"Hi, butuh bantuan?" Aku menoleh di saat perhatianku hanya terpusat pada jajaran daging beku--salah satu barang yang harus kubeli dari selembar kertas panjang milik Tante Lidya--di jajaran rak es supermarket. "Kupikir akan lebih baik berdua, daripada sendirian." Si manusia tak tahu diri itu ternyata diam-diam telah mengikutiku. Entah dia sama kepala batunya dengan Walter atau sudah tidak memiliki rasa malu karena sudah diabaikan berulang kali. Aku mendengkus, memalingkan pandangan secepat mungkin--masih terlalu malas menatap wajah putih mulus milik Divtia--kembali memandangi tumpukan daging beku. Ini adalah ketiga harinya, aku mengabaikan Divtia sejak pengakuan paling tidak manusiawinya di kamarku dan juga menjadi ketiga hari untuk Divtia dalam hal, membujukku agar memaafkannya. Namun,

