Walter bergerak maju, mendorong secara tiba-tiba hingga tubuhku membentur dinding kamar nomor satu, bersebelahan dengan tangga menuju lantai satu. Beberapa orang yang lalu-lalang atau sekadar nongkrong di sekitar kami pun, jadi terabaikan akibat sikap mendadak Walter. Bahkan sebelum sempat memikirkan tindakan Walter selanjutnya, ia terlebih dahulu mengangkat kedua tanganku, dan menahan tubuhku agar tetap berhimpitan dengan dinding menggunakan pinggulnya. Tangan Walter yang satunya pun turut menangkup rahangku, membawa wajahku ke atas di mana ia bisa dengan mudah mengeksplor bibir serta leherku. Aku membuka mulut mengerang pelan penuh nafsu dan Walter, mengambil keuntungan tersebut secara seutuhnya. Lidah Walter menjelajahi mulutku dengan begitu piawai, hingga melahirkan sebuah fantasi li

