Mungkinkah kau tau
Rasa cinta yang kini membara
Yang masih tersimpan
Dalam lubuk jiwa
Ingin kunyatakan, lewat kata yang mesrah untukmu
Namun kutak kuasa untuk melakukannya
Mungkin hanya, lewat lagu ini
Akan kunyatakan rasa cintaku padamu
Rinduku padamu tak bertepi
Mungkin hanya sebuah lagi ini
Yang selalu akan kunyanyikan
Sebagai tanda betapa aku
Inginkan kamu
(Ungu-Laguku)
Faz duduk diam sambil menikmati hiburan dadakan yang Irva tampilkan di cafe tempat mereka bolos saat ini. Sebuah cafe yang terletak di pinggiran kota dengan nuansa sejuk dan santai. Yang membuat unik adalah, semua pegawai di cafe ini adalah laki-laki-sama seperti nama cafenya yang berarti laki-laki.
Suasana cafe tak terlalu ramai saat Faz dan Irva datang. Mereka berdua duduk di sudut remang dekat dengan panggung hiburan kecil di cafe itu. Meski kecil, tapi peralatan musik yang ada di sana cukup lengkap.
Sambil menunggu pesanan datang, Irva meminta Faz untuk menunggu sebentar di meja mereka sementara dirinya pergi menemui manager cafe dan meminta izin menggunakan gitar di panggung hiburan. Tentu saja dengan tangan terbuka, manager cafe itu memberi izin bahkan meminta pada beberapa pegawai untuk membantu Irva menyiapkan soundsystem.
Petikan gitar pertama Irva masih membuat Faz tersenyum, selebihnya gadis itu diam mematung menghayati lagu yang Irva nyanyikan. Dalam hatinya berharap bahwa lagu itu memang sengaja dinyanyikan untuk dirinya. Apalagi, Irva tak pernah melepaskan pandangan darinya saat menyanyikan lagu itu. Namun, Faz tahu Irva tak mungkin memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat semata dan dirinya pun harus cukup puas dengan status sahabat itu. Irva adalah satu-satunya orang yang pernah menjadi sahabatnya dan Faz tak ingin merusak hal itu dengan mengangankan hubungan yang lebih daripada itu. Dengan bersahabat seperti ini saja, dirinya sudah mengorbankan banyak hal dan prinsip, lalu bagaimana jika dirinya berharap lebih, apakah itu berarti dirinya atau Irva yang akan mengorbankan keimanan mereka?
Lamunan Faz berkelana dengan kurang ajar. Ia membayangkan dirinya dan Irva hidup bersama sebagai pasangan muda di dalam sebuah rumah mungil yang cantik dan asri. Setiap pagi, dirinya akan mengantar Irva berangkat kerja atau kuliah sampai ke depan rumah dan akan menyambutnya dengan teh hangat dan kue di sore harinya ketika Irva pulang.
Tepuk tangan dari sekitar membuyarkan lamunan Faz. Ia mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya, kemudian ikut bertepuk tangan dan menatap Irva sambil tersenyum. Hatinya berdebar kencang mendapati Irva masih menatapnya dengan tatapan yang membuat tubuhnya seakan meleleh. Beruntung sekali beberapa pengunjung cafe berteriak menyemangati Irva untuk kembali bernyanyi hingga dia pun akhirnya mengalihkan pandang ke arah gitarnya.
"Sebuah lagu untuk orang yang sangat spesial di hati." Irva mengatakan itu sambil tersenyum tepat ke arah Faz kemudian kembali memetik gitarnya.
Teman tapi cinta a-aa a-aa
Teman tapi cinta a-aa a-aa
Kuterjebak suasana
Cinta karna terbiasa
Apa kau rasakan yang sama
Bila di dekatmu, Hey
Kurasakan nyaman denganmu
Kau teman terbaikku
Ku takut menyakitimu
Awalnya kita berteman
Kamu tempat ku bercerita
Ku yakin kamu masa depan
Inikah yang dinamakan
Inikah yang dinamakan
Cinta.
Sedetik pun Irva tak melepaskan tatapannya dari wajah cantik Faz. Semakin hari, dirinya semakin yakin akan perasaannya pada gadis itu. Ya, dirinya jatuh cinta pada Faz. Cinta yang tumbuh tiba-tiba dan tanpa ia sadari. Ia tak tahu bagaimana perasaan Faz padanya, tapi dirinya belum bisa menyatakan secara langsung karena tak ingin Faz menjauh darinya. Jadi, untuk saat ini dirinya harus puas menjadi pacar pura-pura Faz atau sahabat saja. Entah ke depannya akan seperti apa, Irva tak tahu, yang jelas untuk saat ini dirinya tak bisa menjauh dari gadis itu.
Setelah menyelesaikan lagunya, Irva kembali ke mejanya di mana Faz telah menunggu dengan perasaan lebih lega. Meski tidak secara langsung mengungkapkan apa yang ia rasakan, tapi dirinya berharap Faz bisa menangkap sinyal itu.
"Ehh Faz, hari ini tanggal 14 Februari kan?"
"Hmm, nggak tau deh, nggak pernah liat tanggalan." Faz tersenyum malu, "kenapa memangnya?"
"Ehm ...." Irva tiba-tiba menjadi gugup. "Ini hari valentine."
"Ohh, hari apa itu?" Faz bertanya bingung.
Irva berdecak pelan untuk menutupi kegugupannya. "Masak nggak tau sih?"
"Irva, aku nggak ngerti hal-hal begituan. Jelasin aja kenapa?"
"Valentine itu hari kasih sayang." Irva mengembuskan napas lega begitu sudah mengatakan hal itu.
"Iyakah? Aku tak pernah tahu ada hari kasih sayang."
Faz memiringkan kepalanya dengan ekspresi menggemaskan yang membuat Irva tak tahan lagi. Cowok itu mengulurkan tangan dan mencubit hidung Faz. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Faz menjerit membuat beberapa pelanggan cafe menoleh ke arah mereka.
"Irva!" Faz memukul tangan Irva agar menyingkir dari hidungnya. "Sakit tau!"
Bukannya meminta maaf, Irva malah tertawa tergelak membuat Faz cemberut sambil bersedekap. Ia tahu harusnya dirinya marah karena Irva sudah berani menyentuhnya kulit dengan kulit, tapi entah mengapa Faz tak sampai hati melakukannya. Memang Irva tak memahami ajaran agamanya, tapi seharusnya dirinya bisa menjelaskan dan membatasi hubungan mereka. Nyatanya, saat ini dirinya malah mencondongkan tubuhnya untuk balas mencubit hidung Irva.
Setelah beberapa kali saling balas mencubit atau menggelitik satu sama lain, Faz akhirnya menyerah setelah Irva berhasil memegangi kedua pergelangannya dan menggelitik pinggangnya. "Ampun," ujar Faz sambil kembali tertawa karena Irva masih terus menggelitik pinggang dan ketiaknya. "Irva, aku harus kerja. Plis."
Irva akhirnya melepaskan Faz meski dengan berat hati. Ia masih nyengir lebar melihat penampilan Faz berantakan. Jilbab gadis itu miring dengan beberapa helai rambut lepas keluar dari dalamnya. "Diam dulu bentar," ujarnya sambil mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Faz yang keluar.
"Irva," rintih Faz.
"Sstt ...." Dengan gerakan pelan dan halus, ia menyelipkan rambut Faz kembali ke dalam jilbabnya kemudian membetulkan posisi jilbab Faz yang semula miring agar lebih lurus dan rapi. "Nah, gini lebih cantik," puji Irva sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah Faz. "Yah, lebih cantik kalau dibuka sih, tapi gapapa saat di luar, kamu lebih aman seperti ini," tambahnya sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Faz yang wajahnya sudah merah padam. Gadis itu menunduk untuk menghindari tatapannya dan entah dorongan dari mana tiba-tiba saja Irva bangkit dari kursinya, membungkuk di depan Faz dan mencium puncak kepalanya yang tertutup jilbab.
Seketika Faz mendongak, terkejut dengan perlakuan Irva yang tiba-tiba. Matanya terbelalak dengan mulut menganga lebar, tapi tak ada kata yang sanggup ia ucapkan. Seharusnya, ia marah. Namun, lagi-lagi hatinya berkhianat karena ternyata dalam lubuk hatinya yang terdalam, dirinya merasa senang dengan perlakuan Irva. Kemudian, saat Faz menemukan kembali suaranya, ia berkata dengan gagap, "I-irva, a-ku harus be-rangkat kerja."
"Oke," sahut Irva penuh semangat sambil nyengir seperti biasa kemudian menggandeng tangan Faz meninggalkan cafe.
Satu jam kemudian, Faz sudah sampai di tempat kerja dan seperti biasa, Irva akan langsung pergi setelah memastikan Faz sudah masuk ke dalam rental.
Biasanya, malam hari menjelang Faz pulang kerja, Irva sudah menunggu di depan rental untuk menjemput Faz dan mengantar gadis itu pulang. Namun, tidak dengan kali ini. Baru beberapa menit berlalu, cowok itu sudah kembali. Posturnya menjulang di ambang pintu saat melepas sepautu sebelum masuk ke dalam rental.
Faz menahan napas melihat Irva berderap melintasi ruangan menghampirinya. Semakin dekat jarak mereka semakin kencang pula detak jantung Faz. Bahkan, ketika akhirnya Irva sampai di mejanya dan menyapanya, Faz masih terlihat linglung. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya menjawab sapaan Irva. "Hai, kenapa kembali?"
"Ada yang ketinggalan." Irva terkekeh jahil saat mengatakannya. Kemudian dari balik punggungnya, ia mengeluarkan sebuah coklat yang super besar dan panjang yang dibentuk menjadi karangan kecil bersama dengan beberapa kuntum mawar merah dan pink. "Ini."
"A-apa ini?" Faz mengerjapkan mata bingung.
"Kan aku sudah bilang tadi, ini hari kasih sayang."
"Ya, tapi ini tidak perlu." Faz masih syok dengan kejutan yang Irva.
"Apa sahabat tak boleh memberi hadiah?" Irva berpura-pura tersinggung.
"Ohh, bo-boleh, kok." Faz menerima coklat dan bunga itu dari tangan Irva. "Tapi, aku tetap harus bilang. Ini benar-benar tidak perlu."
Irva tak menjawab. Ia hanya mengangkat kedua bahunya acuh sambil tersenyum miring. Kemudian, saat beberapa orang pelanggan masuk ke dalam rental, ia pun mengusap kepala Faz sekali dan pamit pulang. "Nanti kujemput," ujarnya sebelum meninggalkan meja Faz.
Selama beberapa saat, Faz masih bengong di kursinya sampai teman lawan shift-nya yang kebetulan belum pulang-sekalian menunggu jam kuliah-menyikut rusuknya.
"Kalian jadian?"
"Ahh, enggak kok, Mbak. Cuma sahabatan aja kok."
"Mana ada persahabatan murni antara cewek dan cowok."
"Maksudnya?" Faz tak mengerti maksud ucapan temannya itu.
"Yah, salah satunya pasti memiliki perasaan lebih dan yang aku lihat, kalian berdua sama-sama memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat. Ya kan? Hayooo ngaku?!"
Faz gelagapan. "Enggak, kok."
"Ya, semua pasti juga jawab begitu kalau ditanya, tapi semua yang punya mata juga bisa melihat cara dia menatapmu dan caramu menatapnya itu sudah beda. Bukan lagi tatapan antar sahabat."
Faz tak menjawab lagi. Ia membiarkan temannya itu terus mengoceh perihal mustahil-nya persahabatan antara cewek dan cowok dan menjabarkan ciri-cirinya. Yang jelas, meski tak terucap, Faz sendiri bisa merasakan bahwa sepertinya memang Irva dan dirinya memiliki perasaan yang sama.
***