Greg datang dengan bertumpuk-tumpuk kotak pizza di tangannya yang entah milik siapa. Aku pun tidak ingat pernah memesannya. Namun, karena terlanjur kaget sampai kehilangan kata-kata, aku hanya membiarkan Greg memasuki kamarku dengan usaha yang cukup sulit akibat pandangan nyaris tertutupi oleh tumpukan kotak pizza di depan mata. Aku mengikuti Greg dari arah belakang. Masih belum bersuara, hingga suara Paman Arya menyambut kami dari shower room. "Kau sudah memesan sesuai yang kukatakan?" tanya Paman Arya sembari membantu Greg meletakkan kotak-kotak pizza tersebut di atas meja dan sofa single di mana ketika kuhitung, ternyata memiliki jumlah cukup banyak untuk sekadar mengadakan pesta pizza. Ya, pesta pizza jika Paman Arya sengaja merencanakan hal tersebut tanpa sepengetahuanku setelah a

