Divtia b*****t! Baru saja memasuki alam tidur dan dia malah menyiramku dengan segayung air, sambil berteriak memintaku agar segera bangun. "Bangun Pemalas! Kalau terus-terusan tidur kamu bakalan kami tinggal!" Divtia masih saja berteriak meski sejak dari tadi aku sudah terbangun dan hanya mengambil waktu sejenak untuk duduk, mengumpulkan nyawa, dan berpikir. Ya, berpikir tentang mimpi aneh semalam. Semakin berpikir bahwa rasa itu terlalu nyata. Kemudian sederet kalimat itu seketika terlintas di kepalaku. "Oh, s**t!" Adegan membuka mata paling cepat sedunia pun terjadi kemudian disusul dengan berlari terburu-buru, menuju jendela yang bersebrangan dengan kamar Walter. "Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan? Ini salah paham. Serius!" Aku menutup bibir dengan kedua tangan. Namun, jendela it

