"Kirana, would you be my girlfriend?" Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku dalam beberapa menit, setelah Walter mengatakannya dengan sangat lugas, tanpa keraguan. Speechless? Tentu saja. Ketertarikan yang lahir akibat terbiasa, aku tidak pernah mengharapkan hal ini akan terjadi. Bahkan dalam mimpi sekali pun, meski perasaanku sudah mengungkapkan kebenarannya selama seminggu terakhir tanpa Walter. Walter masih menggenggam kedua tanganku saat aku tengah kehilangan kata-kata lalu entah apa yang sedang merasukinya, lelaki itu tiba-tiba saja memperlihatkan bahasa tubuh ingin berlutut di hadapanku. Namun, segera diurungkan karena aku terlebih dahulu menarik kedua tanganku dari genggamannya. Mencoba secepat mungkin untuk menjauh. Melakukan hal seperti demikian sangatlah tidak aman, s

