Bullying

2183 Kata
Irva berjalan cepat seperti orang kesetanan. Ia kembali mengelilingi seluruh penjuru sekolah untuk mencari keberadaan Fazluna. Dadanya bergemuruh oleh rasa khawatir yang begitu besar terhadap Faz. Setelah Kepala Sekolahnya mengatakan bahwa dia tidak tahu menahu di mana keberadaan gadis itu, Irva bergegas meninggalkan ruangan dan kembali mencari Faz. Sementara Irva kembali memeriksa setiap sudut sekolah, Bram dengan segala kekuasaan yang dimiliki memilih cara yang lebih mudah untuk menemukan keberadaan Faz. Ia terkejut dan khawatir mendengar gadisnya menghilang. Dirinya tidak berbohong saat mengatakan bahwa dirinya tidak bisa memberitahu Irva tentang keberadaan gadis itu karena memang dirinya tidak tahu, tapi dirinya pasti akan mencari tahu. Bram memeriksa rekaman CCTV yang dipasang hampir di setiap sudut sekolah. Tidak terlalu sulit mendapatkan rekaman hari itu. Bram hanya perlu mengirim email ke bagian teknisi dan meminta rekaman CCTV hari itu. Bram mulai memeriksa CCTV dari tempat yang paling dekat dengan kelas Fazluna. Ia mengamati detik demi detik dengan gelisah. Menurut keterangan Irva, terakhir kali gadis itu terlihat adalah sesaat setelah bel istirahat pertama berbunyi. Ia pun mempercepat rekaman itu pada waktu yang ia perkirakan bisa melihat Faz. Itu tidak akan sulit karena Fazluna adalah satu-satunya gadis yang mengenakan jilbab di kelasnya. Jantung Bram serasa berhenti berdetak begitu melihat gadis berjilbab itu muncul di layar. Dia berjalan keluar dari kelas menuju ke arah lorong sebelah kanan yang mengarah ke Laboratorium Biologi dan toilet. Bram mengganti dengan rekaman lain ketika Faz tidak lagi terlihat pada rekaman pertama. Ia kembali mempercepat video itu sampai pada menit yang ia ingin lihat. Tepat saat itu Faz muncul dari belokan di samping Laboratorium Biologi dan berjalan lurus ke arah toilet. Bram tak berani berkedip barang sedetik pun karena tak ingin melewatkan hal penting dalam video yang ia lihat. Namun, sampai beberapa menit berlalu, Faz tidak kunjung terlihat keluar dari dalam toilet. Beberapa siswi terlihat berlalu lalang keluar masuk toilet, tapi ia sama sekali tidak melihat Faz. Ia pun mengulang kembali rekaman itu pada detik Faz masuk ke dalam toilet dan memang sampai video itu berlangsung lama, gadis itu tidak kunjung terlihat keluar dari dalam toilet. Apa itu artinya Faz masih ada di sana sampai detik ini? Atau Faz keluar lewat pintu lain? Dahi Bram mengernyit dalam. Seingatnya di toilet itu tidak memiliki pintu ganda. Jadi jalan masuk dan kekuar satu-satunya hanyalah pintu yang terlihat di dalam rekaman saja, tapi kenapa sampai lama, bahkan ketika Bram mempercepat jalannya video itu sampai menit bel sekolah tanda pulang berdering, tetap belum terlihat sosok Faz. Bram tersentak. Seketika ia bangkit dari tempat duduknya dan bergegas meninggalkan ruangannya untuk memeriksa Faz di toilet. Ia khawatir sesuatu yang buruk menimpa gadis itu dan ini sudah berjam-jam sejak gadis itu masuk ke dalam toilet. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi pada gadisnya, batin Bram khawatir. Bram berlari dengan cepat mengabaikan tatapan heran petugas halaman yang mulai mengunci pintu-pintu kelas yang sudah kosong. Sampai di depan toilet, ia langsung menerobos masuk tanpa memikirkan lagi bahwa itu adalah toilet untuk perempuan. Di dalam toilet itu terdapat sembilan bilik kecil untuk buang air dan Bram memeriksanya satu per satu. Dua pintu bilik di bagian paling ujung tertutup dan terkunci. Bram mengetuk beberapa kali, tapi tidak mendapat jawaban. Ia bimbang, haruskah mendobraknya langsung atau menunggu sampai orang di dalam bilik itu keluar? Tak sabar menunggu, Bram memutuskan untuk menghubungi bagian penanggung jawab kebersihan sekolah dan bertanya perihal kondisi toilet perempuan di deretan kelas dua belas. Petugas itu mengatakan bahwa bilik di bagian ujung memang sedang rusak dan sedang dalam perbaikan sehingga untuk sementara memang dikunci. Setelah memastikan bahwa hanya satu bilik yang rusak, Bram memutuskan untuk memeriksa bilik terkunci yang satu lagi. Entah mengapa dirinya yakin sekali Fazlah yang ada di dalam karena di rekaman yang ia lihat tadi, tidak ada tanda-tanda gadis itu keluar dari dalam toilet. Dengan satu kali tendangan yang cukup bertenaga, pintu itu terbuka dan menabrak dinding dengan keras. Faz membuka sedikit matanya mendengar suara keras tak jauh dari tempatnya saat ini. Ia duduk bersandar di sudut bilik dengan kondisi yang kacau. Jilbab sudah terlepas dari kepalanya, rambutnya tergerai berantakan di sekitar wajahnya yang mulai membiru, sementara seragamnya basah kuyup. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, yang Faz ingat hanya saat dirinya masuk ke dalam bilik toilet, tiba-tiba saja dua orang mendorong pintu biliknya yang belum ia tutup dan ikut masuk ke dalam. Dirinya tidak mengenali wajah keduanya dan tidak sempat meneliti juga karena begitu dirinya hendak berkata bahwa mereka bisa pindah ke bilik sebelah yang masih kosong, salah satu dari dua siswi itu menarik paksa jilbabnya hingga terlepas kemudian menampar wajahnya. Ia pun tidak sempat membalas karena temannya yang satu lagi ikut menarik rambutnya hingga dirinya tak bisa bergerak. Mereka mendorong tubuhnya hingga jatuh terduduk di lantai kemudian mengguyur tubuhnya dengan air membuat dirinya basah kuyup. Saat ia mendongak untuk bertanya apa salahnya, wajahnya disemprot dengan slang air. Faz tidak bisa melawan atau berteriak meminta tolong dan membiarkan saja dirinya dibully entah karena alasan apa. Ia hanya meringkuk di sudut bilik di samping closet sambil terisak, sementara mereka terus menyiram sekujur tubuhnya dengan air. Setelah puas, mereka meninggalkan dirinya begitu saja dan mengunci pintu dari luar. Faz menggigil kedinginan. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan gigi bergemeletuk. Dirinya masih bisa mendengar suara orang yang keluar masuk ke dalam toilet, tapi sama sekali tidak berniat untuk berteriak meminta tolong. Ia ragu ada yang bersedia menolong jika mereka tahu yang sedang membutuhkan pertolongan adalah dirinya mengingat dirinya seperti virus yang selalu dijauhi oleh teman-teman di sekolahnya. Akhirnya, Faz pun memutuskan untuk menunggu sampai petugas kebersihan datang membersihkan toilet. Mereka pasti akan membukakan pintu ini jika tahu terkunci. Namun, karena sekujur tubuhnya basah dan kedinginan, ia terus menggigil hingga tubuhnya terasa kaku dan merosot ke lantai. Faz berpikir bahwa hidupnya sudah berada di ujung tanduk. Jika memang demikian, itu rasanya lebih baik daripada harus terus menjalani penderitaan yang seolah tiada akhir. Ia pun memejamkan matanya yang terasa berat sambil menyandarkan kepalanya pada dinding yang dingin dan lembab. Waktu yang terasa berjalan begitu lambat membuat Faz menyerah. Ia tak kuasa lagi menahan dingin yang membuat tubuhnya seakan dihujam oleh ribuan jarum di sekujur tubuh. Dalam kondisi seperti itu, kepalanya memerintahkan agar dirinya terus memejamkan mata dan terlelap semakin dalam mendekati ketidak sasaran. Bertepatan dengan itu, pintu tiba-tiba saja terbuka dengan suara nyaring membuat kesadaran Faz yang hampir hilang pun kembali. Matanya yang terasa berat ia paksa untuk terbuka. "Faz?!" Samar-samar Faz bisa mendengar suara seorang laki-laki yang terdengar begitu khawatir. Apakah itu ayahnya? Faz tidak tahu karena dirinya tak lagi memiliki kekuatan untuk melihat siapa yang saat ini sedang mengangkat tubuhnya, mengganti dinginnya lantai dan dinding bilik toilet dengan kehangatan yang menenangkan. Ia pun semakin hanyut dalam kehangatan itu hingga tenggelam sepenuhnya dalam ketidak sasaran dan ketika terbangun kembali, dirinya sudah berada di tempat asing yang terasa begitu hangat. Faz mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya sekitar. Saat akhirnya ia bisa membuka mata dengan sempurna, ia terkejut dan heran dengan ruangan asing tempat dirinya berada saat ini. Ruangan bernuansa biru muda dengan lampu yang cukup terang tepat di langit-langit. Kepalanya menoleh ke samping dan semakin terkejut melihat dua orang yang ia kenal duduk berdampingan di kursi samping tempatnya berbaring saat ini. Keduanya duduk dengan mata terpejam dengan kepala disandarkan ke dinding. Irva dan Pak Bramantyo. Faz menoleh ke sisi lain dan melihat kantung infus menggantung pada tiang yang menempel dengan tempat tidurnya. Matanya kembali terpejam untuk mengingat kembali mengapa dirinya bisa berada di tempat yang ia duga adalah rumah sakit ini. Ia mengangkat tangannya yang terbebas dari jarum infus untuk memegang kepalanya yang terasa pusing. Gerakan itu sekaligus mengejutkan dan membangunkan dua orang di samping ranjangnya. "Faz?" Pak Bram berdiri seketika melihat Fazluna sudah membuka matanya. "Kau sudah bangun?" Faz tidak menjawab. Ia justru menoleh pada Irva yang masih duduk diam dengan ekspresi kaku di wajahnya. Namun, wajah itu melunak begitu bertemu tatap dengannya. Sudut bibir Irva sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang menenangkan hatinya. "Ini di mana?" Faz bertanya pelan. Ia kembali menatap langit-langit kamar kemudian memejamkan mata untuk meredakan pusing yang ia rasakan. "Di rumah sakit." Bram menjawab sambil mengertakkan gigi. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya tidak bisa menemukan Faz dengan segera. Dokter mengatakan jika Faz terlambat mendapat pertolongan barang sebentar saja, bisa jadi nyawanya tak akan bisa diselamatkan. Bayangan Faz tergolek tak berdaya dengan bibir membiru dan suhu tubuh yang dingin membuat amarah Bram kembali bangkit, tapi ia berusaha mengendalikan itu karena fokusnya saat ini adalah kesembuhan Faz. Namun, ia bersumpah, siapa pun yang sudah membuat gadisnya sampai terancam nyawanya seperti ini, akan mendapat balasan setimpal. "Rumah sakit? Kenapa?" Irva menyeret kursinya maju mendekati ranjang Faz kemudian membaringkan kepalanya di samping kepala Faz. "Sampai detik ini, aku masih ketakutan setengah mati. Kupikir ...." Irva hendak berkata bahwa dirinya berpikir Faz akan meninggalkan dirinya untuk selamanya, tapi ia memilih tidak mengatakan kalimat itu karena tak ingin membuat Faz takut. Sudah cukup baginya Faz sadar dan bangun. Itu benar-benar sudah cukup bagi Irva. "Ada apa?" Faz bingung melihat Irva atau pun Pak Bram sama-sama terlihat diam dan kaku. "Tidak apa-apa." Bram menjawab lembut. "Fokus saja untuk ke-sembuhanmu dulu, nanti kita akan bicarakan lagi semuanya." Ia menyentuh kaki Faz yang berbalut selimut tebal dan menepuk-nepuknya pelan untuk menenangkan gadis itu. "Kau mengalami hipotermia." Berbeda dengan Bram, Irva memilih untuk memberitahu Faz yang sebenarnya. "Suhu tubuhmu sangat rendah, bahkan ...." Irva tak bisa menyelesaikan ucapannya karena tangisnya tiba-tiba saja pecah. Ia sungguh takut jika Faz pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. "Aku minta maaf," ujarnya di antara Isak tangisnya. "Seharusnya aku menjagamu dan melindungimu. Tak seharusnya aku mendengarkan omongan orang-orang yang bahkan tak pernah ada di saat kondisimu sedang sulit." Irva menegakkan badannya dan menatap Faz dengan wajah basah air mata. "Jangan khawatir, aku tak akan pernah lagi melepaskan dirimu dari penjagaanku." Ucapan Irva membuat d**a Faz bergetar oleh rasa haru dan juga bahagia. Irva masih sangat peduli padanya tak peduli dengan pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Ia pun mengulurkan tangan untuk menghapus air mata di wajah Irva, tapi malah ditangkap oleh pemuda itu dengan cepat. Tangannya dipegang dengan erat dan diciumi oleh Irva dengan penuh perasaan sambil mengucapkan kata maaf maaf berkali-kali. "Kau tak seharusnya merasa bertanggung jawab atas apa yang menimpaku, Irva. Itu bukan salahmu." "Tidak. Itu salahku. Jika aku ada bersamamu, aku akan tahu lebih cepat apa yang terjadi padamu dan tak perlu membuatmu sampai seperti ini. Ohh, Faz, aku tak bisa membayangkan hidupku tanpa dirimu." Bram mengepalkan tangannya semakin erat melihat interaksi Irva dan Faz yang sudah di atas ambang batas wajar seorang teman. Perasan Irva terlalu dalam untuk Faz, ia yakin itu. Namun, dirinya tidak akan menyerah, tapi juga tidak akan merebut Faz secara terang-terangan karena hal itu justru akan membuat Faz semakin menjauh dari dirinya. Ia akan mengambil simpati Faz dengan cara perlahan. Bram menarik napas panjang kemudian berkata, "Faz sudah sadar sekarang. Kau bisa pulang, orang tuamu pasti khawatir." "Saya tidak mungkin meninggalkan Faz sendirian di sini." Irva menjawab tanpa menoleh. "Aku yang akan menjaganya." "Dan membuat Faz ketakutan karena merasa tidak aman mengingat apa yang pernah terjadi?" Irva berkata sinis. Ohh, sejak datang ke rumah sakit, dirinya sudah dibuat kesal dengan kehadiran Bram yang bersikap seolah-olah dia adalah penanggung jawab Faz. Ya, tentu saja dia adalah seorang pemimpin di sekolahnya, tapi tetap saja Irva tidak menyukai itu. Bram dan Irva saling tatap dengan ekspresi membunuh. Beruntung saat itu perawat datang untuk memeriksa kondisi Faz—membuyarkan konfrontasi di antara Faz dan Irva. "Syukurlah, Adik sudah sadar. Saya akan melaporkan hal ini pada dokter yang menangani Adik." Perawat itu mengukur suhu tubuh Faz menggunakan termometer khusus kemudian mengecek denyut nadi dan tensi Faz. "Semua sudah membaik meski belum stabil. Apa keluhan yang sekarang dirasakan?" "Pusing." Faz menjawab malu. Dirinya tidak terbiasa mendapat perhatian dan perawatan, jadi terbaring di rumah sakit seperti saat ini tentu membuat Faz malu apalagi ada Irva dan Pak Bram. "Baik, nanti saya sampaikan pada dokter, ya." Setelah mengemasi peralatannya, perawat itu undur diri. Saat melewati Irva dan Pak Bram perawat itu mengingatkan bahwa hanya boleh ada satu penunggu saja di ruang observasi itu kecuali pasien sudah dipindah ke dalam ruang perawatan. "Kamu pulanglah, aku janji Faz aman bersamaku." Bram berusaha meyakinkan Irva. Namun, ia harus menelan kekecewaan saat Faz justru menarik tangan Irva dan menahan pemuda itu agar tidak pergi. "Tidurlah lagi. Aku akan menjagamu." Irva mengusap rambut Faz untuk menenangkan gadis itu. "Aku tidak akan ke mana-mana. Aku janji." Faz tersenyum kemudian mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya yang kembali terasa berat meski baru saja bangun. Bram tidak memiliki kesempatan untuk saat ini. Ia tahu, dirinya pernah melakukan kesalahan fatal yang pastinya membuat Faz takut untuk berada berdua saja dengannya. Namun, dirinya juga tidak bisa pulang begitu saja sementara pujaan hatinya masih dirawat. Jadi, ia pun memutuskan untuk keluar dari ruang obervasi dan menunggu di bangku tunggu yang berada di koridor luar. Meski tidak berada di dalam bersama Faz, setidaknya ia berada di satu tempat yang sama dengan gadis itu dan tetap bisa memantau kondisinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN