Komitmen

1297 Kata
Faz mendesah pelan dan buru-buru memalingkan tatapannya dari sosok pelanggan rental yang hari itu sudah menyewa semua komputer sampai nanti rental tutup. Total ada dua belas komputer dengan masing-masing komputer disewa selama enam jam dibayar lunas di depan. Siapa pelanggan kurang kerjaan yang sudah menyewa seluruh komputer tanpa menggunakannya sama sekali? Ya, dia adalah Irva. Saat mengantar Faz ke rental sepulang mereka dari cafe, Irva tidak langsung pulang. Cowok itu membayar mahal pada tukang parkir di sebuah minimarket tak jauh dari rental tempat Faz bekerja untuk menjaga mobilnya, sementara ia berjalan kaki kembali ke rental. Sesuai rencana Irva, teman lawan shift kerja Faz masih ada di sana dan dia melakukan transaksi persewaan dengan teman Faz itu. Tentu saja Faz tidak bisa menolak karena tugasnya hanya menjaga rental dan melayani pelanggan. Di sini posisi Irva sebagai pelanggan yang tentunya harus dirinya layani dengan baik, meski hal itu membuatnya kesal. Cowok itu sengaja membuat dirinya tak berkutik dan terus terpaksa memenuhi setiap keinginannya. Mengambilkan minuman botol dari pendingin, makanan ringan dari meja kasir, dan mengeprint berlembar-lembar lirik lagu tentang cinta. Faz baru bisa menghirup napas lega ketika akhirnya Irva keluar dari rental tanpa mengatakan apa pun. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding di belakang kursinya sembari merenungi semua sikap Irva yang menurutnya mulai berlebihan. Dia seolah tidak pernah memberi kesempatan pada Faz untuk menjauh. Entahlah, mungkin sebetulnya ia sendiri yang tidak mau menjaga jarak dengan cowok itu. Bahkan ketika mengingat ciuman di cafe tadi, ia pun tidak berusaha menolak dan mendorong Irva agar menjauh. Namun, jika diingat lagi memang saat itu pikirannya seakan berhenti berfungsi, seluruh tubuhnya kaku dan tak bisa digerakkan seperti terkena hipnotis. "Sudah hampir adzan." Faz membuka mata dan terkesiap melihat Irva sudah berdiri di depan meja kasir sambil mengulurkan segelas minuman kepadanya. "Ini jus semangka." Irva menjelaskan. "Aku baca-baca katanya semangka bagus untuk mengawali buka puasa." Faz menerima jus itu tanpa menatap Irva langsung. "Makasih," ujarnya singkat. Ia setengah berharap cowok itu akan kembali ke komputernya dan bermain Solitaire di sana, tapi nyatanya dia malah menyeret sebuah kursi dan duduk di hadapannya. "Kamu mau apa?" Faz bertanya panik ketika melihat Irva duduk dengan santai sambil terus menatapnya. "Menemani pacarku berbuka," jawab Irva santai. "Kita tidak pacaran, Irva!" Faz terkejut mendengar pengakuan sepihak itu. Irva bersandar dengan nyaman di kursinya sambil melipat kedua lengannya di depan dadanya. "Faktanya kita sudah berciuman, kencan dan macam-macam lagi." Faz mendesah pelan kemudian menjatuhkan kepalanya ke atas meja. "Itu ... Bukan berarti kita pacaran," lirihnya. Irva tertawa hambar. "Zaman sekarang untuk jadian tidak perlu lagi pernyataan semacam 'maukah kau jadi pacarku?' atau 'aku suka kamu, kamu suka aku juga nggak?'" "Irva—" "Faz! Berhentilah membohongi dirimu sendiri. Aku tau, kau memiliki perasaan yang dalam padaku, jika tidak, kau pasti sudah menolak saat kucium tadi." Faz terdiam cukup lama. Ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Irva yang terus membuatnya tak berdaya. "Kamu membuatku tidak nyaman, Irva." Irva mendengus keras. "Itu karena kau terus menyangkal perasaanmu. Coba kau bebaskan saja dirimu dan nikmati kebahagiaan yang seharusnya bisa kau rasakan!" Faz menegakkan badannya kembali dan menatap Irva dengan ekspresi lelah. "Tidak bisakah kita murni bersahabat?" "Tidak!" Irva menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Kau sudah membiarkan aku menciummu. Itu artinya kau setuju untuk jadi kekasihku dan satu hal yang perlu kau tahu, aku bukan tipe cowok yang suka tebar pesona di mana-mana. Ketika aku menyukai seseorang, aku akan mengejarnya sampai dapat dan aku menyukaimu." "Jangan," ucap Faz lemah karena sesungguhnya dalam hatinya berbunga-bunga mendengar Irva begitu menyukainya. Sekali lagi Irva menggeleng. "Aku akan berhenti mengejarmu ketika kau menunjukkan tanda bahwa kau benar-benar tidak menginginkan aku lagi. Dan jika sampai hal itu terjadi, kupastikan bahwa aku akan benar-benar menghilang dari hadapanmu. Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah lagi melihatku muncul di hadapanmu lagi." Faz tergugu di tempat. Ucapan Irva tiba-tiba saja membuatnya begitu terluka dan bersedih. Padahal dirinya tahu bahwa kemungkinan itu yang memang harus terjadi demi kebaikan mereka berdua, tapi tetap saja berat sekali rasanya membayangkan Irva tidak akan pernah ada lagi di hidupnya. Lalu pilihan apalagi yang mereka punya? Faz berkedip beberapa kali untuk menghalau air matanya yang siap tumpah, tapi ia tetap tidak mengatakan apa pun sebagai jawaban. Hatinya diliputi kegalauan. Di satu sisi dirinya ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Irva, tapi di sisi lain dirinya belum siap untuk membiarkan cowok itu pergi dan tidak pernah melihatnya lagi. Jika saja Irva adalah seorang muslim, Faz tidak akan ragu untuk meminta cowok itu untuk menikahinya detik ini juga, tapi faktanya perbedaan di antara mereka tidak semudah itu untuk disatukan. Irva memperhatikan kesedihan yang terpampang nyata di wajah Faz. Sepertinya masalah ini benar-benar menguras pikiran Faz hingga gadis itu tidak sadar bahwa adzan Maghrib sudah berkumandang. Irva mengambil sedotan dari dalam kresek jus, menusuk plastik penutup gelas jus kemudian mengarahkan sedotan itu ke mulut Faz. "Sudah adzan." Faz hampir melompat dari kursinya karena terkejut. Ia memundurkan wajah untuk melihat apa yang menyentuh bibirnya. Ternyata sedotan jus. Tangannya terulur untuk mengambil alih gelas jus itu dari tangan Irva, tapi cowok itu menggeleng sambil tersenyum miring sebagai isyarat bahwa dia yang akan memegang gelas itu sementara dirinya minum. Ia pun membuka mulut dan mulai meneguk jus itu membuat Irva tersenyum puas melihatnya. "Habiskan nggak papa. Nanti kubelikan lagi." Faz menggeleng dan berkata jika itu sudah cukup untuknya. Ia pun membuka bungkusan makanan yang tadi dibawa dari cafe. Puding karamel dalam mangkuk plastik berukuran sedang ditambah sushi udang. Sebelum mulai makan, ia menawarkan terlebih dahulu pada Irva untuk makan bersama, tapi cowok itu tergelak dan menolak tawarannya. "Porsi kecil begitu mau makan bersama," ujar Irva sambil tergelak. "Menurutku ini sudah kebanyakan." Faz tak mau kalah. Irva mengusap puncak kepala Faz. "Kau harus makan yang banyak. Aku tidak mau orang-orang mengira kalau aku tidak memberi makan yang cukup untuk pacarku." Faz berhenti mengunyah. Ia membuka mulut untuk membantah ucapan cowok itu, tapi kemudian menutupnya kembali ketika melihat bahwa Irva pun sudah siap berargumen dengannya. "Tidak bisakah kita murni bersahabat?" "Tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan." Irva mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi geli. "Kau pasti sudah dengar soal itu kan?" "Sudah, tapi kupikir kita bisa membuat pengecualian itu. Kita bisa merubah anggapan orang tentang persahabatan yang bisa terjalin dengan baik antara laki-laki dan perempuan." "Seorang sahabat tidak seharusnya tahu rasa bibir sahabatnya sendiri." Ucapan Irva sukses membuat mulut Faz menganga lebar. Kemudian ingatan akan ciuman di cafe tadi kembali muncul dalam pikirannya, membuat wajahnya memerah dan dirinya menjadi salah tingkah di hadapan Irva. "Sudah, makan saja dulu. Nanti kita bahas lagi soal ini." Irva merebut sumpit dari tangan Faz kemudian mengambil sebuah sushi dan menyodorkannya ke mulut gadis itu. "Aku bisa makan sendiri," ujar Faz dengan muka merah padam. "Jangan gitu dong, Hani." Irva sengaja memanggil Faz dengan sebutan honey. Awalnya hanya berniat menggoda Faz saja, tapi ketika ia rasakan lagi, sepertinya panggilan itu cocok untuk gadisnya. "Biar romantis kayak pasangan-pasangan di luar sana. Aku suapin aja ya, Hani." "Honey?" Faz menatap Irva dengan ekspresi ngeri. "Kamu kan pacar aku." "Irva, sepertinya kita harus meluruskan hal itu sekarang juga." Faz memberanikan diri untuk bicara karena dirinya tidak mau cowok itu terus salah mengartikan hubungan mereka. "Tidak perlu. Sekalipun bibirmu berkata tidak, tapi selama respon tubuhmu masih menerimaku dengan baik, aku tidak akan pergi." "Aku tidak—" "Kau mau aku pergi sekarang juga? Kau sudah siap untuk tidak pernah berjumpa denganku lagi?" Faz membuka dan menutup mulutnya beberapa kali, bingung harus menjawab bagaimana. Seharusnya ini menjadi kesempatan untuknya agar bisa terbebas dari Irva, tapi nyatanya ia tak bisa mengatakan hal itu dengan mudah karena hatinya masih menginginkan kehadiran Irva di sisinya. "Lihat kan? Kau tidak bisa langsung menjawab. Itu artinya kau tidak bisa jauh dariku." Irva tersenyum penuh kemenangan. "Kau pacarku. Jangan lagi menyangkal hal itu." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN