati-hati sebelum memutuskan sesuatu." Tanpa sadar aku tersenyum karena melihat kekesalan tersirah di mimik Walter.
Well, so sorry, Walter. Sifatku yang satu ini memang terkenal sering membuat orang lain kesal, tapi selama bertanya itu gratis mengapa tidak digunakan secara maksimal?
"No idea, Kirana. Just follow me and if you don't like it, I will—"
"Traktir aku makanan yang menurutmu sangat lezat di California," selaku sambil memberikan symbol peace dan menghasilkan senyum lebar di wajah Walter.
"Anything for you," kata Walter kemudian menutup pintu mobil dan berlari kecil menuju jok kemudi.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan ketika aku meminta Walter untuk mentraktir makanan lezat di California. Aku hanya berpikir bahwa tempat publik adalah pilhan terbaik di saat pergi bersama orang asing. Sehingga sesampainya kami di tempat favorit Walter, aku bisa langsung menunjukkan ketidaksukaanku dan menggiringnya untuk segera pergi demi menghindari hal-hal berbahaya seperti pemerkosaan, jika demon-demon menguasai pikiran Walter.
Namun, di lain sisi, sebenarnya aku tidak yakin Walter akan seperti demikian karena jika ia se-b******k itu pastilah nama Kirana sudah berada di surat kabar lokal serta situs berita di internet dengan judul seorang WNI diperkosa saat tersesat di California.
Jadi untuk kesekian kalinya, aku pun mencoba untuk memercayai Walter. Terutama ketika mobil yang dikendarai Walter mulai memasuki wilayah dengan jajaran pepohonan di sisi kiri kanannya dan keputusan Walter menuntunku untuk masuk ke dalam hutan.
Memang tidak terlalu rindang dan lebat seperti hutan-hutan tropis di Indonesia, tapi keheningan serta suara khas hutan telah menyambut indra pendengaranku dengan sangat baik.
"I'm sure you will like it, Kirana."