"I choose truth," kataku tegas sebelum Harry kembali mengulang pertanyaannya dan pada saat itu pula, indra pendengaranku pun menangkap suara helaan napas panjang, serta gumaman penuh rasa kecewa. "You are a looser." Ken yang duduk di sofa depan kami, bersandar di bahu Harry, sambil meminum minumannya lalu menunjuk ke arahku. "Sungguh, truth adalah pilihan paling tidak menarik dalam permainan ini." Oh, benarkah? Diam adalah pilihan terbaik, daripada banyak bicara dalam situasi ini. Seperti memancing di laut, kupikir mereka berdua mengincarku sebagai ikan termahal dan terlezat, sehingga butuh kerja keras agar aku bersedia mengunyah umpan mereka. Sayangnya, aku bukan ikan dan tidak akan termakan umpan mereka. Sebelah alisku terangkat, sambil menatap Harry dan Ken dengan tatapan menantang

