Lowongan

1586 Kata
Faz menunggu kelas sepi sebelum bangkit dari tempat duduknya karena begitu bel pulang berdering, teman-teman yang berada satu kelas dengannya langsung berhamburan ke arah pintu setelah mengumpulkan lembar ujian mereka. Faz sendiri memilih untuk menunggu semua sudah berlalu sebelum akhirnya bangkit dan mengumpulkan lembar ujiannya pada pengawas yang menjaga kelasnya. Baru saja kakinya hendak melangkah keluar ketika sebuah suara perempuan memanggilnya. Ia pun menoleh dan terkejut ketika melihat salah seorang teman sekelasnya—yang ia hanya tahu namanya, tapi tidak pernah saling kenal atau bahkan untuk sekedar bertegur sapa—memanggilnya dari sebuah bangku di dekat pintu. "Ya?" Faz bertanya bingung. Olin—teman Faz yang memanggil tadi—menunggu sampai pengawas di kelas mereka keluar sebelum menghampiri Faz sambil tersenyum. "Aku ingin minta tolong padamu, boleh?" Faz mengangguk sambil tersenyum ramah. "Tentu saja, selama aku bisa." Oling mengeluarkan sebuah amplop berwarna merah muda dari dalam tasnya. Ia menyerahkan amplop itu pada Faz dan meminta tolong agar Faz mau membantu untuk meneruskan surat itu pada Irva. "Kenapa tidak kamu berikan sendiri?" Faz bertanya bingung. "Aku yakin saat ini Irva sedang menuggu di luar. Apa perlu aku panggilkan?" "Tidak. Jangan!" Olin panik. "Irva tidak akan mau menerimanya. Banyak cewek-cewek di sekolah ini yang sudah pernah memberikan surat serupa untuk Irva, tapi dia menolak dan mengembalikan surat itu sambil tersenyum sopan." Dahi Faz mengerut tidak percaya. "Irva tidak mungkin begitu. Dia baik banget, kok." Oling tersenyum kecut. Dirinya juga tahu jika Irva memang baik dan manis, tapi itu hanya pada orang-orang tertentu saja. Meski di panggung cowok itu terlihat begitu ramah senyum dan bersahabat, tapi tetap saja sulit untuk bisa dekat dengan Irva, apalagi dalam hubungan asmara. Rata-rata hanya teman dan perlakuan Irva pun hanya sebatas teman. "Itulah makanya aku minta tolong kamu. Aku tahu kamu pacarnya, tapi aku cuma ingin dia tahu aja, kok, kalau aku suka sama dia. Karena bentar lagi kita lulus, aku nggak mau ada penyesalan. Jadi, apa pun hasilnya nanti, yang penting aku sudah mencoba." Sebetulnya Faz ingin membantah anggapan bahwa dirinya pacar Irva, tapi akhirnya ia memilih diam karena dirinya pernah berjanji pada Irva untuk membiarkan saja orang-orang menganggapnya begitu demi kebaikan Faz. "Ya udah nanti aku sampein ke Irva, ya." "Makasih banyak ya," ujar Olin kemudian berlari cepat ke luar kelas di mana Irva sudah beberapa kali mengintip ke dalam, melihat kenapa Faz tidak juga keluar. "Ada apa?" Irva masuk ke dalam untuk menjemput gadis pujaannya. "Nggak ada apa-apa, kok." Faz tersenyum cerah. Ia memutuskan untuk menunda memberikan surat itu sekarang. Mungkin nanti ketika suasana hati Irva sudah terlihat lebih baik karena saat ini cowok itu terlihat badmood. "Kami kenapa?" "Lapar," jawab Irva singkat kemudian duduk di salah satu meja, mengabaikan omelan Faz yang memintanya untuk pindah duduk di kursi saja. "Maunya makan, tapi kamunya lagi puasa. Mana enak makan sendiri." Faz melongo. "Perasaan tadi di kantin kamu udah makan mie ayam dua porsi." Irva mengangkat dua bahunya sebagai jawaban. Ia sedang malas berbicara karena ada hal yang terus menganggu pikirannya. Bahkan ketika mengerjakan soal ujiannya tadi pun, pikirannya terpecah ke mana-mana. Sebagian besar tentang Faz. Saat istirahat di kantin tadi, Faz sempat menyampaikan rencana setelah lulus SMA. Gadis itu tidak akan melanjutkan kuliah meski nilai-nilainya bagus. Dia ingin mendaftar untuk bekerja di luar negeri sebagai baby sitter. Irva tentu saja langsung menyampaikan keberatannya. Ia memberikan banyak sekali contoh tenaga kerja dari Indonesia yang mendapat perlakuan buruk di luar negeri sana, tapi Faz hanya tertawa dan tidak lagi melanjutkan pembahasan itu. Memang kesannya seolah-olah Faz menerima pendapat Irva tanpa membantah sedikit lun, tapi itulah poinnya. Irva menjadi was-was jika ternyata Faz merencanakan hal itu secara diam-diam dan tidak memberitahu dirinya. Ohh, ia tak bisa membayangkan jika tiba-tiba saja gadis itu harus pergi dari hidupnya. "Aku temenin makannya. Kamu mau makan di mana?" Faz tertawa melihat Irva cemberut seperti anak kecil. Ini pertama kalinya ia melihat Irva ngambek. "Atau kamu makan di tempat, aku dibungkus untuk berbuka di tempat kerja nanti?" "Ide bagus." Irva langsung melompat dari atas meja dan menarik pergelangan tangan Faz. "Aku sedang malam jalan-jalan di taman. Jadi, kita ke Lacky Cafe saja. Di sana bisa dibungkus juga." Faz pun tidak menolak. Ia tahu Irva sedang dalam suasana hati yang buruk. Jadi sebisa mungkin dirinya tidak memperparah keadaan itu. Dirinya juga tidak mencoba untuk memancing percakapan kecuali Irva yang lebih dulu berbicara. "Aku akan mulai mencari kerja paruh waktu," ujar Irva memecah kesunyian. "Sambil kuliah, aku akan bekerja." "Kerja apa? Sudah ada lowongan ya?" "Hmm," jawab Irva pelan. "Ini kita sedang menuju ke sana. Aku melihat lowongan ini beberapa waktu lalu ketika kita datang ke sana." "Aku pernah ke sana?" Faz memiringkan kepalanya untuk mengingat tempat-tempat yang pernah ia datangi bersama Faz. "Kapan itu?" "Liat aja nanti. Bentar lagi juga sampai." Faz hanya mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa lagi karena sepertinya Irva pun tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu. Ekspresi cowok itu pun terlihat tegang dan gelisah. Jadi, dirinya akan menunggu sampai Irva lebih tenang dan mau berbicara lagi tentang hal ini. Sementara itu, jantung Irva bergedup kencang. Rencana ini tiba-tiba saja muncul di kepalanya saat menjemput Faz di kelasnya tadi. Dirinya tidak bisa melarang Faz untuk bekerja mencari kehidupan yang lebih baik, tapi jika dirinya bisa membantu gadis itu untuk memenuhi kebutuhan serta impiannya, mungkin Faz mau berubah pikiran. Irva menghentikan mobilnya di pelataran parkir The Lacky Cafe, sebuah cafe legendaris di kotanya. Selain karena tempatnya yang nyaman, juga karena harganya ramah di kantong terutama bagi kaum pelajar dan mahasiswa. Bahkan, terkadang owner dari cafe itu memberikan voucher makan gratis pada hari dan jam tertentu. Irva mengepalkan tangannya yang gemetar agar menjadi sedikit lebih tenang. Ia tidak menggandeng tangan Faz seperti biasa ketika masuk ke dalam cafe karena ia tidak mau Faz merasakan kegugupannya. Hari ini dirinya ingin menemui manager cafe dan menanyakan tentang lowongan yang beberapa waktu lalu dipasang di pintu masuk cafe, yaitu lowongan sebagai pengisi panggung hiburan di cafe ini. Memang dirinya tidak mempunyai band, tapi dirinya bisa bermain gitar, piano sekaligus bernyanyi. Irva membawa Faz duduk di salah satu meja yang dekat dengan kasir dan ruangan yang bertuliskan office. Begitu seorang pemuda berpakaian serba hitam dengan celemek coklat tua serta pena dan buku tulis di tangan datang menghampiri mejanya dan Faz, ia pun langsung bertanya apa manager cafe ada di tempat. "Maaf, ada perlu apa?" "Soal lowongan yang ditempel di pintu itu." Irva menunjuk ke arah pintu masuk cafe di mana lowongan itu masih tertempel di sana. "Ohh, kebetulan owner cafe juga sedang ada di tempat." "Waah, jangan langsung owner." Nyali Irva tiba-tiba menciut mendengar kata owner. "Managernya ada dulu." "Owner-nya baik, kok." Pemuda itu tertawa melihat kegugupan Irva. Ia mencatat pesanan Irva dan juga Faz yang dibungkus kemudian berlalu meninggalkan meja Irva dan Faz. Tak lama kemudian ia pun kembali dan berkata bahwa owner cafe sedang menunggu Irva di ruangannya. "Sial." Irva mengumpat pelan. "Kan tadi aku bilangnya ama manager aja." "Aku pernah ada di posisi kamu. Udah, buruan!" Pemuda itu mengantar Irva ke ruangan yang ada di belakang ruang office. "Nggak udah diketuk, langsung aja masuk karena Lo udah ditungguin." Irva berdecak kesal melihat seringai pemuda itu, tapi sudah kepalang tanggung, mau tak mau dirinya harus menemui owner cafe ini. Semua demi Faz. Irva ingin memberikan masa depan yang baik untuk Faz agar gadis itu membatalkan rencananya untuk bekerja jauh dari kota ini dan jauh dari jangkauannya. Modal nekad, Irva membuka pintu itu dan masuk ke dalam. Mulutnya sedikit menganga melihat bahwa owner cafe ini masih begitu muda. "Maaf," ujarnya untuk mengawali pembicaraan agar tidak canggung, tapi rupanya itu tidak perlu karena sesuai dengan apa yang waiters tadi sampaikan bahwa owner cafe ini baik hati. "Ohh, kau yang berniat melamar pekerjaan sebagai pengisi panggung hiburan di cafe ini, ya?" Sang owner cafe berdiri dari tempat duduk dan berjalan menghampiri Irva. Tangannya terulur untuk menyalami Irva. "Aku Aaro, pemilik cafe ini. Kau?" "Irva," jawab Irva kaku. "Santai saja." Sang owner tertawa sambil menunjuk sofa, sementara dirinya sendiri duduk di sofa terdekat. "Jadi, gimana?" Irva duduk dengan punggung tegak kaku karena gugup. Namun, ketika bayangan wajah Faz merasuki pikirannya, tiba-tiba saja rasa percaya dirinya muncul. Ia menjelaskan niatnya untuk mengisi lowongan sebagai pengisi panggung hiburan di cafe ini. Tak lupa, ia juga menjelaskan bahwa saat ini statusnya masih seorang pelajar SMA dan dirinya belum membawa surat lamaran resmi. Sang owner cafe menyimak penjelasan Irva dengan tenang. Tidak ada wajah mengintimidasi sama sekali. Melihat dari penampilan Irva, ia tahu bahwa pemuda di hadapannya ini bukanlah orang yang benar-benar kekurangan dan butuh pekerjaan. Jam tangan Irva bermerk meski bukan yang mahal, sepatu Irva juga masih kelas menengah ke atas. "Apa alasanmu untuk mengisi lowongan ini dan sebutkan beberapa alasan mengapa kami harus menerimamu di sini." Irva memilih menjawab dengan jujur karena sang owner pasti sudah bisa menilai bahwa dirinya bukan orang yang sedang kesusahan. Jadi, ia pun menjelaskan perihal hubungannya dengan Faz, perbedaan mereka dan masalah yang sedang ia hadapi. Ia membutuhkan pekerjaan ini untuk mempertahankan gadis itu agar tetap berada dalam jangkauannya. Ia ingin menghidupi gadis itu dengan tangannya sendiri. Awalnya Irva mengira bahwa dirinya akan ditolak mentah-mentah mengingat alasan yang ia sampaikan sangatlah drama, tapi tidak disangka justru owner itu tertawa terbahak kemudian berkata bahwa dia ingin melihat dulu ketrampilannya bermain alat musik dan bernyanyi. Ia diminta untuk unjuk kebolehan saat ini juga sebagai tes. "Kau siap?" Irva pun mengangguk mantap. "Siap." Hatinya gembira luar biasa. Ia berharap semoga Faz melihat apa yang sedang ia perjuangkan untuk mereka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN