Lempar batu sembunyi tangan. Seharusnya kulemparkan pribahasa tersebut kepada Walter--si lelaki yang tidak tahu bagaimana cara bertanggung jawab--atau lebih baik, sekalian saja kutularkan virus human influenza ini agar dia bisa berhenti membuat keributan dengan musik paling menyakitkan telinga. Sejak pukul tiga dini hari, setelah ketangkap basah pulang larut malam oleh Tante Lidya dalam keadaan--yang juga basah--di saat itulah selepas membersihkan diri, malapetaka pun tiba di mana penyakit flu menyerang hingga aku tidak memiliki jeda untuk berhenti bersin dengan bonus cairan kental terus-menerus menyumbat saluran pernapasanku. Sial! Kencan (jika memang seperti itu penyebutannya) yang Walter bilang akan membuatku terkesan, ternyata malah berakhir dengan flu b******k ini. Dengan kesal,

