"Ehh, Faz datang?"
Faz terkejut melihat di dalam rumah Irva ternyata ramai sekali, seperti sedang ada acara kekuarga. Ia menoleh dan menatap Irva sambil mengerutkan dahi, tapi cowok itu hanya nyengir lebar seperti kebiasaannya.
Mama Irva yang semula duduk di karpet sambil bercanda dengan seorang anak kecil kisaran usia satu tahun pun berdiri untuk menyambut Faz. Ia memeluk Faz dan mencium kedua pipinya. "Gimana kabar kamu? Baik?"
"Iya, Tante." Faz tersenyum sambil meminta maaf karena datang di waktu yang tidak tepat karena sepertinya hari ini sedang ada pertemuan keluarga Irva.
Mama Irva tertawa renyah. "Enggak kok. Ini mah biasa, kalau hari Minggu memang semua berkumpul di sini."
Irva melewati Faz dan mamanya untuk mencomot donat gula yang disajikan di atas meja dan menelannya dalam dua kali gigit membuat Faz mendelik melihatnya.
"Irva! Sudah dibilang jangan rakus makannya! Memangnya kamu nggak malu diliatin Faz?" Mama Irva menegur, tapi hanya dibalas gelak tawa Irva.
Mama Irva menarik lengan Faz agar ikut bergabung bersama yang lain di ruang kekuarga. "Ayo sini, Mama kenalin sama yang lain."
Faz tersenyum ke arah Papa Faz yang sudah ia kenal kemudian Cika. "Om, Cika." Beberapa wajah lain pun menatap Faz dengan ramah. Di sudut ruang keluarga, sepertinya sedang menyusui seorang bayi, duduk seorang perempuan yang juga berjilbab yang juga tersenyum hangat ke arahnya.
"Itu namanya Mbak Aisyah, istrinya Mas Irwan, kakaknya Irva."
"Mbak Aisyah," sapa Faz sopan sambil mengangguk samar sebelum duduk di samping Mama Irva.
"Yang lagi makan itu," Mama Irva menunjuk ke arah meja makan, "itu yang namanya Mas Irwan. Anak sulung Mama dan yang di samping Cika itu pacarnya, namanya Devon."
Faz tersenyum mengetahui Cika sudah memiliki pacar padahal masih kelas satu SMA.
"Nanti, kami semua mau datang ke nikahan saudara, Faz ikut ya?" Mama Irva menawarkan dengan antusias.
"Apa?" Faz terkejut dengan ajakan itu dan buru-buru meminta maaf karena merasa sikapnya tidak sopan. "Maksud Faz, itu kan acara keluarga, jadi..."
"Kan Mama yang ngajak. Tenang saja, nggak akan ada masalah." Mama Irva menepuk-nepuk punggung tangan Faz untuk menenangkan.
Merasa tak enak untuk menolak ajakan Mama Irva, Faz pun akhirnya menganggung menyetujui. Matanya melirik Irva yang sedang menggoda seorang anak kecil yang menurut perkiraan Faz adalah anak dari kakak Irva sambil menunjuk ke arahnya.
"Itu... Siapa itu?" Irva menunjuk wajah Faz yang sudah merah karena malu. "Namanya Tante Fazluna... Siapa?" Irva menggendong si mungil itu mendekati Faz. "Tante Faz..."
"Siapa namanya? Lucu sekali?" Faz mengulurkan tangan ragu-ragu untuk menyentuh pipi gembil itu, tapi karena si kecil sepertinya tak keberatan dan justru menatap penasaran padanya, ia pun akhirnya mengusap pelan pipi halus, lembut dan kenyal itu.
"Namanya Yusuf."
"Maa syaa Allah, pantesan cakep banget ini Yusuf." Faz mengulurkan tangan untuk menawarkan gendong pada Yusuf yang ternyata langsung disambut Yusuf dengan antusias. Dia langsung mengangkat tangan mungilnya ke arah Faz. Dan begitu sudah berada dalam gendongan Faz, Yusuf langsung menyandarkan kepalanya di d**a Faz. "Lucu sekali..." Faz tertawa.
Irva mengambil ponselnya di saku dan meminta tolong Cika untuk memotret dirinya dan Faz.
"Faz, sini." Irva mendekat kemudian merangkul pundak Faz yang masih mengendong Yusuf sambil tertawa. "Foto keluarga dulu, dong."
Faz terkejut bukan hanya karena Irva berada terlalu dekat sambil melingkarkan lengan di pundaknya, tapi juga karena lampu blitz yang menyala ke arahnya. "Difoto?"
Irva dan Cika tertawa melihat ekspresi Faz.
"Cantik kok, Kak." Cika berkata sambil melemparkan ponsel kembali pada sang kakak.
Faz tertegun. Tangannya mengusap punggung Yusuf tanpa sadar dengan apa yang ia lakukan. "Irva, hapus ya?"
"Enak aja, aku kan belum ada fotomu satu pun."
"Tapi..."
"Udah, ayuk beresin kamar dulu." Irva mengambil alih Yusuf dari gendongan Faz dan menyerahkannya pada kakaknya sebelum mengajak Faz ke kamarnya.
Sampai di kamar Irva, Faz terbelalak lebar melihat kondisi kamar itu terlihat jauh lebih berantakan dibanding terakhir dirinya datang dan menginap beberapa hari yang lalu. Bukan hanya tempat tidur yang amburadul, segala isi lemari dan rak buku pun isinya seperti habis terkena angin topan.
Faz menoleh dan melihat Irva tertawa lebar melihat ekspresinya. "Katanya mau bantuin?"
"Iya, tapi kenapa begini berantakan?" Faz melangkah masuk perlahan sambil menghindari barang-barang yang berserak di lantai. "Perasaan kemarin nggak separah ini."
Irva menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir. Ia berusaha memasang wajah polosnya agar Faz tidak bisa menebak bahwa dirinya telah sengaja membuat kamar itu lebih berantakan lagi agar gadis itu bisa bertahan lebih lama di kamarnya. Untuk apa? Karena dirinya ingin terus bersama dengan Faz.
"Ini keranjang cucian kotornya mana?" Faz mulai memunguti baju-baju Irva yang berserak di sembarang tempat. Di lantai, di tempat tidur, di gantungan belakang pintu, bahkan di rak buku.
"Ehm, kayaknya masih di tempat jemur baju. Aku ambilin dulu." Irva melesat meninggalkan kamar membiarkan Faz bekerja membereskan kekacauan yang sengaja ia ciptakan di kamarnya.
Sepeninggal Irva, Faz mulai merapikan rak buku yang isinya sudah berserakan di atas meja. Ia menata buku-buku itu mulai dari ukuran yang paling besar hingga paling kecil kemudian mengapitnya dengan besi penyangga agar tetap rapi. Ia juga mengumpulkan pensil dan bolpoin yang berserakan di meja dan mengumpulkannya menjadi satu di sebuah gelas plastik bekas air mineral. Kertas kertas dengan tulisan yang seperti puisi atau lirik lagu juga berserak di meja. Faz merapikan semua lembaran itu dan menjepitnya dengan klip agar tidak kembali berserak.
Selesai dengan rak buku, Faz lanjut dengan lemari baju Irva. Ia melipat kembali baju-baju yang keluar dari barisannya dan menatanya kembali. Ia bekerja dengan cepat dan cekatan hingga saat Irva kembali membawa keranjang cucian kotor, kamar sudah separuh rapi membuat cowok itu tak percaya dengan penglihatannya.
"Ini, keranjang cucian kotornya." Irva berkata dengan takjub. Tahu Faz bisa bekerja secepat ini, sekalian saja ia gulingkan semua isi lemari baju.
Faz menoleh sambil tersenyum kemudian memasukkan pakaian kotor yang sudah ia kumpulkan di tengah ruangan ke dalam keranjang. "Tempat cuci-nya dimana?"
"Di lantai dua sih, emang mau nyuci sekarang?" Irva masih terkejut dengan kerja cepat Faz.
"Sambil direndam dulu sambil lanjut beberes." Faz berbicara sambil mengangkat keranjang cucian kotor itu. "Tunjukin jalannya."
"Oohh... oke." Irva gelagapan karena Faz sudah berdiri di pintu kamarnya sambil membawa keranjang cucian kotornya. "Biar aku aja yang bawa ini." Ia merebut keranjang itu dari Faz dan berjalan mendahului di depan. Melewati ruang keluarga, ia berbelok ke lorong kecil di sebelah kiri dimana terletak tangga yang menuju ke tempat mencuci baju di lantai dua.
"Irva, kenapa malah Faz kamu ajak nyuci sih?!" Teriak Mama Irva dari dapur.
"Belajar, Ma. Biar bisa jadi mantu yang baik." Irva menjawab sambil tergelak.
"Irva, apaan sih?" Faz mencubit pinggang Irva. Ia tahu Irva hanya bercanda, tapi tetap saja hal itu membuatnya malu.
"Hahaha...." Irva masih tertawa sambil meletakkan keranjang di depan mesin cuci. "Nah, di sini nyucinya."
"Bak cuci-nya?" Faz bertanya karena tak melihat ada bak atau ember besar untuk mencuci.
"Kamu mau nyuci manual? Ya ampun, dimasukin sini aja semua, beres." Irva berkata sambil menumpahkan isi keranjang ke dalam mesin cuci kemudian menyalakan kran airnya membuat Faz bengong. "Nanti tinggal kasih detergen, setting waktunya, beres."
"Ada mesin cuci ya padahal, tapi kenapa baju kotor menumpuk di kamar begitu?" Faz mendelik sambil berkacak pinggang.
"Ya, males aja." Irva kembali tergelak.
"Dasar malas." Faz memajukan bibirnya sambil bersedekap membuat tawa Irva berhenti seketika. Cowok itu menatap tepat ke arah matanya membuat tubuhnya terkunci dan tak bisa bergerak sama sekali. Bahkan ketika Irva semakin bergerak maju, ia masih tetap diam di tempat dengan mata mendelik menatap Irva.
Tubuh mereka hampir bersentuhan. Tangan Irva pun sudah semakin dekat ke wajah Faz. Dalam kepala Irva sudah terbayang bahwa dirinya akan mencium gadis di hadapannya ini. Bibir ranum Faz yang mengerucut dan cemberut telah sukses merusak akal sehatnya. Namun, sedetik kemudian Irva berhenti. Ekspresi di wajah Faz mengingatkan Irva pada kejadian di ruang kepala sekolah.
Ya Tuhan! Irva mengutuk dirinya sendiri. Apa yang ada di pikirannya sampai berniat merusak persahabatannya dengan Faz?
Kemudian, untuk menutupi suasana aneh yang sudah terlanjur tercipta, Irva mengangkat tangannya ke arah kening Faz dan menjentik kening itu dengan cukup keras, sengaja agar gadis itu mengaduh kesakitan dan tersadar dari entah pikiran buruk apa yang melintas di kepalanya.
Irva tergelak kemudian berlari menghindar ketika Faz mengejarnya untuk membalas. "Hahaha... Kena deh?!" Ia sengaja meledek Faz untuk meyakinkan gadis itu bahwa sejak awal dirinya hanya berniat jahil saja.
"Irvaaaa!" Faz berteriak sambil memegang dahinya yang terasa panas. Ia mengejar Irva untuk membalas, tapi Irva terus menghindar dan malah terus menggodanya. Menggelitik pinggangnya saat dirinya lengah sambil menjulurkan lidah untuk terus meledeknya.
"Nggak kena... week, nggak kenaaa..." Irva terbahak karena sekali lagi berhasil menghindar dari cubitan Faz.
"Irva, iihh... nyebelin tau!" Faz cemberut. Kemudian matanya menangkap gagang sapu di samping mesin cuci. Dengan senyuman percaya diri, ia meraih sapu itu dan berniat menyodok perut Irva dengannya, tapi sebelum dirinya berhasil mencapai sapu itu, Irva sudah berdiri di depan mesin cuci untuk menghalanginya mengambil sapu.
Karena tak menyangka Irva akan muncul dengan tiba-tiba di hadapannya, Faz terlambat mengerem langkahnya. Alhasil saat ini dirinya menubruk tubuh Irva dengan keras. Tidak sampai membuatnya jatuh, hanya saja saat ini dirinya berakhir di pelukan Irva. Bukan... Bukan dipeluk, Irva hanya menyangga kedua lengannya dengan kuat agar dirinya tak sampai oleng dan jatuh, tapi tetap saja posisi mereka saat ini terlalu dekat dan intim.
Faz dan Irva saling berpandangan dengan ekspresi sama-sama terkejut hingga tak ada satu pun dari mereka yang berusaha untuk memisahkan diri. Faz masih tetap bersandar pada d**a Irva sementara kedua lengannya masih dipegang dengan kuat oleh Irva.
Dalam waktu setengah detik yang cukup membingungkan, hampir saja Faz tergoda untuk ikut menyandarkan kepalanya di d**a Irva, pasti nyaman sekali rasanya. Namun, sedetik kemudian dirinya menyadari apa yang sudah terjadi dan buru-buru menarik diri dari Irva dengan wajah merah padam. "Ma-maaf," ujarnya gugup.
Irva bergeming. Matanya mengawasi Faz dengan perasaan campur aduk. Saat tak sengaja berpelukan tadi, dirinya merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tak bisa mendefinisikan apa tepatnya yang ia rasakan, hanya saja... Faz terasa pas sekali berada dalam pelukannya. Seperti kepingan puzzle yang berada di tempat yang tepat.
Irva menekan kedua tangannya agar tetap menempel erat di samping tubuhnya, sekuat tenaga menahan diri agar tidak bergerak maju dan menarik Faz ke dalam dekapannya, meski hal itu sangat menggoda sekali. Tapi, apakah wajar jika seorang sahabat menginginkan hal-hal semacam itu?
Sahabat? benak Irva bertanya dengan nada tak puas.
Irva tersentak. Ia baru menyadari sesuatu, ternyata dirinya menginginkan Faz lebih dari sekedar sahabat. Gadis itu telah memikat hatinya sejak pertama mereka berinteraksi di ruang kepala sekolah.
"Faz..." Irva melangkah maju, tapi Faz malah bergerak mundur menghindar.
"Irva, aku minta maaf." Faz berpikir bahwa diamnya Irva adalah karena marah dan dirinya bergerak mundur karena takut Irva akan membalasnya.
Irva menangkap pergelangan tangan Faz dan menariknya agar mendekat, tapi rupanya tenaga yang ia gunakan terlalu besar hingga sekali lagi Faz tersungkur ke depan dan kembali berada dalam pelukannya. Irva tergoda untuk bersikap egois dengan melingkarkan kedua lengannya di pinggang dan punggung Faz agar gadis itu tak bisa menghindar, tapi ia tahu jika dirinya melakukan itu, maka saat ini juga Faz akan pergi darinya.
Ya Tuhan, Irva mengerang dalam hati. Ternyata cinta bisa datang hanya dalam waktu sesingkat ini.
Masih dengan tubuh saling menempel, Irva menundukkan wajah mendekati wajah Faz. Ia bisa melihat ketakutan di wajah gadis itu, tapi kali ini dirinya tak memiliki pikiran buruk sedikit pun. Ia terus mendekat sampai bibirnya dekat dengan telinga gadis itu, kemudian berbisik, "kapan kau akan mencuci sepatu-sepatuku dan melanjutkan bersih-bersih kamarku?"
***