Hubungan Tanpa Status

2065 Kata
Masa ujian semakin dekat. Sama seperti hubungan Faz dan Irva yang kian hari kian dekat saja. Seperti di mana ada Irva, di situ ada Faz. Cowok-cowok yang belakangan mulai mendekati Faz pun perlahan mundur teratur melihat Irva yang menjadi begitu galak dan sangat melindungi Faz. Jangankan untuk mengobrol dengan Faz, baru mendekat saja, Irva sudah melotot dengan tatapan mengancam. Sementara itu, Faz pun jadi makin dibenci oleh kaum hawa di sekolahnya, karena menurut mereka, Faz sudah menyabotase idola sekolah. Ya, meski bukan cowok paling tampan dan paling tajir di sekolah, tapi Irva cukup digilai oleh banyak cewek di sekolah karena gaya bermain gitarnya yang keren dan suaranya saat bernyanyi pun serak-serak basah membuat siapa saja yang mendengarnya pasti meleleh. Seperti saat ini, karena ada kunjungan persahabatan dari sekolah lain, lapangan basket di sekolah telah disulap menjadi panggung hiburan yang nantinya akan menampilkan pertunjukan kesenian dari kedua sekolah. Irva tampil bernyanyi dengan solo gitarnya untuk membawakan beberapa lagu sebagai pembuka acara. Selama bernyanyi, tatapannya terus tertuju ke arah gadis yang sedang duduk di bawah ring basket—menunggunya. Tentu saja itu semua tak luput dari perhatian para fans-nya, tapi bukan Irva namanya jika tidak bisa mengobati kekesalan fans ceweknya yang sudah melemparkan tatapan penuh kebencian ke arah Faz. Setelah menyunggingkan cengiran khasnya pada gadis yang sudah menjadi penghuni hatinya yang membalasnya dengan lambaian tangan dan senyum yang menentramkan jiwa, Irva mengedarkan pandangannya ke arah penonton sambil tersenyum. Matanya mengedip mempesona pada siapa saja yang bertabrakan dengan tatapannya membuat siapa saja yang mendapat kedipan mautnya menjerit histeris. Namun, itu semua hanyalah aksi panggung semata karena Irva tak lagi memiliki ketertarikan pada gadis mana pun. Hatinya sudah merasa cukup dengan Faz yang selalu ada bersamanya. Irva bernyanyi sambil tersenyum membayangkan rencana-rencana yang akan ia lakukan bersama Faz. Apalagi setelah kelulusan akan ada acara perpisahan ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Pastinya itu akan menjadi acara liburan yang menyenangkan jika bersama dengan Faz. Saat mengedarkan pandangannya, ke segala penjuru lapangan, ekspresi Irva tiba-tiba saja berubah keruh. Di sudut lain lapangan, tepatnya di lorong taman depan ruang guru, ia melihat sosok yang tengah berdiri tegak dengan dua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Yang membuat dadanya tiba-tiba saja serasa terbakar adalah tatapan intens yang dilemparkan sosok itu ke arah bawah ring basket. Dia adalah Bramantyo Kepala Sekolahnya. Mood Irva bermain gitar ambyar seketika. Petikan gitarnya tak lagi indah dan suaranya saat bernyanyi juga berubah menjadi nada geram. Yang ada di pikiran Irva adalah segera menyelesaikan penampilannya dan bergegas membawa Faz pergi dari jangkauan si Brambang! Demi Tuhan! Tidak ada yang boleh melihat Faz dengan cara yang begitu intens kecuali dirinya seorang! Irva berteriak dalam hati. Dengan sengaja, Irva memetik gitarnya dengan nada fals yang cukup kentara membuat perhatian semua orang termasuk Bram akhirnya fokus ke arahnya. Nah, bagus! Jangan terus melihat Faz seolah-olah kau ingin memakannya! Dasar b******n! Irva mengumpat dalam hati. Selama beberapa saat, Irva dan Bram saling tatap dengan ekspresi dingin. Pada akhirnya, Bramantyo yang memutus tatapan itu dan berjalan pergi sambil tersenyum geli melihat tingkah Irva. Ohh, dirinya sudah mengamati bagaimana hubungan Irva dan gadis pujaannya menjadi semakin dekat, tapi dirinya tak akan menyerah begitu saja. Fazluna tidak akan memilih Irva, ia yakin sekali. Selain Irva memiliki keyakinan yang berbeda dengan Fazluna, Irva juga belum bisa menawarkan masa depan yang baik bagi Faz, sementara dirinya memiliki banyak hal yang bisa ia tawarkan kepada gadis itu. Begitu lagu yang dibawakan berakhir, Irva bergegas turun dari panggung sambil menenteng gitar di pundaknya dan langsung menghampiri Faz. Tangannya menarik pergelangan tangan gadis itu dan menyeretnya ke halaman samping sekolah yang sedikit lebih sepi. "Irva, kenapa sih buru-buru?" Faz berlari kecil untuk mengimbangi langkah Irva yang lebar dan cepat. Sampai di taman samping, tepatnya di bawah pohon ceri, Irva berhenti. Ia memegang kedua lengan Faz dan berdiri berhadapan dengan gadis itu. Hatinya bergetar oleh perasaan yang meledak-ledak menuntut balasan. Dirinya mencintai Faz, itu sudah pasti dan hatinya pun yakin bahwa Faz juga membalas perasannya—terlihat jelas dari cara gadis itu menatapnya. Namun, itu semua belum cukup. Hatinya butuh untuk diyakinkan. Dirinya butuh jawaban pasti dari Fazluna. Ia ingin memiliki Faz untuk dirinya sendiri, ingin merengkuh gadis itu ke dalam dekapannya, ingin mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa tidak ada yang boleh mendekati Faz selain dirinya, termasuk Brambang! Irva menarik napas panjang sebelum menundukkan kepalanya mendekati wajah Faz yang menatapnya dengan mata membulat bingung. "Faz, jadian, yuk?" Mata Faz membulat semakin lebar, terkejut mendengar ucapan Irva. Jadian? Faz membalas tatapan Irva dengan mata berkaca-kaca. Batinnya berkecamuk. Irva adalah sumber kebahagiaannya saat ini, tapi .... Kepala Faz menunduk ketika terngiang kembali nasihat dari salah seorang teman kajiannya yang berpesan agar Faz segera mengakhiri kedekatannya bersama Irva atau dirinya akan terus memupuk dosa. Faz tak kuasa menahan air matanya. Ia sadar betul nasihat temannya itu benar adanya, tapi bagaimana dirinya bisa menjauh dari Irva jika cowok itu adalah satu-satunya yang ia miliki saat ini—yang selalu ada untuk menjadi pelindung dan tempatnya bersandar. Faz terisak pelan mengingat kembali semua penderitaan yang ia alami selama ini sendirian. Sekarang, saat semua derita itu tak lagi terasa karena kehadiran Irva, apakah salah jika dirinya ingin merengkuh kebahagiaan ini? Irva mengulurkan tangannya dan memegang dagu Faz dengan lembut kemudian mengangkat dagu itu agar dirinya bisa melihat wajah Faz yang basah air mata. "Jangan menangis," bisiknya sambil mengusap air mata di wajah Faz. "A-aku ...." Irva menempelkan jari telunjuknya di bibir Faz. "Ssst! Tidak usah dijawab. Aku tau ini berat untukmu." Bahu Faz terguncang oleh Isak tangis. Ia berpikir bahwa kali ini Irva ingin mengakhiri pertemanan mereka dan itu artinya dirinya harus siap kembali ke kehidupan kelamnya sebelum Irva hadir memberi warna dalam hidupnya. Namun, ternyata dirinya salah. Cowok itu justru tersenyum lembut ke arahnya kemudian menariknya ke dalam pelukan. Kali ini, Faz tak kuasa menolak. Ia terisak semakin keras dalam dekapan Irva. Ohh, sungguh dirinya benar-benar takut kehilangan Irva. "Sudah, jangan menangis lagi. Aku tau ini berat buatmu. Tak usah dikatakan, aku pun tau bagaimana perasaanmu terhadapku. Aku pun memiliki perasaan yang sama padamu. Kita jalani saja semua seperti ini." Irva bisa merasakan kepala Faz mengangguk dalam pelukannya. Meski tidak sepenuhnya bisa memberikan kepuasan di hatinya, tapi untuk saat ini dirinya harus merasa puas dengan hubungan tanpa status ini. Dirinya tidak ingin mendesak Faz dan membuat gadis itu sedih. Nanti, pelan-pelan dirinya akan mencoba lagi untuk memperjelas hubungan di antara mereka. "Tapi aku tetap ingin kita sama-sama berjanji," tuntut Irva sambil mengeratkan rahang saat teringat kembali ekspresi Bramantyo yang sedang menatap Faz. "Aku berjanji untuk tidak dekat dengan cewek mana pun selain kamu dan bisakah aku meminta hal yang sama darimu?" "Ya," desah Faz di antara Isak tangisnya yang mulai reda. Ia masih betah menyandarkan kepalanya pada d**a bidang Irva. Rasanya nyaman dan menenangkan meski tetap ada satu sisi dari dirinya yang berkeras menolak hal itu, tapi untuk detik ini Faz ingin melupakan segala aturan dan mengizinkan dirinya sendiri untuk merasa begitu disayang. Senyum Irva merekah mendengar jawaban Faz. Ia pun memeluk gadis itu semakin erat seolah tak ingin melepaskan Faz untuk alasan apa pun. Setidaknya komitmen mereka meski tanpa status jelas sudah menjelaskan banyak hal, bahkan melebihi dari kata 'jadian' itu sendiri. Faz hampir saja tertidur dalam dekapan Irva ketika ia merasa ada sesuatu yang kurang nyaman pada dirinya. Setengah mengantuk dirinya mengingat-ingat tanggal berapa sekarang, kenapa rasanya ... Irva terkejut karena tiba-tiba saja Fazluna melepaskan diri dari pelukannya dan mendorong tubuhnya mundur. "Faz, ada apa?" Irva mengernyitkan dahi bingung. Apalagi ketika melihat ekspresi horor di wajah Faz. "Faz?!" "A-aku," gumam Faz lirih, "ohh, bagaimana bisa aku begini ceroboh!" Mata Faz yang sudah berhenti menangis kembali berkaca-kaca, tetapi kali ini karena malu dan kesal pada diri sendiri. " "Bisa tidak, jelaskan saja masalahnya?" Irva berdecak tak sabar. "Aku harus pulang." Faz berdiri gelisah sambil meremas jari jemarinya sendiri. "Aku antar, tapi jelaskan dulu kenapa?" Irva mendekat, tapi Faz langsung mundur beberapa langkah menghindar—membuat dahi Irva mengerut semakin dalam. "Jangan dekat-dekat!" "Sebenarnya, ada apa?" Irva kembali maju beberapa langkah dan kali ini tangannya sudah sigap menangkap pergelangan tangan Faz agar gadis tak bisa menghindar lagi. Wajah ayu yang sekarang terlihat sedikit pucat itu menatapnya dengan pandangan memohon. "Aku akan terus di sini menahan kedua tanganmu sampai kau mau menjelaskan padaku apa yang terjadi padamu?" "Irva, kamu tak akan mengerti," cicit Faz. "Kalau begitu, jelaskan supaya aku mengerti." "Aku merasa kurang enak badan." Faz menggigit bibir bawahnya tahu bahwa jawabannya itu terdengar kurang meyakinkan, apalagi saat Irva menempelkan punggung tangannya di keningnya yang tidak panas. "Tidak panas." Irva memiringkan kepalanya untuk melihat Faz lebih teliti. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan gelisah—bukan kebiasaan Faz yang biasanya selalu tenang dan kalem. Kemudian, Irva teringat saat Chika tiba-tiba menelponnya dengan suara serak hampir menangis dan meminta dijemput di sekolah saat itu juga. Awalnya, Irva tak tahu kenapa dan langsung meluncur ke sekolah Chika karena takut sesuatu yang buruk menimpa adiknya itu. Yah, memang buruk, tapi bukan keburukan sepenuhnya karena itu hal lumrah yang pasti terjadi pada setiap perempuan. "Kau datang bulan?" Melihat ekspresi ngeri di wajah Faz, Irva yakin itu yang terjadi. "Kau tidak membawa pembalut?" Faz mengerang tertahan mendengar Irva mengatakan hal yang memalukan itu dengan gamblang. Ohh, rasanya ingin sekali ia lenyap dari muka bumi saat ini juga, tapi melihat Irva yang masih menunggu jawabannya dengan tenang seolah ini bukan hal memalukan membuat Faz akhirnya memutuskan untuk jujur. "Ba-bagaimana kamu tahu?" "Aku punya adik perempuan yang juga beranjak remaja dan sering sekali lupa membawa pembalut ke sekolah." Faz menunduk dengan wajah merah padam, tak tahu lagi harus mengatakan apa. Ini benar-benar memalukan! Kemudian, yang membuat Faz memekik adalah ketika Irva tiba-tiba saja bergerak miring untuk melihat bagian belakang tubuhnya. "Belum tembus, sih," ujarnya sambil kembali berdiri menghadap Faz yang sudah tak sanggup lagi membalas tatapannya. Namun, bukan Irva namanya jika mudah menyerah begitu saja melihat Faz tidak mau menatapnya. Dirinya yang justru membungkuk sambil mengintip wajah Faz dari bawah. "Kau mau pulang atau tunggu di sini saja, aku Carikan pembalut dan celana dalam." "Irva!!!" Faz tak tahan lagi menahan malu. "Plis, jangan bersikap seperti ini." "Seperti ini gimana?" Irva kembali menegakkan badan. Matanya memicing dengan ekspresi tersinggung yang dibuat-buat. "Aku peduli padamu. Apa itu salah?" Kepala Faz bergerak ke kiri dan ke kanan dengan pelan. "Maaf, aku hanya malu." Irva mengangguk paham. Ia tahu Faz pasti merasa malu akan hal ini, tapi dirinya pun tak mungkin membiarkan Faz pulang sendiri atau tetap bertahan di sekolah yang pastinya membuat kondisi gadis itu semakin sulit. "Jadi gimana, kau mau pulang atau tetap di sini?" "Pulang." Irva mengangguk dan meminta Faz menunggu, sementara dirinya kembali ke kelas untuk mengambil barang-barang mereka. Kali ini dirinya tak ingin membawa Faz kabur dan bolos karena pasti gadis itu sedang tak ingin berlari cepat. Jadi, rencananya mereka akan menemui petugas Tatibsi dan meminta izin untuk pulang karena Faz sedang tidak enak badan, sementara dirinya yang mengantar. Sepuluh menit kemudian, Irva hampir hanya menggebrak meja di ruang Tatibsi karena petugasnya keberatan memberi surat izin Faz untuk pulang dengan alasan di sekolah sedang bebas pelajaran, jadi Faz bisa beristirahat di UKS sampai jam pulang. Namun, saat keributan itu terjadi kebetulan sekali Bramantyo sedang lewat di depan ruang Tatibsi. "Ada keributan apa?" Bram bertanya sambil mengamati petugas piket di Tatibsi, Irva dan Faz yang mengenakan jaket Irva. "Merek meminta izin untuk pulang, Pak. Alasannya sakit." Mendengar hal itu, Bram mengamati Faz lebih teliti dan ia memang bisa melihat wajah Faz yang terlihat tenang begitu gelisah dan sedikit pucat. Ingin sekali dirinya mengusap pipi Faz dengan ibu jarinya dan bertanya tentang kondisi gadis itu, tapi itu tak mungkin ia lakukan di lingkungan sekolah. Sambil membuang napas pelan, Bram mendekati petugas Tatibsi dan mengatakan bahwa wajah Faz terlihat agak pucat, jadi sebaiknya memang Faz beristirahat di rumah. Setelah mengatakan itu, Bram keluar dari ruang Tatibsi sambil melemparkan tatapan menantang ke arah Irva. Ini baru satu bukti bahwa dirinya bisa menjadi pilihan terbaik untuk Faz. Bram kembali ke ruangannya dengan perasaan puas bercampur khawatir. Ia ingin tahu tentang kondisi Faz, tapi tidak mungkin tiba-tiba datang ke rumah gadis itu. Jadi, ia lun berpikir untuk meminta tolong ustadz dari tempat kajian yang biasa Faz datangi—ia pun mulai aktif mengaji di tempat yang sama dengan Fas—dan meminta tolong supaya bisa menugaskan entah siapa untuk mengecek kondisi Faz. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN