Ngambek

1358 Kata
Adzan subuh sudah berkumandang ketika Faz baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Ia pun bergegas menunaikan sholat subuh. Dalam sujud-nya ia berdoa semoga ujiannya berjalan dengan lancar tanpa ada kesulitan sedikit pun. Hari ini sampai satu Minggu ke depan adalah hari pelaksanaan ujian nasional untuk menentukan kelulusan. Pastinya hal ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu karena dirinya ingin bisa lekas mengakhiri pendidikannya agar bisa mencari kerja full time. Faz berharap semoga dirinya bisa lekas mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih memadai agar bisa membenahi beberapa bagian rumahnya yang sudah rusak juga membayar utang-utangnya. Setelah sholat dan melakukan dzikir pagi, Faz membaca lagi materi pelajaran yang akan diujikan hari ini untuk memanfaatkan sedikit waktu sambil menunggu Irva datang menjemput. Ketika akhirnya ia mendengar suara ketukan di pintu depan, jantungnya berdebar seketika. Padahal masih mendengar suara ketukan di pintu saja, belum sampai bertatap muka. Faz menutup bukunya, memasukkan ke dalam tas dan bergegas berlari ke depan untuk membuka pintu. Napasnya berhenti selama beberapa detik ketika matanya menerpa sosok jangkung yang berdiri di depannya. Tidak ada kata yang sanggup ia ucapkan karena lidah dan seluruh tubuhnya selalu sulit diajak kerja sama setiap kali ada Irva di dekatnya. "Hai, cantik." Irva tersenyum sambil melebarkan tangan untuk memeluk Faz. Namun wajahnya berubah cemberut ketika gadis itu malah mundur beberapa langkah. "Aku puasa." Faz mengatupkan tangan di depan d**a sebagai permohonan maaf. Irva menurunkan lengannya kembali sambil bertanya, apa memang ini sudah bulannya puasa? Faz menggeleng. Ia mengunci pintu rumahnya sambil menjawab bahwa dirinya sedang melakukan puasa senin-kamis yang merupakan puasa Sunnah dalam ajaran agamanya. "Tidak wajib, kan?" Irva bertanya bingung. "Lalu, kenapa kau lakukan itu? Apa karena tidak ada makanan di rumahmu? Ikan semalam rasanya masih cukup untuk sarapan kayaknya." Faz tertawa mendengar rentetan pertanyaan Irva. Akhirnya, selama dalam perjalanan ke sekolah ia pun menjelaskan bahwa ikan dari danau kemarin, sudah ia makan saat sahur tadi dan dirinya berpuasa bukan karena tidak ada makanan, tapi karena hari ini ujian jadi dirinya berharap dengan puasanya kali ini, Tuhan bisa memberikan kemudahan. "Ohh, gitu." Irva mengangguk meski sebetulnya belum sepenuhnya paham dengan penjelasan Faz. "Berarti nggak bisa deket-deket dong ini nanti?" Faz tertawa renyah melihat wajah cemberut Irva. "Memang seharusnya nggak boleh. Kamu aja yang suka nyosor tiba-tiba tanpa peringatan." "Tapi kamu suka, kan?" Irva bertanya sok cuek. Padahal matanya melirik Faz melalui spion depan dan ia pun tertawa dalam hati melihat wajah gadis itu merah padam karena malu. "Jangan dilakukan lagi," ujarnya lirih. "Apanya?" Irva pura-pura bodoh. "Ya tiba-tiba meluk, nyium atau yang lain." Wajah Faz berubah serius. "Orang akan menilai aku—" "Tidak akan ada yang menilai buruk tentangmu." Irva memotong ucapan Faz. "Jika, satu kata saja aku mendengar hal buruk tentangmu, aku yang akan maju. Kau tak usah khawtirkan apa pun." Hati Faz berbunga-bunga mendengar perkataan Irva. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan ledakan rasa bahagia yang luar biasa ketika mengetahui bahwa cowok itu begitu peduli padanya sampai pada titik yang tidak pernah ia duga sama sekali. Bukan hanya peduli, Irva begitu menjaganya dan hal inilah yang membuat dirinya merasa begitu berarti saat bersama Irva. Sampai di sekolah, Irva dan Faz tidak langsung ke kelas mereka. Karena hari ini ujian, jadi akan ada pengaturan berbeda dari tempat duduk dan juga kelas sesuai dengan nomor urut ujian. Mereka berdua ternyata berada di kelas yang berbeda. Faz mendapatkan kursi di Laboratorium Kimia, sementara Irva di kelas sebelas. Meski letak kedua ruangan itu tidak terlalu jauh, tapi tetap saja hal itu membuat Irva kecewa dan mendadak badmood. "Kan deket aja." Faz tertawa melihat Irva merajuk seperti anak kecil. "Tetap saja beda kelas. Padahal kau semangatku untuk mengerjakan ujian." "Halah, mulai nge-gombal lagi, deh." Faz menepuk lengan Irva, tapi ternyata cowok benar-benar menjadi badmood hingga tak merespon tawanya. Tiba-tiba saja Faz menjadi panik membayangkan jika Irva ternyata tidak mengerjakan ujiannya dan hanya berdiam diri di kelas sambil mencorat-coret kertas ujiannya. Ohh, ia tahu itu konyol, tapi siapa tahu Irva nekat melakukan itu. Otaknya berpikir keras untuk membuat cowok itu kembali ceria dan bersemangat seperti biasa. "Hmm, nanti kan pulangnya tidak terlalu siang ya, gimana kalau kita jalan-jalan dulu sambil nunggu jam masuk kerja?" "Jalan-jalan ke mana?" Irva bertanya sambil duduk di lantai dengan punggung bersandar di dinding Laboratorium Kimia. Faz memutar otaknya agar bisa dengan cepat memberikan jawaban. Ia tidak bisa mengusulkan cafe karena dirinya sedang berpuasa, tapi dirinya juga tidak bisa jauh-jauh dari tempat kerjanya agar tidak terlambat. "Ke taman kota atau alun-alun?" "Males, ahh." Irva menjawab lesu. "Yang sepi aja, biar bisa berdua." Tiba-tiba saja Irva terbayang lagi dengan mimpinya semalam yang begitu menggoda untuk ia coba. Bukan sekedar hubungan biologisnya, tapi kelanjutan hubungannya dengan Faz. Jika dipikir secara logika memang hal itu akan menyatukan mereka, tapi Irva begitu takut jika Faz benar-benar akan membencinya karena memilih cara hina untuk terus bersama. Lagipula, dirinya tidak akan pernah tega untuk memaksakan kehendaknya pada gadis itu. Faz butuh untuk dilindungi bukan dinodai. Irva bangkit berdiri kemudian memegang kedua lengan Faz. "Gimana kalau ke toko buku? Aku butuh membeli beberapa buku untuk latihan ujian masuk universitas." "Boleh." Faz tersenyum lega melihat Irva sudah kembali seperti biasa. "Tapi janji ya, ngerjain ujiannya yang bener." Irva tergelak sambil mencubit hidung Faz gemas. Gadisnya ini terlalu lugu hingga percaya saja jika dirinya tidak akan semangat mengerjakan ujian. Padahal itu hanya sikap isengnya saja untuk melihat reaksi Faz. Hasilnya lumayan juga, Faz mau jalan-jalan berdua meski hanya ke toko buku. "Pasti, dong. Aku kan nggak mau mengulang setahun lagi di SMA tanpa ada kamu." "Irva, ihh!" Faz berteriak dengan wajah memerah karena malu. Sebetulnya ia sudah tau jika Irva hanya bercanda, tapi tetap itu itu membuatnya merona. "Jangan biasa gombal, deh." "Kamunya juga suka digombalin, kan?" Irva mengedipkan sebelah matanya. "Nah, itu pipinya jadi merah. Berarti suka." "Irva!" Faz mencubit pinggang Irva yang dengan gesit menghindar membuat Faz harus mengejarnya sambil memukulkan buku di tangannya ke punggung cowok itu. "Awas ya, kamu." "Cieee ... Yang suka digombalin. Ngaku aja kalau kamu suka. Malah kamu sendiri yang kadang mancing-mancing minta digodain." Irva menaik-turunkan alisnya dengan gaya jahil yang membuat Faz semakin kesal bercampur malu. Kemudian, ketika gadis itu berhenti mengejarnya, berbalik badan dan berderap masuk ke dalam kelas, ia pun panik dan mengejarnya. "Hei, jangan marah, dong." Irva berhasil menyusul Faz kemudian merangkul pundak gadis itu. "Kan, cuma becanda aja." "Mereka nggak akan berpikiran bahwa itu bercanda, Irva." Faz menunjuk ke luar kelas yang memang banyak murid-murid bergerombol untuk menunggu bel masuk sambil membaca atau sekedar ngobrol. Ia tidak perlu menjelaskan bagaimana tatapan yang mereka tujukan padanya karena itu sudah terjadi sejak dirinya menginjakkan kaki di sekolah ini. Hanya saja,, kebencian itu seolah semakin menjadi ketika dirinya dekat dengan Irva, salah satu cowok yang banyak diidolakan di sekolah. "Ups," ujar Irva menyadari kesalahannya. Memang tadi dirinya tidak menyadari jika di sekitarnya sedang banyak orang. Maklum saja karena ketika bersama dengan Faz dunia rasanya cuma milik berdua. "Tenang aja, biar aku yang urus." Ia menepuk lengan Faz untuk menenangkan. "Duduk saja di sini, bentar lagi bel masuk. Aku ke kelasku dulu." Faz mengangguk patuh. Dirinya memang berniat menunggu bel masuk di dalam kelas sambil belajar. Irva mengusap kepalanya yang tertutup jilbab sebelum meninggalkan dirinya sendiri saja di dalam kelas. Ia tersenyum sambil melambaikan tangan ketika cowok itu sampai di pintu kelas dan menatapnya dengan pandangan rindu. Halah rindu, padahal baru beberapa detik juga berpisah! Baru saja Faz menundukkan kepala untuk membaca buku yang ia letakkan di atas meja ketika telinganya menangkap teriakan yang memanggil namanya. "FAZLUNA!" Irva memanggil nama Faz begitu dirinya berada di luar kelas, tepatnya di kerumuman cewek-cewek tukang gosip yang suka sekali menggunjing Faz. "I LOVE YOU! Semangat ujian ...." Tingkah konyol Irva tentu saja menarik perhatian murid-murid yang berada di luar. Mereka semua menatapnya dengan ekspresi bermacam-macam. Ada yang takjub, geli dan juga kesal. Irva masa bodoh. Ia tidak peduli pada apa yang mereka pikirkan tentangnya, ia hanya ingin mereka tahu bahwa dirinya mencintai Faz dan bukan Faz yang suka menggoda dirinya. Tangannya memeluk pundak Igor si Bigos di kelasnya. "Woi, titip cewek gue ya!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN