Berpisah

2163 Kata
Faz sedang berbaring di tempat tidurnya ketika mendengar suara ketukan dan salam dari arah pintu depan. Irva sedang pamit keluar sebentar untuk membeli cemilan sehingga ia tidak bisa meminta tolong untuk melihat siapa yang datang. "Wa'alaikumsalam," jawab Faz lirih sambil bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan tertatih keluar dari kamar untuk melihat siapa yang datang. "Ustadzah Hani, Mbak Khadijah?" Faz terkejut melihat dua kenalannya di tempat kajian sudah berdiri di depan pintu yang memang sengaja dibiarkan terbuka karena setiap ada Irva di rumahnya, Faz memang sengaja tidak menutup pintu depan agar tidak menimbulkan prasangka buruk dari para tetangga. "Masuk, Ustadzah, Mbak." Faz mempersilahkan tamunya duduk. "Wah, tapi tumben sekali?" "Kebetulan tadi pas lewat di sekitar sini, terus liat pintu rumah kamu terbuka. Jadi, sekalian mampir, boleh kan?" Khadijah menjawab sambil tersenyum ramah. Faz mengangguk pelan. "Ohh, nggak apa-apa kok mampir. Faz malah seneng ini dikunjungi, tapi pas kebetulan sedang tidak ada apa pun yang bisa disuguhkan." Faz menatap tamunya itu tak enak hati. Biasanya dirinya selalu sedia kurma sebagai makanan utama, tapi hari ini stok kurma-nya sedang habis. Jika tidak izin pulang, rencananya tadi Faz ingin membeli kurma sepulang sekolah sambil berangkat ke tempat kerja. Ustadzah Hani tersenyum menenangkan. "Tidak usah repot-repot, Faz," ujarnya sambil menyerahkan kresek besar pada Faz. "Sebenarnya, kami sengaja datang untuk menjenguk kamu. Kami dengar kamu sedang kurang sehat." "Apa?!" Faz melebarkan matanya mendengar penjelasan Ustadzah Hani. "Maaf, Ustadzah, tapi siapa yang bilang?" "Dari Ustadz." Ustadzah Hani meraih tangan Faz dan menggenggamnya erat. "Ada yang memberi kabar ke Ustadz kalau hari ini kamu izin pulang dari sekolah karena sakit. Jadi, Ustadz meminta kami untuk melihat kondisi kamu seperti apa." Faz mengerutkan dahinya bingung. Di sekolah tidak ada yang pernah kenal dekat dengannya dan pastinya tidak ada yang peduli dirinya sakit atau tidak, tapi mengapa sekarang tiba-tiba saja ada yang bersikap mencurigakan seperti ini. Namun, Faz menahan diri untuk tidak bertanya mendetail mengenai siapa yang memberi kabar pada ustadznya. "Sebetulnya bukan apa-apa kok Ustadzah, hanya sakit bulanan biasa. Kebetulan tadi di sekolah Faz lupa bawa pembalut dan baju ganti. Jadi, mau tidak mau Faz izin pulang saja." "Alhamdulillah, jika begitu kejadian yang sebenarnya." Ustadzah Hani tersenyum lega mendengar penjelasan Faz. "Apa kamu sendirian di rumah?" Belum sempat Faz menjawab, Irva masuk ke dalam menenteng banyak sekali tas kresek di kedua tangannya membuat kedua tamunya terkejut. Bukan hanya Ustadzah Hani dan Khadijah saja yang terkejut, Irva pun kaget melihat ada dua tamu di rumah Faz. "Maaf," ujar Irva kaku. "Aku ke belakang dulu, Faz. Permisi." Irva mengangguk kaku ke arah dua tamu Faz kemudian masuk ke dalam rumah Faz untuk menatap barang belanjaannya yang sengaja ia beli karena melihat isi dapur Faz kosong sama sekali. Faz menggigit bibir bawahnya melihat reaksi Ustadzah Hani yang masih terkejut sambil mengusap dadanya dan beristighfar beberapa kali. "Kamu masih berhubungan dengan pemuda itu?" Mbak Khadijah bertanya sambil mengerutkan dahi. Tak habis pikir dengan Faz yang masih saja dekat dengan seorang laki-laki yang bukan mahramnya. Bukan hanya tentang mahram, tapi keyakinan pemuda itu juga berbeda. "Kami hanya bersahabat, Mbak." Faz menjelaskan sambil menundukkan kepala. Ustadzah Hani menatap Faz dengan pandangan keibuan, sama sekali tidak ada tatapan menuduh atau marah. Senyumnya begitu menenangkan saat mengusap lengan Faz sambil berkata, "Faz, tidak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan. Setan pasti ada di antara kalian. Coba jawab dengan jujur, apa kamu memang benar-benar tidak memiliki perasaan apa pun pada pemuda itu?" Faz menundukkan kepalanya semakin dalam. Ia tahu persis jawaban yang ada di hatinya, tapi ia memilih diam. "Jangan terus memupuk dosa, Faz." Khadijah menasehati. "Lebih cepat kalian sudahi lebih baik." Faz menggigit bibirnya semakin kuat. Pedih rasanya membayangkan jika harus menjauhi Irva. Irva tak pernah salah apa-apa dan mereka berdua tak pernah melakukan hal sampai melebihi batas dan yang pasti, Irva adalah satu-satunya orang yang peduli padanya tanpa pamrih di saat yang lain menganggap dirinya tak pernah ada. "Faz, kamu tahu—" "Dia satu-satunya orang yang selalu ada saat Faz membutuhkan bantuan." Faz memotong ucapan Ustadzah Hani. Ustadzah Hani menarik napas panjang kemudian beristighfar sebelum pindah tempat duduk tepat di samping Faz, kemudian merangkul pundak rapuh itu. "Faz, kamu masih memiliki kami, saudarimu sesama muslim yang juga akan melakukan hal yang sama ketika melihatmu kesusahan. Kamu tinggal bilang dan kami pasti akan membantu kamu." Faz bergeming. Ia ingin menjawab bahwa bersama Irva dirinya tidak perlu mengucapkan kata tolong. Irva seperti memahami apa yang ia butuhkan dan rasakan. Dirinya nyaman dan aman bersama Irva. "In syaa Allah, kami akan mencarikan solusi. Sebentar lagi kamu lulus, bukan? Kami akan bantu mencarikan pekerjaan yang layak atau mungkin beasiswa jika kamu ingin melanjutkan kuliah." "Memang kami tidak ada hak untuk mengatur kehidupan kamu, Faz. Tapi sebagai saudara sesama muslim, kami ada kewajiban untuk terus mengingatkan dan menasehati." Khadijah ikut menambahkan. Faz masih diam. Meski dalam hatinya membantah semua ucapan ustadzahnya, tapi ia tidak mengatakannya. Orang hanya melihat kebutuhannya hanya sebatas pekerjaan dan sekolah semata, tapi kekosongan dan kehampaan dalam hatinya, siapa yang peduli? Ustadzah Hani dan Khadijah saling pandang melihat kediaman Faz. Akhirnya mereka pun sepakat untuk pulang dan memberi waktu Faz untuk berpikir. Saat berpamitan pun, keduanya terus mewanti-wanti agar Faz menjaga diri dari tindakan yang bisa menjerumuskannya ke dalam dosa besar dan sesegera mungkin memutuskan hubungannya dengan Irva. Keduanya berjanji untuk membantu kesulitan Faz hingga Faz tidak perlu bergantung lagi pada Irva. Begitu motor Ustadzah Hani dan Mbak Khadijah berlalu dari depan rumahnya, Faz langsung berlari ke dapur. Di sana ia mendapati Irva sedang berdiri kaku dengan kedua tangan terkepal erat di samping tubuhnya. "Irva?" "Apa di mata agamamu, aku begitu menjijikkan sampai harus dijauhi?" "Tidak. Bukan seperti itu, Irva. Tolong jangan salah paham." "Baik." Irva berderap melewati dapur mendekati Faz. Kedua tangannya mencengkeram lengan Faz, tapi tidak terlalu kencang. "Jelaskan, bagian mana yang aku tak paham!" "Mereka hanya memikirkan kebaikanku, Irva. Tolong jangan berpikiran buruk." Irva mendengus dengan keras. "Aku tidak boleh berpikiran buruk tentang mereka, tapi mereka boleh berpikiran buruk tentangku, begitu?!" Faz menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Bukan seperti itu." Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Selama mengenal Irva, belum pernah Faz melihat Irva sampai semarah ini. "Kamu tahu kan, dalam agamaku memang tidak diperbolehkan bergaul dengan lawan jenis." "Aku tahu dan aku sangat menghargai itu. Kau pikir kenapa aku selalu berhati-hati agar tidak menyentuh kulitmu, menahan diri sekuat tenaga agar tidak mencium-mu atau memaksamu jadi pacarku? Itu karena aku sangat menghargai aturan agamamu!" Faz terguncang dengan kemarahan Irva yang tiba-tiba. Ia pikir Irva paham, tapi ternyata memang yang dibilang oleh Ustadzah Hani benar adanya. Dua keyakinan berbeda akan sulit untuk disatukan. Sekedar berteman atau hidup berdampingan itu masih mungkin, tapi untuk lebih dari itu, dua belah pihak akan sama-sama menderita. Bukan hanya Faz, tapi juga Irva. Dengan kemarahan Irva saat ini, Faz akhirnya merasa tertampar oleh nasihat itu. Akhirnya, dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya, Faz pun menegaskan pada Irva bahwa memang mereka tak bisa lagi bersahabat. "Baik!" Irva berteriak sambil mengeratkan rahangnya untuk menahan segala u*****n yang siap meledak dari bibirnya. Napasnya naik turun dengan mata merah berair entah menahan marah atau terluka. Hatinya merasa berat jika harus menjauh dari Faz, tapi dirinya juga marah dengan sikap kelompok Faz yang suka ikut campur dan seenaknya sendiri menilai hubungan mereka. Kemudian, Irva menunduk menatap wajah tersiksa Faz dan mengecup singkat kening gadis itu. "Aku pergi," ujarnya sambil berlalu dari hadapan Faz. Faz tertegun. Air mata semakin deras membanjiri wajahnya. Irva pergi dan persahabatan mereka pun berakhir. Tubuhnya jatuh terduduk di lantai dengan kedua tangan memeluk lengannya sendiri. Jika Irva pergi, itu artinya ia harus kembali mengulang masa-masa kesendiriannya, padahal dirinya sudah terbiasa dengan kehadiran Irva. Faz terus menangisi kepergian Irva, bahkan dalam sujud-nya pun ia terus berdoa semoga apa yang terjadi adalah yang terbaik untuk semua dan memohon agar diberi keikhlasan. Namun, meski begitu, saat malam tiba, ia tetap tak bisa tidur dan terus menangis hingga subuh menjelang. Faz berjalan sempoyongan ke kamar mandi untuk mandi karena sudah pasti Irva tidak akan menjemputnya pagi ini hingga ia pun harus berangkat ke sekolah lebih pagi. Barulah saat itu Faz melihat kantong-kantong plastik belanjaan Irva yang diletakkan begitu saja di lantai dapur. Ia membatalkan niatnya ke kamar mandi dan menghampiri kantong-kantong belanjaan itu. Faz tertegun. Hatinya kembali terasa nyeri ketika mengingat Irva. Kantong-kantong itu berisi sembako dan berbagai macam kebutuhan pribadinya mulai dari pembalut, kompres pereda nyeri haid, sabun, pasta gigi dan lain sebagainya. Tidak! Faz tidak bisa menerima semua ini. Ia bertekad untuk mengembalikan semua barang-barang itu pada Irva. Ia mengembalikan semua ke dalam kantong kemudian masuk ke kamar mandi. Setelahnya ia membersihkan rumah sebentar dan sarapan. Beruntung sekali kemarin Mbak Khadijah dan Ustadzah Hani membawakan roti dan beberapa bahan makanan lain hingga dirinya tak perlu menyentuh pemberian Irva. Kembali ke rutinitas awal sebelum Irva hadir dalam kehidupannya, Faz harus kembali berangkat lebih pagi ke sekolah sekalian mengantar kue ke beberapa warung dalam perjalanan ke tempat mangkal angkot. Ia tak yakin Irva masih akan menjemputnya setelah kemarahan yang luar biasa kemarin. Ia harus berjalan ke depan gang kemudian menyusuri jalan raya sampai di ujung jalan tempat mangkal angkot yang lewat depan sekolahnya. Namun, meski berangkat lebih pagi, Faz tetap sampai di sekolah mepet sekali dengan bel masuk. Irva kembali duduk di bangkunya di barisan pojok paling belakang, sementara Faz duduk sendiri di depan. Hal itu menarik perhatian teman-teman satu kelasnya karena sudah beberapa lama Irva pindah di depan menemani Faz. Meski begitu, selama pelajaran berlangsung, Irva tak pernah melepaskan pandangan dari sosok berjilbab yang tak menoleh sama sekali ke arahnya. Bel tanda istirahat berbunyi ketika Faz akhirnya menghampiri Irva. "Ada perlu apa?" Irva bertanya dingin. Ohh, itu hanya di mulut karena sebetulnya hatinya bersorak gembira mengetahui Faz menghampiri mejanya. "Belanjaan kamu ketinggalan di rumah." Faz berkata dengan suara bergetar. "Tadinya mau aku bawa ke sekolah, tapi terlalu banyak. Kamu ambil sendiri di rumah atau nanti saja hari Minggu aku kirim ke rumah kamu?" Irva mendongak, menatap Faz dengan emosi yang kembali menggelegak di dalam hatinya. Apa Faz tidak tahu jika dirinya membeli semua belanjaan itu memang niatnya untuk diberikan pada gadis itu, tapi sekarang Faz malah berniat mengembalikannya. Namun, saat melihat wajah sendu Faz, hati Irva berdenyut nyeri. Gadis itu terlihat lesu dengan mata cekung seperti kurang tidur. "Itu untukmu." Faz mendesah pelan. Ia sudah menduga Irva akan menjawab seperti itu, tapi jika memang mereka sudah bukan lagi teman atau bahkan sahabat, dirinya tak bisa menerima semua itu. "Maaf, aku tidak bisa menerimanya. Aku antarkan saja semua ke rumah kamu hari Minggu besok." Mendengar jawaban Faz membuat emosi Irva yang semual sudah terkendali pun tak bisa dikontrol lagi. Seketika ia berdiri menjulang di hadapan Faz, melotot pada gadis itu kemudian berteriak tepat di depan wajah Faz, "jika kau tak mau, buang saja! Jangan datang ke rumahku!" Faz terkejut sekaligus terluka mendengar teriakan Irva. Hatinya terasa perih, bahkan air matanya pun sudah siap tumpah, tapi ia tetap berusaha mengendalikan dirinya. "Aku mengerti. Maaf dan terima kasih banyak untuk semuanya," ujarnya pelan sebelum berlalu meninggalkan Irva dan berlari ke toilet sekolah—tempat yang selalu ia jadikan pelarian dari kejamnya lingkungan sekolah. Irva tercenung di kursinya. Sesaat sebelum Faz pergi, ia sempat melihat kristal bening di sudut mata gadis itu dan ini membuatnya kesal. Ia sama sekali tak berniat melukai perasaan Faz apalagi sampai membuat gadis itu menangis. Selama sisa jam istirahat yang hanya ia habiskan di kelas, Irva terus bergelut dengan rasa bersalahnya pada Faz. Ia pun tak sabar menunggu gadis itu masuk kembali ke dalam kelas untuk meminta maaf. Namun, sampai jam pelajaran terakhir selesai dan bel pulang sekolah berdering, Irva tak juga melihat Faz kembali ke dalam kelas. Tentu saja ini membuat Irva khawatir bukan main. Irva merapikan tas dan buku-buku Faz. Ia membawa serta tas Faz kemudian berkeliling sekolah mencari keberadaan gadis itu. Di kantin, toilet, perpustakaan termasuk ruang kesehatan sudah Irva datangi, tapi ia tetap belum menemukan sosok yang ia cari. Sekolah pun sudah mulai kosong dan kelas-kelas mulai dikunci oleh petugas halaman. Irva melangkah ke area parkir sambil mendesah putus asa. Ia sudah mencari di setiap sudut sekolah, tapi tidak juga menemukan keberadaan Faz. Ia semakin khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu. Kemudian, tanpa berpikir panjang ia berbalik arah dan masuk kembali ke dalam sekolah langsung menuju ke ruang kepala sekolah. Tanpa mengetuk pintu, Irva menerobos masuk ruang Kepala Sekolah langsung menuju ke ruangan pribadi yang kebetulan pintunya terbuka. "Di mana Faz?" Bramantyo mendongak dan terkejut mendapati Irva sudah berdiri di depan meja kerjanya. "Apa maksudmu?" Irva mengepalkan kedua tangannya dengan erat untuk menahan diri agar tidak berteriak pada kepala sekolahnya itu. Dirinya harus tetap berkepala dingin agar bisa mendapatkan informasi keberadaan Faz. "Saya hanya ingin mengembalikan buku-buku dan tasnya saja. Jadi, bisakah Anda katakan di mana dia?" Bramantyo memicingkan matanya meneliti Irva selama beberapa saat. Dengan wajah datar dan tidak menunjukkan ekspresi apa pun, ia menjawab, "Tidak. Aku tidak akan pernah memberitahumu." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN