Adzan subuh sudah berkumandang saat Faz baru saja terlelap. Seketika matanya terbuka. Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya setelah membaca doa bangun tidur.
Padahal, rasanya baru saja dirinya akhirnya bisa tidur setelah semalaman gelisah dan hanya bergolek-golek saja di atas tempat tidur. Faz terus dihantui oleh bayangan Irva yang menjemputnya ke tempat kerja, mengantar ke beberapa tempat yang harus ia datangi, kemudian mengantarnya pulang setelah sebelumnya mampir ke penjual nasi goreng di pinggir jalan yang ternyata untuk diberikan padanya.
Awalnya, Irva hanya memesan sebungkus nasi goreng yang Faz pikir itu untuk dibawa pulang oleh Irva sendiri, tapi ternyata saat sampai di rumah, Irva menyerahkan bungkusan nasi goreng itu padanya.
"Habisin ya, aku tau kamu belum makan," ujar Irva sambil mengusap dengan lembut kepalanya yang tertutup jilbab.
Saat itu, Faz tak mampu berkata-kata. Kepalanya hanya bisa mengangguk lemah sambil menahan haru. Belum pernah... Ia diperhatikan sampai seperti ini oleh siapapun termasuk orangtuanya sendiri. Hal ini tentu saja membuat Faz yang bisa dibilang haus kasih sayang merasa goyah.
Faz bangun dan duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi lantai di bawahnya. Ini salah! Ia tak boleh terus memupuk perasaannya pada Irva dan apa pun alasannya, ini sangat tidak bisa dibenarkan, tapi bagaimana caranya agar dirinya bisa menolak dan menjauh dari Irva?
Setelah menarik napas panjang dan membuangnya perlahan, Faz pun bangkit untuk mengambil air wudhu kemudian menunaikan kewajiban sholat subuh. Dalam sujud panjang Faz menangis, memohon ampun pada Sang Pencipta dan memohon agar diberikan petunjuk serta kekuatan agar bisa mengatasi perasaannya pada Irva.
Matanya sembab dan terus mengeluarkan air mata. Bayangan Irva yang tertawa dan tersenyum padanya tak bisa hilang dari ingatan. Sekuat apapun mencoba, bayangan itu justru semakin jelas tergambar. Bahkan, suara Irva pun seolah masih bisa terdengar jelas di telinga.
Faz melipat sajadah dan mukenanya dengan linglung. Pikiran terus saja tertuju pada Irva tanpa dirinya mampu untuk mengenyahkan hal itu dari kepalanya. Bahkan saat dirinya mengambil air putih dan tiga butir kurma-- setiap hari untuk menghemat keuangan, Faz hanya sarapan kurma dan air putih-- dari dalam rak penyimpanan di dapur kemudian duduk di ruang tamu dan makan, ia melakukan itu semua tanpa menyadari betul apa yang dilakukan. Hatinya berdebar gelisah oleh rasa yang Faz sendiri tak tahu bagaimana menyebutnya. Rasanya seperti ada dorongan kuat yang seakan memaksa agar dirinya datang ke rumah Irva, bertemu cowok itu dan melihat senyumnya. Saat akal sehatnya menolak dan mengatakan bahwa itu adalah hal bodoh, rasa kecewa yang begitu besar melanda dirinya menjadikan semangatnya yang hanya tersisa sedikit saja pagi itu musnah seketika.
"Irva..." Faz tanpa sadar mengucapkan nama itu. "Aaaa!!!" Faz memukuli kepalanya sendiri yang belum juga bisa membuang pikiran tentang Irva.
Akhirnya, Faz memutuskan untuk mandi saja karena pagi ini dirinya ada jadwal kajian rutin. Dalam hatinya sungguh berharap bahwa kegiatan kajian nanti bisa membuat pikirannya kembali jernih dan tidak lagi diganggu oleh bayangan Irva.
Faz mandi sambil mencuci baju dan menyikat kamar mandi. Kegiatan itu lumayan membuatnya terlupakan sejenak dari bayangan Irva. Namun, saat dirinya berpakaian di kamar dan mulai bersiap-siap untuk berangkat kajian, senyum Irva kembali menyeruak dalam kepalanya membuat dirinya akhirnya menyerah untuk mengusir Irva dari dalam kepala.
Masih pukul tujuh kurang, ketika Faz akhirnya memutuskan untuk berangkat saja. Sebetulnya, kajian dimulai pukul setengah delapan, tapi karena Faz harus berangkat dengan berjalan kaki ke masjid yang letaknya cukup jauh dari rumah, ia harus berangkat lebih awal.
Faz mengambil tas yang berisi kitab dan buku catatan kemudian melangkah cepat ke arah pintu. Ia membuka gerendel di pintu rumahnya yang sudah mulai karatan dan sulit dibuka kemudian memutar anak kunci yang menempel di pintu dan mengambilnya dari lubang kunci.
Saat membuka pintu dan melangkah keluar, seketika langkahnya terhenti dan ia mematung di tempat sambil menahan napas. Irva-- cowok itu sudah berdiri sambil tersenyum menyambutnya di teras.
"Hai," sapa Irva dengan senyum yang sama persis dengan senyum yang menghantui Faz semalaman tadi.
"Kau?" Faz menegang dadanya karena terkejut. Matanya terbelalak lebar saat meneliti Irva dari atas sampai ke bawah. Penampilan Irva bisa dibilang luar biasa keren. Dengan kemeja flanel kotak-kotak berwarna biru kombinasi hijau lengan panjang yang ditekuk sampai siku ditambah celana Blackhawk hijau botol membuat Irva terlihat gagah dan macho. Wajah Faz tiba-tiba terasa panas. Ia pun menunduk untuk menghindari tatapan Irva yang sukses membuat jantungnya berdebar hebat.
"Tadinya, kupikir kau sudah berangkat." Irva masih menampilkan senyum menawannya ke arah Faz.
"Kau sudah lama berdiri di situ?" Faz akhirnya bisa menguasai diri dan bertanya.
"Kira-kira, baru dua puluh menitan."
"Subhanallah... Dan tak terpikir olehmu untuk mengetuk pintu?"
Irva menggelengkan kepala sambil tergelak. "Rasanya kurang sopan bertamu pagi-pagi, jadi aku tunggu saja di sini."
"Untuk apa?" Faz bertanya pelan, tapi tak bisa menyangkal bahwa dirinya merasa begitu senang melihat Irva ada di hadapannya. Kegelisahan yang semalaman ia rasakan akhirnya menemukan jawabannya. Ternyata itu semua terjadi karena dirinya merindukan Irva. Ya Tuhan... Perasaan macam apa ini? batin Faz bertanya-tanya.
"Katamu kau ada kajian pagi ini?"
"Ya, memang. Tapi..."
"Ya sudah, ayo berangkat kalau kau sudah siap." Irva mengamati Faz dari atas sampai bawah. Kerudung lebar warna tosca yang dikenakan Faz membuat warna kulit gadis itu terlihat semakin putih dan cemerlang. Cantik sekali. Selama satu detik, Irva harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangannya agar tetap di tempat. Ohh, rasanya ingin sekali tangan itu terulur untuk membelai pipi merona Fazluna.
"Aku bisa berangkat sendiri, Irva." Faz berkata tenang, tapi tidak setenang hatinya yang berteriak dan protes karena menginginkan untuk berduaan saja bersama Irva. "Lagipula, apa kamu tidak ke tempat ibadahmu?"
"Ya. Sekalian jalan." Irva menyengir lebar.
"Beneran nggak usah, deh."
Senyum Irva lenyap dan wajahnya berubah murung. "Kau malu pada teman-teman kajianmu karena berteman denganku?"
Faz menggeleng cepat, "tentu saja tidak."
"Jadi kenapa?" Irva menatap Faz dengan pandangan terluka yang nyata membuat Faz tak kuasa melihatnya.
Kepala Faz memerintahkan agar Faz berkata yang sejujurnya, bahwa mereka tak bisa lagi berteman, bahwa mereka tak bisa lagi terlalu dekat dan harus menjaga jarak. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Faz tersenyum lembut sambil berkata bahwa dirinya tak ingin terlalu merepotkan Irva.
"Aku sudah datang ke sini dan siap berangkat. Kemarin kau bilang masjidmu di sebelah sana, dan itu satu arah dengan tujuanku." Irva menjelaskan dengan nada berapi-api. "Lagipula, sekalipun tak satu arah, aku akan tetap memaksa untuk mengantarmu," ia menambahkan dengan mantap.
Faz menggigit bibir bawahnya saat berpikir. Sungguh, dirinya tak ingin membuat satu-satunya orang yang sangat peduli dan perhatian padanya merasa kecewa, tapi ia juga tak bisa membiarkan Irva mengantarnya ke tempat kajian, karena ia khawatir akan menimbulkan persepsi yang tidak benar terhadap hubungan mereka.
Namun, saat melihat kembali wajah berharap Irva, Faz tak bisa menolak. Kepalanya mengangguk pelan kemudian membiarkan Irva menarik pergelangan tangannya ke tempat dia memarkir mobilnya di lahan kosong samping rumah.
Faz duduk diam sambil menunggu Irva sendiri masuk ke bangku kemudi setelah membukakan pintu untuknya dan menutupnya kembali. Cowok itu tersenyum lebar ke arahnya sambil menunjuk sebuah kotak makan kecil di atas dashboard.
"Apa ini?"
"Omlet telur. Halal kok, nggak pake babi dan sosisnya juga rasa sapi yang ada tanda halalnya. Aku juga udah bilang ke Mama buat pake wajan baru, bukan bekas masak di rumah yang kadang pake minyak babi."
Sekali lagi Faz dibuat tak berdaya untuk melawan perasaannya pada Irva. "Kamu nggak perlu seperti ini."
"Ck. Apa sih?" Irva berdecak tak sabar. "Aku nggak akan melakukan sesuatu yang aku nggak suka."
"Ya. Tapi mama kamu kan jadi ikutan repot jadinya."
"Nggak juga," Irva menjawab tanpa menoleh ke arah Faz karena ia sedang mengamati jalan raya untuk menyeberang dari gang rumah Faz. "Mama malah nanyain kamu terus, kok. Liat aja, nanti Mama bakal seneng banget liat kamu datang nanti."
"Mama tau aku bakal datang ke sana hari ini?" Faz bertanya sambil menggigit sedikit omletnya. Bahkan dirinya tanpa sadar ikut memanggilnya 'Mama' seperti Irva. "Maa syaa Allah, enak sekali rasanya."
Irva terkekeh geli. "Mama emang pinter banget masak. Nggak ada yang Mama nggak bisa."
"Wah, boleh dong minta diajari?"
"Mama pasti bakal seneng banget, karena Cika sendiri nggak suka masak." Irva tertawa senang membayangkan Faz belajar memasak bersama mamanya.
"Masak sih?"
"Anak itu taunya main terus sama temen-temennya."
Faz tertawa mendengarnya. Meski Irva mengatakan itu seolah-olah Cika adalah adik yang bandel, tapi Faz bisa menangkap nada sayang dalam suara Irva. Beruntung sekali Cika memiliki orangtua dan kakak yang sangat menyayanginya.
"Kenapa diam?"
"Ehh, enggak kok." Faz tersipu karena ketahuan melamun. "Cuma lagi mikir aja."
"Mikir apa?" Irva bertanya sambil mencengkeram kemudi dengan erat karena sejak tadi tangan itu rasanya sudah gatal sekali ingin menyentuh pipi Faz.
Faz tak menjawab, ia melihat kiri kanan jalan untuk mencari tempat berhenti. "Aku berhenti di depan rumah makan Padang itu saja. Masjidnya di seberang, yang warna hijau itu, tapi nanti aku nyeberang sendiri aja."
Irva melihat arah yang ditunjuk Faz kemudian menyalakan lampu sein membuat Faz menjerit pelan.
"Irva, aku bisa nyeberang sendiri kok."
"Dan aku bisa nyebrangin kamu dengan lebih cepat dan aman." Ia menyengir lebar melihat wajah cemberut Faz kemudian menginjak rem tepat di depan masjid persis. Sementara Faz masih merapikan kotak makan sisa makannya dan memasukkannya ke dalam tas, Irva sudah turun terlebih dahulu membukakan pintu untuk Faz.
Mata Faz terbelalak lebar melihat Irva sudah berdiri di samping pintu penumpang yang terbuka. Wajahnya tersenyum lebar membuatnya tak sampai hati untuk marah. Ia melompat turun dengan terburu-buru hingga hilang keseimbangan dan menubruk Irva. "Maaf," ujarnya pelan sambil menarik diri cepat-cepat dari pegangan Irva.
Faz tahu, saat ini dirinya menjadi pusat perhatian. Selain karena cowok yang mengantarnya memakai pakaian yang bisa dibilang kurang cocok untuk kajian juga karena bandul kalung yang menggantung di d**a Irva sudah sangat menjelaskan bahwa Irva bukanlah seorang muslim.
Ia tersenyum pada Irva sambil mengucapkan terima kasih dan berkata bahwa nanti tidak usah dijemput, sepulang Kajian ia akan langsung berangkat ke rumah Irva sendiri saja.
Irva tak menjawab, ia hanya mengulum senyum saat kembali masuk ke kursi kemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan Faz.
Setelah mobil Irva menghilang dari pandangan, Faz melangkah pelan ke arah masjid sebelah kiri yang memang diperuntukkan untuk akhwat atau perempuan, sementara di bagian kanan untuk para ikhwan atau laki-laki.
Faz menyalami teman-teman kajiannya sambil mencari tempat duduk. Kajian belum dimulai jadi ia masih sempat mengobrol bersama beberapa kenalan untuk saling menanyakan kabar.
"Tadi itu siapa, Ukhty?"
Faz sudah menduga pasti akan banyak yang bertanya tentang Irva, apalagi mereka yang sudah tahu tentang dirinya yang hidup sendirian. Dirinya tak mungkin berbohong dan tak mungkin juga menjawab dengan jujur. Jadi ia memilih tersenyum dan menjawab dengan aman saja.
"Teman satu sekolah, Mbak. Dia mau ke tempat ibadahnya, jadi sekalian bareng tadi."
Faz bisa melihat ekspresi tak setuju dari beberapa teman kajiannya. Ia tak bisa menyalahkan mereka, karena memang seharusnya ia tidak membiarkan dirinya sendiri berduaan dengan laki-laki bukan mahram.
"Lain kali, mending berangkat sendiri, Dek." Tegur salah seorang teman. "Khawatir timbul fitnah nanti."
"Iya, Mbak." Faz menunduk tak berani menatap wajah mereka lagi. Ohh, mereka tak akan menghakimi dirinya dan pasti akan dengan senang hati menasehati dan menjelaskan kembali perihal Fiqih Wanita yang kurang ia pahami. Beruntung sekali karena saat itu kajian sudah dimulai sehingga semua sudah sibuk dengan kitab dan catatan masing-masing.
Faz melihat ke sekelilingnya yang semua sibuk menyimak materi kajian dan mencatat hal-hal penting. Sementara dirinya sendiri sejak tadi sulit sekali untuk memfokuskan perhatian pada materi yang disampaikan. Lagi-lagi perasaannya gelisah. Kali ini bukan karena teringat Irva. Ya, memang masih soal Irva, tapi yang membuatnya tak tenang kali ini adalah kekhawatiran bahwa Irva akan menjemputnya nanti sepulang Kajian.
Faz mendesah pelan dan terus berdoa dalam hati semoga Irva tidak datang menjemput kemari nanti. Sekali lagi dirinya dilanda kesedihan yang luar biasa. Ia tak bisa menolak kehadiran Irva, sebagian dari dirinya merasa begitu senang dengan semua perhatian yang Irva berikan, tapi jika mereka terus memaksa bersama meski hanya sebagai sahabat, akan banyak sekali aturan-aturan yang mereka langgar.
Dan saat kajian selesai, Faz melihat mobil Irva sudah terparkir di luar masjid. Ia tak langsung keluar dan memilih untuk melakukan sholat Dhuha terlebih dahulu. Selain untuk menunggu semua sudah pulang terlebih dahulu, juga karena Faz ingin sekali meminta petunjuk dan mengadukan rasa gundah gulananya pada Yang Maha Kuasa.
Setengah jam kemudian, ketika masjid sudah sepi dan Faz sudah selesai dengan doanya, ia melangkah keluar dari dalam masjid dan masih melihat mobil Irva di luar. Sedetik kemudian, pintu kemudi terbuka dan kepala Irva muncul menyambutnya dengan senyum khas yang membuat dadanya selalu berdebar saat melihatnya.
"Sudah selesai?"
Faz mengangguk sambil tersenyum tipis. "Kenapa jemput? Kan tadi aku sudah bilang nggak usah dijemput?"
Irva hanya menjawab dengan tawa renyahnya sambil membuka pintu penumpang. "Ayo, kamarku sudah menunggu untuk dibersihkan."
Mau tak mau Faz pun ikut tertawa dan masuk ke dalam mobil. Meski hatinya terasa perih, ia tetap menampilkan senyumnya untuk Irva. Oke, mungkin belum sekarang, tapi semoga ke depan ia memiliki kesempatan untuk menjelaskan pada Irva bahwa mereka tak mungkin lagi bersahabat. Untuk saat ini, Faz masih ingin membalas semua kebaikan Irva padanya.
***