Faz terkejut ketika seorang pegawai cafe datang ke mejanya dan meminta agar dirinya pindah meja. Ia pun mengikuti pegawai itu ke meja baru karena itu adalah pesan yang disampaikan oleh Irva melalui pegawai itu. Saat dirinya baru saja duduk di meja yang cukup strategis karena tepat berhadapan dengan panggung hiburan di cafe itu, matanya menangkap bayangan Irva yang duduk di balik piano di sudut panggung. Tadi dirinya tidak melihat sosok itu karena terhalang oleh piano.
Irva mengedipkan sebelah matanya sambil mengenyir lebar ketika Faz terpaku di tempatnya sambil menatap ke arah piano itu, tepatnya ke arah jari jemari Irva yang mulai menekan tuts-tuts piano itu. Ohh, Faz tidak pernah tahu jika ternyata Irva bisa bermain piano. Ia hanya tahu cowok itu jago bermain gitar, bahkan seringkali memenangkan festival musik dan mengharumkan nama sekolah mereka.
When the visions around you
Bring tears to your eyes
And all that surrounds you
Are secrets and lies
I'll be your strength
I'll give you hope
Keeping your faith when it's gone
The one you should call
Was standing there all along
Faz meresapi lirik yang Irva nyanyikan dengan perasaan campur aduk. Ia merasakan betul bahwa lagu itu sengaja Irva nyanyikan untuknya karena tatapan cowok itu saat bernyanyi, sama sekali tak pernah lepas dari dirinya.
And I will take you in my arms
And hold you right where you belong
'Til the day my life is through
This I promise you
This I promise you
"Dia pacarmu?"
Faz menoleh terkejut ketika tiba-tiba saja seorang laki-laki dengan postur tinggi gagah berwajah tampan datang menghampiri mejanya. Laki-laki tidak duduk di mejanya. Hanya berdiri dengan tangan dilipat di depan d**a, sementara tatapannya terus tertuju ke arah panggung.
"Bu-bukan," jawab Faz terbata yang mengundang tawa geli dari pria yang menjulang di sebelahnya ini. Tawa pria itu semakin keras ketika melihat Irva menghentikan permainannya dan bergegas turun dari panggung untuk menghampiri mereka.
Irva berdiri dengan postur kaku di depan sang pemilik cafe. Ohh, dirinya tidak peduli sekalipun ia membutuhkan pekerjaan ini, tapi jika pemilik cafe ini tertarik pada Faz, dirinya akan pergi saat ini juga dan melupakan lowongan ini. Masih banyak cafe lain yang mungkin saja mau memberinya kesempatan. Namun, bukannya memahami arti tatapan mengancamnya, pemilik cafe itu malah tergelak semakin keras.
"Cukup bagus," ujarnya sambil mengangguk beberapa kali. "Hanya saja, ketika tujuanmu adalah menghibur banyak orang, pandanganmu tidak boleh hanya fokus pada satu titik. Kau harus membagi senyummu pada audiens dan pengunjung yang ada di cafe ini."
"Saya tau!" Irva menjawab kethus.
Sang pemilik cafe masih tersenyum lebar. "Apa ini kekasih yang kau ceritakan tadi?"
Irva menggeram tidak jelas sebagai jawaban. Ia menarik Faz dan menyembunyikan gadis itu di belakang punggungnya. Posturnya kaku sambil meneliti sang pemilik cafe dari atas sampai bawah. Tinggi, gagah dan atletis, tapi Irva tidak akan gentar jika harus melawannya. Dirinya tidak akan membiarkan Faz digoda oleh playboy seperti Aaro. Meski kalah tampan, tapi Irva yakin dengan ketulusan cinta yang ia miliki untuk Faz, bukan sekedar main-main seperti yang biasa dilakukan para playboy.
"Saya batal mengisi lowongan itu," ujar Irva dingin kemudian menoleh ke belakang pundaknya dan mengatakan pada Faz bahwa sebaiknya mereka pergi mencari tempat makan lain. Namun, suaranya tertelan oleh keributan yang terjadi tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Perhatian Irva pun teralihkan pada seorang pelanggan cafe yang rupanya kurang hati-hati hingga jatuh tersungkur menabrak deretan kursi dan meja aluminium di samping pintu masuk. Gadis itu masih berpakaian putih biru yang artinya dia masih duduk di bangku SMP, sementara di belakangnya menyusul seorang pemuda berseragam putih abu-abu yang terlihat pasrah melihat gadis itu tertelungkup di atas tumpukan meja dan kursi yang roboh.
"Aku kan sudah bilang, pelan-pelan!" Cowok berpakaian putih abu-abu itu—mungkin pacarnya atau kakaknya—memarahi sang gadis. Dia meletakkan tangan di bawah ketika si gadis kemudian mengangkat gadis itu dari atas tumpukan meja dan kursi yang berantakan setelah diterjang olehnya. "Kau tak apa-apa?"
Gadis itu hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala kemudian kembali berlari kecil melintasi cafe dan menghampiri Irva dan Faz. "Ayaaaaah!" Teriak gadis itu membuat Irva membelalak terkejut. Siapa yang dipanggil ayah?
Irva semakin membulatkan matanya ketika melihat gadis itu menerjang pemilik cafe yang sudah merentangkan tangan untuk memeluk si gadis.
"Aara, Ayah sudah bilang berkali-kali, jangan suka lari-lari seperti anak kecil. Sebentar lagi kau mau masuk SMA, Sayang. Bukan anak kecil lagi." Pemilik cafe itu menciumi wajah si gadis kemudian menoleh ke arah pemuda yang menyusul di belakang si gadis, "dia menyusahkanmu lagi, Lee?"
"Sama sekali tidak, Om."
"Aara, sudah hati-hati, kok, tapi kesandung." Gadis itu menggelayut manja di lengan si pemilik cafe, sementara pemuda berseragam abu-abu putih itu melirik ke arah kaki si gadis. Dia terdengar mendesah pelan sebelum membungkuk untuk membetulkan tali sepatu gadis itu yang lepas.
"Ya sudah, kalian tunggu di dalam dulu. Ayah sedang ada interview dengan calon pegawai baru." Si pemilik cafe mencium puncak kepala putrinya kemudian mengangguk ke arah pemuda yang dipanggil Lee tadi agar mengawal putrinya untuk masuk ke dalam.
Sementara Irva masih menatap kepergian putri pemilik cafe itu dengan tatapan tidak percaya, sang pemilik cafe tergelak sembari mengatakan bahwa itu memang putrinya. "Berapa umur Anda?" Irva tahu pertanyaannya tidak sopan, tapi dirinya tidak bisa menahan diri. Gadis itu memakai baju SMP dan sepertinya ini tahun terakhirnya di SMP karena tadi pemilik cafe bilang dia sebentar lagi masuk SMA itu artinya usia gadis itu kisaran empat atau lima belas tahun.
"Menurutmu berapa?"
"Anda tidak terlihat sudah berusia di atas kepala empat."
Si pemilik cafe lun tergelak semakin keras. "Tidak. Tentu saja aku belum setua itu. Ohh, jangan terlalu resmi. Santi saja."
"Tapi dia putri kandung?" Irva bertanya sambil menggeleng samar. Kemudian, ia menepuk dahinya dengan keras ketika tiba-tiba saja teringat dengan artikel Din internet yang ia baca beberapa waktu lalu saat dirinya sedang mencari referensi tentang menikah muda beda agama. "Jadi, Anda adalah Aaro Blackstone yang tersohor itu? Yang menikah muda?"
"Tersohor?" Pemilik cafe itu berpura-pura terkejut. "Tidak. Sama sekali tidak. Tapi, benar aku menikah saat usiaku masih tujuh belas tahun."
Irva menatap Aaro takjub. Tidak banyak anak muda yang berani mengambil keputusan besar untuk menikah muda apalagi bisa terus berkembang dan sukses.
Sementara itu, Faz mengintip dari balik punggung Irva untuk melihat sosok yang berani menikah muda itu. Ia tersenyum simpul membayangkan dirinya juga menikah muda dengan cowok yang ia sukai nantinya, tapi ....
"Apa yang mendorong Anda mengambil keputusan besar itu?" Irva masih penasaran tentang kehidupan pernikahan Aaro. "Maaf, tapi apakah sekolah masih tetap lanjut setelah menikah?"
Si pemilik cafe tidak menjawab karena saat itu pintu cafe yang memiliki alarm otomatis berbunyi. Seorang wanita dengan wajah khas timur tengah yang kekanakan masuk dengan baju basah kuyup seperti kucing disiram air.
"Cinta!" Sang pemilik cafe bergegas menghampiri wanita itu.
"Suamiku, aku terpeleset dan jatuh ke kolam ikan di depan. Sepertinya ikan-ikan itu sekarang pada mati atau mungkin pingsan."
Irva melebarkan matanya mendengar wanita itu memanggil sang pemilik cafe dengan panggilan suamiku. Apa itu artinya dia adalah istri dari Aaro? Tapi kelihatannya masih seperti anak SMP begitu tingkahnya. Sebelas dua belas dengan putrinya tadi.
"Kau tidak apa-apa?" Sang pemilik cafe terlihat khawatir alih-alih marah. "Mana yang sakit?"
Wanita itu menggeleng sambil meringis. "Dingin."
Tanpa banyak kata lagi, owner cafe langsung menggendong sang istri dan membawanya masuk ke dalam. Saat melewati Irva dan Faz, dia menoleh dan berkata, "kau diterima jika memang masih menginginkan pekerjaan itu. Nanti kita bahas lagi masalah kontrak kerja dan gaji. Sekarang ini aku masih harus memastikan istriku baik-baik saja."
"Baik," jawab Irva setengah linglung. Fazluna bahkan terlihat lebih dewasa dibanding istri owner cafe ini. Dirinya jadi penasaran berapa usia wanita itu saat ini dan berapa usianya ketika menikah dulu?
Setelah sang pemilik cafe menghilang, Irva mengajak Faz untuk kembali duduk di meja mereka. Ia menceritakan pada Faz tentang interview singkatnya tadi dengan owner cafe ini langsung.
"Owner-nya baik dan masih muda, ya?"
"Aku juga terkejut mengetahui itu. Kupikir seperti apa pemilik cafe legendaris ini. Pasti sudah berumur. Karena kata Papa, cafe ini sudah ada sejak papa masih SMA dan terus berkembang sampai sekarang."
"Hmm, mungkin owner tadi anaknya atau memang cafe ini telah berpindah tangan?"
"Entahlah." Irva mengangkat kedua bahunya. "Yang penting aku sudah dapat kerja," ujarnya sambil tersenyum cerah.
Tak lama berselang, pesanan mereka segelas cappucino, sebotol air mineral, omelet, roti bakar dan steak sudah diantar ke meja. Faz tidak terkejut dengan porsi makan Irva yang banyak. Ia hanya tersenyum sambil sesekali mengambil tisu untuk mengusap pipi Irva yang belepotan ketika makan. Kemudian, dirinya teringat akan surat yang dititipkan padanya.
"Ohh, aku ada titipan buat kamu."
Irva mendongak dari steak-nya. "Titipan apa?" Dahinya mengerut melihat amplop berwarna merah jambu yang di letakkan Faz di atas meja. "Apa ini?"
"Buka aja dulu."
"Nggak mau." Irva menggeleng acuh. "Kembaliin aja sama yang nitip."
Faz akhirnya percaya bahwa Irva memang menolak surat-surat yang diberikan padanya. "Tinggal dibaca aja, kan nggak masalah."
"Nggak," jawab Irva tegas. "Justru itu akan jadi masalah ketika dibaca."
"Kok bisa?"
"Yah." Irva meletakkan garpu dan pisaunya, meneguk air mineral kemudian menatap Faz tajam. "Apa pun isinya, aku tidak mau membuat siapa pun berharap banyak padaku."
"Tidak juga," Faz tidak setuju. "Siapa tahu mereka hanya murni ingin menyampaikan kekagumannya saja padamu tanpa meminta balasan."
"Awalnya pasti seperti itu, tapi lama-lama bisa makin parah. Aku tidak terlalu suka digilai terlalu berlebihan. Jika mau berteman ya berteman biasa saja, jangan ada asmara."
Faz menatap amplop merah jambu itu dengan tatapan sendu. Dirinya teringat pada Olin yang menaruh harapan besar padanya. "Apa sikap seperti itu tidak akan menyakiti banyak orang?"
"Mungkin, tapi demi kebaikan mereka juga. Setidaknya mereka tidak lagi menaruh harapan terlalu tinggi padaku."
Faz menahan tawa melihat rasa percaya diri Irva yang tinggi. "Bagaimana jika ternyata itu surat ancaman atau ungkapan kebencian?"
"Baguslah aku tidak baca, biar mereka putus asa dengan apa pun rencana busuknya."
Faz menyentuh lengan Irva dengan lembut. "Setidaknya baca saja dulu, siapa tahu ada hal penting yang benar-benar ingin mereka sampaikan padamu."
"Penting ya ngomong langsung, ngapain pake surat segala. Sekarang sudah nggak zaman lagi surat-suratan. Sudah ada email, medsos, DM dan macem-macem lagi."
Faz tersenyum geli melihat Irva bersungut-sungut. "Karena surat terkesan lebih bermakna, Irva. Bisa jadi mereka menulis itu dengan luapan perasaan yang tidak dapat ditahan lagi. Kalau aku yang menulis surat, apa juga akan kamu kembalikan padaku?"
"Tentu saja tidak!" Irva menjawab cepat. "Kau berbeda dengan mereka."
"Di mana letak perbedaannya? Kami sama-sama manusia yang punya perasaan."
Irva mengulurkan kedua tangannya untuk menangkup wajah Faz. "Karena hatiku sudah jadi milikmu. Apa pun yang kau beri, pasti akan aku terima. Tapi mereka berbeda, aku tidak bisa menerima surat atau pernyataan apa pun karena tidak ingin melukai perasaan mereka dan membuat mereka berharap. Kau lihat kasus dengan Reis kemarin? Itu terjadi karena dia terlalu berharap. Dan itu salahku."
Faz terpaku menatap Irva tanpa bisa bergerak. Jemari Irva yang menempel di pipinya seakan menyalurkan energi listrik ke seluruh tubuhnya. Tidak menyakitkan hanya membuatnya mendambakan cowok itu melebihi batasan yang seharusnya ia lakukan. Bahkan ketika Irva memajukan badan untuk memutus jarak di antara mereka, ia masih tetap di tempat dan tidak berusaha menghindar.
Irva tidak tahan lagi melihat bibir Faz yang merekah sedikit terbuka. Napas gadis itu yang menggelitik wajahnya benar-benar membuat akal sehatnya mati. Pertahanan yang selama ini ia bangun pun roboh dan ia melanggar janjinya pada Faz. Tidak! Tidak sepenuhnya melanggar. Beberapa senti dari bibir Faz ia berhenti, memberi kesempatan pada gadis itu untuk menghindar. Namun, ketika Faz hanya diam dan terus menatap wajahnya bingung, ia akhirnya memutus jarak itu dengan menempelkan bibirnya di bibir Faz.
Irva bisa mendengar dan merasakan Faz terkesiap dan tubuhnya menegang, tapi gadis itu tidak menolak. Bahkan ketika tangannya berpindah ke bagian kepala Faz, menarik gadis itu agar semakin mendekat, gadis itu masih tidak menolak. Irva pun memperdalam ciumannya. Ia lupa jika saat ini dirinya sedang berada di tempat umum.
Faz merasa tubuhnya seakan melayang. Ia tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi. Matanya terpejam rapat, sementara kedua tangannya berpegangan erat pada lengan Irva. Dirinya sedang berusaha untuk mencerna keadaan yang membingungkan ini ketika tiba-tiba saja alarm di pintu cafe berbunyi.
Akhirnya Faz sadar jika saat ini mereka sedang berada di cafe. Meski sepi pengunjung, tapi tetap saja ini tempat umum. Matanya berkaca-kaca saat menatap Irva. Ia mengumpulkan kembali kesadarannya sebelum meraih tasnya di kursi samping kemudian berbicara, "sebaiknya aku—"
"Aku antar!" tegas Irva. "Tidak ada pulang sendiri. Aku sudah memberimu kesempatan untuk menghindar dan kau tidak menolak."
Faz menunduk sambil menggigit bibir bawahnya yang masih terasa hangat karena ciuman Irva. Ia terus beristighfar dalam hati setelah menyadari apa yang baru saja ia perbuat bersama Irva.
"Biarkan aku membayar pesanan ini dulu," ujar Irva sambil bangkit berdiri. "Jangan coba-coba menghindar atau kabur!"
***