"Masak sih, kau tak punya kontak mereka?"
"Enggak ada, Irva..." Faz tetap menjawab dengan tenang meski Irva terlihat marah alih alih penasaran pada sosok misterius yang sudah melunasi biaya sekolahnya.
Irva mencengkeram kemudinya dengan erat. Wajahnya kaku menatap lurus ke depan. "Menurutmu apa mungkin orangtuamu atau ayah biologis-mu yang mentransfer uang itu?"
Faz tak langsung menjawab. Ia mencoba mengingat kembali sifat dan watak ketiga orangtuanya. Dan sepertinya mustahil mereka melakukan itu. Tapi Faz tak mau membuat Irva semakin kesal hingga akhirnya ia pun memilih menjawab tidak tahu.
Irva menekan klakson berkali-kali saat mobil di depannya tak langsung bergerak meski lampu sudah berubah hijau satu detik yang lalu. Entahlah, seharian ini rasanya emosinya mudah sekali tersulut. Beberapa kali dirinya mencoba menelaah emosinya, apakah itu semua karena Faz tak jadi menerima bantuannya yang berarti Faz juga tidak jadi bekerja padanya?
Bukan, batin Irva menjawab tegas. Sama sekali bukan karena itu. Ia hanya kesal karena dirinya merasa begitu yakin bahwa yang membayar semua biaya sekolah Faz adalah si Brambang dan ia tak bisa mengatakan kecurigaannya itu pada Faz tanpa membuat citra dirinya sendiri buruk di mata gadis itu.
"Irva," Faz memanggil dengan suaranya yang bening dan lembut. Ia bisa melihat wajah Irva yang sepertinya sedang terganggu atau mungkin capek. Jadi, ia memutuskan untuk berangkat ke tempat kerja sendiri saja. "Aku berhenti sini aja nggak papa. Kamu pulang aja terus istirahat."
Irva mengembuskan napas dengan keras kemudian mengusap wajah dengan sebelah tangan sementara tangan yang lain masih tetap di kemudi. "Sorry," ujarnya singkat. "Dari sini belok kiri atau kanan?"
Faz menunjuk arah ke tempat kerjanya dengan jari telunjuk, tapi tetap diam dan terus mengamati perubahan ekspresi di wajah Irva. Meski sudah tidak menunjukkan kekesalannya, tapi Faz tahu Irva masih marah. "Irva..."
"Aku antar, oke?" Irva tak membiarkan Faz melanjutkan ucapannya karena ia tahu gadis itu pasti meminta untuk diturunkan saat ini juga dan berangkat ke tempat kerja sendiri. Sebetulnya memang itu hak Faz, tapi sejujurnya Irva memang penasaran dimana tempat Faz bekerja. Untuk apa? Entahlah... Mungkin untuk menjemputnya saat pulang nanti dan mengantarkan gadis itu pulang.
"Kamu terlihat sedang tidak baik-baik saja." Faz memilih kata yang sekiranya tak akan menyinggung Irva. "Apa aku ada salah?"
"Nggak," jawab Irva singkat. Tapi akhirnya ia sadar bahwa Faz bukanlah sumber kekesalannya jadi sangat tidak adil jika dirinya melampiaskan kekesalannya itu pada Faz. "Oke, aku memang sedang jengkel."
"Boleh tau kenapa?"
"Karena ada yang sudah melunasi biaya sekolahmu, bukan hanya tunggakan yang belum dibayar, tapi lunas semua sampai lulus nanti."
Faz heran, "jadi, kenapa itu membuatmu kesal?"
"Yah..." Irva berhenti sejenak. Ia tak mungkin mengatakan kecurigaannya bahwa yang melakukan semua itu adalah si Brambang, tapi dirinya tetap harus menyampaikan alasan masuk akal agar Faz tidak menganggapnya buruk. "Aku kesal, karena dengan begitu kau tak jadi menerima bantuanku yang itu berarti tak ada lagi yang akan membersihkan kamarku."
Faz tertawa mendengar jawaban Irva. Namun, ia merasa lega karena Irva mau jujur padanya. "Jadi, karena itu?"
Irva nyengir lebar ke arah Faz untuk menutupi kebohongannya. "Kau tahu kondisi kamarku sudah sangat memprihatinkan dan butuh dibereskan dengan segera." Irva menampilkan ekspresi pura-pura ngeri.
"Ya udah, aku bantuin Minggu besok, gimana?"
Irva cukup terkejut mendengar tawaran Faz, tapi tak bisa dipungkiri dirinya senang mendengar itu. Bukan senang karena ada yang membantu, tapi lebih karena dirinya memiliki alasan untuk bertemu gadis itu Minggu nanti. Senyumnya merekah saat bertanya, "serius?"
"Serius, dong."
"Oke, nanti kita catat gajimu tiap jam."
"Ohh... Tidak. Aku tak mau digaji."
"Tapi kan..."
"Aku melakukan ini karena kita sahabat. Apa sahabat harus dibayar saat membantu sahabatnya?"
"Memang tidak, tapi uang itu bisa kau manfaatkan untuk kebutuhanmu yang lain kan?"
"Aku bantuin tanpa ada gaji atau enggak usah sama sekali."
Irva sudah hampir menolak ketika tiba-tiba saja dirinya memikirkan hal lain untuk membayar Faz. "Sepakat," ujarnya sambil tersenyum misterius.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat kerja Faz. Sebuah rental kecil di pinggir jalan raya tepatnya di kawasan kampus-kampus besar yang kebetulan berada di satu kawasan yang sama. Hal itu tentu saja membuat rental komputer itu ramai setiap harinya dan tak pernah sepi.
Faz masuk ke dalam rental dan menyapa teman kerja lawan shift-nya yang bertugas di pagi hari.
"Untung kamu cepet datang, aku ada ujian habis ini. Bisa ngamuk tuh dosen kalau aku telat."
Faz tertawa renyah. "Kebetulan tadi dapat tumpangan, jadi cepet deh."
"Tumpangan dari Cogan ya?" Tantri-- teman kerja Faz terkekeh geli. "Ini ada makalah yang sudah aku print, nanti mau diambil sama yang punya, dia belum bayar."
"Oke."
Tantri mengambil tas di kursi tempatnya duduk menjaga rental kemudian mendekati Faz dan berbisik berbisik sambil mengikik, "tumpangan apa tumpangan?"
Faz membuka mulut untuk menjawab, tapi saat tatapannya mengikuti arah pandang Tantri, ia pun terkejut. "Irva...," ucapnya lirih.
"Jadi namanya Irva?"
Faz tak menjawab temannya dan langsung menghampiri Irva yang ternyata ikut turun dan masuk ke dalam rental. Cowok itu duduk di sebuah kursi yang kebetulan kosong di depan salah satu layar komputer.
"Irva!"
Irva menoleh dengan tawa lebar terpampang di wajahnya. "Hai."
"Kamu ngapain di sini?" Faz setengah menjerit sambil memukul pelan lengan Irva. "Aku nanti dapat masalah loh, ayo buruan kamu pulang deh." Faz setengah memaksa menarik tangan Irva agar segera keluar dari rental.
"Nggak mau." Irva menjawab bandel dengan ekspresi nyengir yang sangat menyebalkan bagi Faz.
"Irva... Beneran deh, kalau kamu duduk di sini, trus nanti ada yang mau pake gimana?"
Irva mengangkat kedua bahunya dengan sikap acuh, tapi dalam hatinya tertawa melihat kepanikan di wajah Faz. Ya Tuhan, gadis itu memang cantik dan menggemaskan, ucap Irva dalam hati.
Tepat saat itu pemilik rental datang dan langsung melihat Faz yang berusaha menarik-narik lengan Irva dari kursi. "Ada masalah, Faz?"
Faz terlonjak dengan mata terbelalak. "Bu Ayu."
Irva berdiri sambil menahan tawa, tapi ia tak ingin Faz mendapat masalah di tempat kerjanya, jadi ia pun mencoba memperbaiki itu. "Begini, Bu, saya mau sewa komputer ini, tapi kata mbaknya sudah ada yang booking."
"Bener itu, Faz?" Bu Ayu menatap Faz curiga.
"Kata mbaknya, yang booking masih keluar beli minum dan nanti kembali." Irva mengambil alih untuk menjawab. Ia menatap gadis itu melongo tak percaya dengan aktingnya. "Padahal saya mau sewa selama beberapa jam ke depan, butuh banget, Bu. Apa saya cari rental lain saja ya?"
"Ohh, tentu saja tidak." Bu Ayu yang mencium bau duit seketika tersenyum ramah pada Irva. "Silahkan dipakai komputernya. Lagipula, di sini tak ada sistem booking. Siapa cepat ya dia yang pakai. Bukan begitu, Faz?" Matanya mendelik ke arah Faz.
"Eh, i-iya, Bu Ayu."
Irva tersenyum simpul kemudian kembali duduk dan menyalakan layar komputer di hadapannya. Sudut matanya menangkap bayangan Faz yang kembali ke meja kerjanya bersama dengan pemilik rental sambil menahan senyum. Sepertinya, sang pemilik sedang menceramahi Faz tentang beberapa peraturan baru di rental itu. Entahlah apa yang ada di pikirannya saat itu, yang jelas saat Faz turun dari mobil dan masuk ke dalam rental sambil mengucapkan terima kasih karena sudah diantar, ia tak tahan untuk tidak ikut turun dan mengekor di belakangnya. Rasanya belum rela saja berpisah begini cepat.
Irva mulai merasa bosan. Selama hampir dua jam ini yang ia lakukan hanya bermain Spider Solitaire dan Minesweeper membuat orang-orang yang sedang sibuk mengetik di kanan kirinya meliriknya heran. Mungkin mereka berpikir dirinya orang gila. Lagipula, mana ada orang datang ke rental komputer hanya untuk bermain game jadul dan ketinggalan zaman itu? Kebanyakan mereka sedang mengerjakan tugas kuliah atau hanya sekedar ngeprint saja.
Tiba-tiba seorang tukang parkir masuk ke dalam dan bertanya mobil siapa yang terparkir di luar rental.
"Punya saya, Pak."
"Waduh, mohon maaf sekali, Mas, bisa tidak mobilnya dipindah ke parkiran kampus sana saja? Di sini jalannya sempit, kasihan motor-motor yang mau lewat dan parkir."
Irva melongok ke luar, dan memang benar, mobilnya membuat tempat parkir rental yang sudah sempit itu tak bisa lagi ditempati oleh motor-motor lain. Jadi, ia pun akhirnya memutuskan untuk pulang saja. "Bentar ya, Pak. Saya bayar dulu."
Irva menghampiri Faz yang sejak tadi tak memedulikan dirinya di meja jaga. "Faz, aku pulang dulu. Tadi berapa sewanya?"
Faz menoleh dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut beberapa senti ke depan membuat Irva makin gemas saja. "Lagian, ngapain sih kamu tadi kayak gitu?"
"Jangan marah dong, aku kan cuma pingin liat aja, kamu kerjanya kayak gimana." Irva menyengir.
"Aku malu sama Bu Ayu dan Mbak Tantri."
"Malu kenapa?"
"Ya, takutnya nanti mereka berpikiran yang bukan-bukan."
"Yaelah, ngapain dipikirin sih. Aku kan datang sebagai pelanggan." Irva mengulurkan selembar uang lima puluh ribuan dan berkata, "sisanya ambil aja."
"Nggak!" Faz menolak mentah-mentah kemudian buru-buru mengambil kembalian Irva dari laci dan meletakkannya di hadapan Irva. "Kalau kembalian ini nggak kamu ambil, aku nggak mau lagi temenan sama kamu."
"Iya deh... Iya..." Irva mengambil kembalian itu kemudian mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi kalah. "Oke, aku balik dulu ya... Nanti aku jemput." Setelah mengatakan itu, Irva langsung meninggalkan Faz yang bengong di tempatnya.
Selama beberapa detik, Faz masih mencerna maksud ucapan Irva. Saat akhirnya tersadar, ia tak sempat lagi mengejar Irva untuk mengatakan bahwa dia tak usah menjemput, karena mobil Irva sudah menghilang dari depan rental. Akhirnya selama sisa jam kerja, Faz menjadi tak tenang.
Dadanya tiba-tiba berdebar hebat saat ada mobil yang bentuk dan warnanya mirip mobil Irva menepi di depan rental. Padahal, mobil itu hanya menepi agar mobil yang berpapasan di depannya bisa lewat dengan mudah. Atau, saat alarm pintu otomatis yang pasti berbunyi ketika ada orang lewat itu berbunyi, Faz buru-buru menoleh dan melihat siapa yang datang dengan jantung yang rasanya sudah salto tak karuan kemudian mendesah lesu saat tahu yang datang bukanlah Irva.
Faz menepuk pipinya sendiri beberapa kali untuk mengembalikan akal sehatnya. Ya Tuhan, ada apa ini, kenapa se-sorean ini dirinya selalu saja terbayang akan sosok Irva?
Jam di layar komputer sudah menunjukkan waktu pukul delapan kurang lima belas menit ketika Faz akhirnya mulai persiapan menutup rental. Ia mengecek lagi semua komputer, printer dan scanner apakah sudah dalam keadaan mati. Ia sudah sudah membuat laporan pemasukan hari itu dan mensinkronkan dengan uang yang ada.
Ketika semua sudah selesai, ia pun memakai jaketnya, membawa tas sekolah di pundak dan menyambar kunci rental. Setelah mematikan semua lampu, ia keluar dari rental dan mengunci pintunya. Dalam perjalanan pulang, dirinya akan terlebih dahulu mengantar kunci itu ke rumah Bu Ayu, kemudian pergi ke warung-warung yang ia titipi kue di pagi harinya untuk mengambil wadah kue.
Faz baru saja berbalik badan setelah memastikan pintu rental sudah terkunci dengan baik saat matanya menangkap sosok Irva. Cowok itu sedang duduk dan bercanda dengan tukang parkir di warung sebelah rental yang memang tempat parkirnya dijadikan satu. Untuk sesaat tadi, Faz yakin sekali dadanya berhenti berdetak.
"Hai." Irva berdiri di hadapan Faz dengan senyum khasnya yang slengean. "Sudah siap pulang?"
"Kau datang?" Faz merasa suaranya terdengar jauh dan serak. Ia berdeham untuk membersihkan tenggorokannya yang terasa berlendir kemudian menatap Irva tak percaya.
"Kan sudah kubilang nanti kujemput." Irva tergelak melihat wajah Faz yang masih terkejut oleh kehadirannya. "Kau terkejut?"
"Seharusnya tak perlu." Faz lega karena suaranya sudah bisa kembali seperti sedia kala. "Tapi jujur aku terkejut. Aku tidak melihat mobilmu."
Irva tertawa lagi. "Aku nggak mau diusir lagi, jadi kali ini aku bawa motor." Tangannya menunjuk Scoopy merah menyala tak jauh darinya. "Pinjam punya Cika."
Faz menggelengkan kepala beberapa kali, masih belum memercayai bahwa Irva benar berada di hadapannya setelah selama beberapa jam ini dirinya gelisah memikirkan Irva. "Tapi aku nggak langsung pulang, Irva... Aku ke rumah Bu Ayu dulu buat balikin kunci rental, kemudian mampir ke beberapa toko untuk ambil tempat kue."
"Nggak masalah." Irva masih saja bersemangat. "Bukankah lebih cepat kalau pakai motor?"
"Tapi, ini udah malam."
"Tepat sekali," Irva kembali ngakak. "Nggak baik, cewek jalan sendirian malam-malam."
"Aku udah biasa, kok." Faz berniat menolak Irva. Bagaimanapun, dirinya tak bisa berboncengan dengan Irva. Sebagai seorang muslimah yang paham mengenai hukum dan syari'at, ia tahu seharusnya dirinya tidak membiarkan kedekatannya bersama Irva terus berlanjut.
Wajah Irva berubah serius. "Aku bawa ransel kosong kok, di sini." Irva menunjuk punggungnya. " Aku tau, kau nggak mungkin mau berdekatan denganku, apalagi berboncengan di motor. Makanya aku pake ransel ini, gapapa, kan?"
Faz menggigit bibir bawahnya menahan sedih. Selalu lebih mudah ketika bersama Irva. Cowok itu, meski memiliki keyakinan berbeda dengannya, tapi seolah selalu bisa mengerti dan memahami aturan-aturan yang tak bisa ia langgar. "Bagaimana bisa kau berpikir sampai ke sana?"
"Kakak iparku seorang muslim yang taat. Tentu saja aku tau." Senyum Irva kembali merekah. Sebelah matanya berkedip genit untuk menggoda Faz. "Ayok."
Faz tahu seharunya dirinya tetap menolak, tapi nyatanya saat ini ia malah mengikuti Irva mendekati motor Cika dan beberapa detik kemudian, setelah memakai helm, dirinya sudah duduk di belakang punggung Irva dengan perasaan campur aduk. Senang dan sedih bercampur jadi satu.
Fas senang karena ia sendiri tak tahu bagaimana cara menjelaskannya, yang pasti kehadiran Irva bisa mengobati kegelisahan di hatinya dan dirinya merasa aman terlindungi. Sementara itu, sisi hatinya yang lain menangis karena tak seharunya dirinya mengikuti hawa nafsunya untuk terus berdekatan dengan Irva. Ia tahu dan paham dosa yang akan ia tanggung karena berdekatan dengan laki-laki bukan mahram.
Faz mengusap air mata yang menetes di pipi sementara Irva bersenandung riang sambil terus melaju menerobos kemacetan jalan raya.
***