Sesaat keterkejutan berhasil menghisap seluruh nyawa dari dalam tubuh, bahkan paru-paruku pun seakan kehilangan fungsi untuk memasok oksigen. Bagaimana tidak, di balik koran yang terbuka nyaris sempurna itu, aku bisa melihat Paman Arya duduk di single sofa samping jendela kaca berukuran super besar, dengan salah satu kaki tertumpu di atas pahanya. Aku tidak tahu alasan mengapa Paman Arya bisa berada di kamarku, tidak tahu bagaimana ia bisa berada di sini yang seharusnya itu adalah Greg, dan tidak tahu juga ke mana Greg pergi. Padahal selagi aku membersihkan diri di shower room, dialah--maksudku Greg--yang bertugas sebagai asisten pribadi jika salah satu dari mereka di Pasific Park menghubungi kami. Berdeham pelan, aku meletakkan handuk di atas kepalaku yang basah selepas keramas kemudia

