"Saya mohon Bapak tidak perlu repot-repot." Faz menjawab sambil menundukkan kepala, tak berani menatap Pak Bram yang berdiri tepat di hadapannya. Ia tahu, sikapnya mungkin terkesan tidak sopan mengingat Pak Bram yang sudah menyelesaikan segala keperluan administrasi rumah sakit tempatnya dirawat, tapi tak bisa dipungkiri bahwa sosok di hadapannya ini masih membuatnya takut. Bukan hanya dari fisik Bram yang terlihat dewasa dan matang, tapi juga dari cara Pak Bram menatapnya pun sudah membuat dirinya merasa tak nyaman, mengingat apa yang pernah terjadi di antara mereka.
Faz bisa mendengar Pak Bram menarik napas dengan berat, mungkin reaksi kecewa atas penolakannya. Pak Bram sudah dengan tulus menyatakan keinginannya untuk mengantar dirinya pulang dan mencarikan asisten rumah tangga untuk menemaninya di rumah, tapi dirinya menolak hal itu dan bagaimanapun Pak Bram memaksa, Faz tetap tidak bisa menerima tawaran itu.
Saat ini sudah hampir tengah malam, ketika akhirnya dokter mengizinkan Faz untuk pulang. Dirinya tidak perlu menjalani rawat inap asalkan selama beberapa hari ini ia istirahat dan meminum obatnya secara rutin. Dokter pun telah memberikan surat keterangan sakit untuk sekolah dan tempat kerjanya.
"Aku hanya tak ingin kau sendirian. Itu membuatku tak tenang." Bram berharap gadis di hadapannya ini Sudi untuk membalas tatapannya agar dia bisa melihat ketulusan di matanya, tapi Faz tetap menjaga jarak dan enggan untuk melihatnya. Tangannya terkepal di dalam saku celana, sekuat tenaga menahan diri agar tidak bergerak maju dan merengkuh wajah yang selalu menghantui mimpinya di setiap malam. "Aku berjanji tak akan menyentuhmu, tapi setidaknya biarkan aku menjagamu dengan cara yang lain."
"Maaf, Pak. In syaa Allah saya bisa sendiri." Faz menjawab sopan.
"Panggil Bram saja ketika kita tidak sedang berada di lingkungan sekolah," ucap Bram dengan nada memohon. Ia ingin sekali Faz bisa memandangnya sebagai seorang laki-laki normal, bukan sebagai seorang kepala sekolah yang harus dihormati. Meski perbedaan usia di antara mereka cukup banyak yaitu enam belas tahun, tapi baginya itu bukan masalah besar. Banyak pasangan dengan rentang usia yang lebih banyak, tapi tetap bisa harmonis dan langgeng.
Kepala Faz menggeleng samar. "Saya tidak mungkin melakukan itu." Ia merasa lega karena Irva datang menghampiri setelah melakukan panggilan telepon penting hingga dirinya tidak perlu berdua saja dengan Pak Bram. Memang sejauh ini—setelah kejadian di ruang Kepala Sekolah—Pak Bram terlihat begitu menjaga sikap dan jarak dengannya, tapi entah mengapa itu belum bisa menghilangkan bayangan buruk di kepala Faz akan sosok itu.
"Ayok, semua sudah diatur. Kau pulang ke rumahku. Aku sudah menghubungi mama dan papa. Mereka dengan senang hati menerimamu di rumah." Irva berkata dengan senyum lebar terpampang di wajahnya.
"Apa?!"
Bukan hanya Faz yang terkejut, tapi Bram pun tak kalah terkejut mendengar ucapan Irva.
"Tidak, Irva. Aku tidak bisa merepotkan keluargamu terus menerus." Faz menolak.
"Kau gila? Mama dan Papa sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Apanya yang repot?"
Bram memejamkan mata sambil mengeratkan rahangnya mendengar penjelasan Irva. Seperti yang sudah ia duga, hubungan Faz dan Irva ternyata jauh lebih erat melebihi sahabat. Namun, dirinya belum siap untuk melepas Faz sekarang karena Bram yakin sekali, sedekat apa pun hubungan mereka, tetap saja mereka tidak mungkin bersama. Jadi, kesempatannya untuk bisa bersama Faz masih terbuka sangat lebar. Ia hanya perlu bersabar dan berusaha lebih lagi untuk menarik perhatian Faz.
"Jika Faz keberatan, aku tadi sudah menawarkan untuk mencarikan dia asisten rumah tangga yang bisa membantu dan menemani dia di rumah."
"Itu tidak perlu!" Irva berang. Matanya menyipit menatap Bram—berusaha mencari tahu buat tersembunyi di balik wajah yang terlihat tenang itu.
"Kenapa tidak perlu?" Bram menjawab tenang—berusaha bersikap tenang, karena sesungguhnya hatinya sudah terasa mendidih. "Menurutku justru itu solusi terbaik bagi Faz."
"Karena aku bisa mengurusnya!"
"Sampai kapan?" Bram bertanya dengan nada yang sangat pelan dan tenang, berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam hatinya.
Selama beberapa saat, Irva hanya diam dan terus menatap Bram penuh perhitungan sebelum akhirnya menjawab mantap, "selama Faz membutuhkan aku."
Bram tertawa mengejek, tapi tidak mengatakan apa pun lagi. Ia hanya meneliti wajah Irva untuk mencari seberapa serius ucapan pemuda itu dan ia cukup dibuat geram melihat tekad Irva yang sepertinya tak tergoyahkan. Bahkan, tiba-tiba saja dirinya dilanda kekhawatiran bahwa mungkin saja Irva akan berpindah keyakinan demi Faz. Saat pemikiran itu melandanya, Bram menjadi begitu geram. Kedua tangannya terkepal kaki di sisi tubuhnya. Matanya menyorot tajam dengan pupil yang semakin menggelap.
Faz menatap bergantian Irva dan Pak Bram. Keduanya masih saling pandangan dengan penuh perhitungan. Irva bahkan seolah lupa dengan siapa dia berhadapan, sementara Pak Bram pun sepertinya tak ada keinginan untuk memutus konfrontasi itu. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa keduanya harus bersikap seperti itu. Akhirnya, karena tak ingin menimbulkan pertikaian yang tidak perlu, Faz pun berkata, "sebaiknya aku pulang sendiri saja."
"Tidak!" Irva menjawab cepat tanpa menoleh karena dirinya tidak ingin mengaku kalah atas intimidasi Bram yang diarahkan padanya. Tidak!
"Ya." Faz tidak mau kalah. "Aku bisa mengurus diriku sendiri seperti biasa, Irva."
Irva terlihat ingin mendebat Faz, tapi kemudian ia memutuskan perang dingin antara dirinya dan Bram kemudian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah kalah. "Baik, tapi aku harus mengantarmu pulang."
"Irva—"
"Atau kau sudah benar-benar tidak ingin berteman lagi denganku." Irva memotong ucapan Faz dan sepertinya ancamannya berhasil, karena gadis itu terlihat pasrah dan tidak lagi mendebatnya. Pertengkaran mereka kemarin telah memberikan semacam kesadaran baik bagi Irva ataupun Faz bahwa mereka belum bisa untuk saling menjauh satu sama lain.
Tak ingin membuat Faz berubah pikiran, Irva buru-buru merangkul pundak Faz dan menggiring gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Kemudian, ia berbalik dan kembali berhadapan dengan Pak Bram. "Sepertinya hujan akan turun, jadi lebih baik saya segera mengantar Faz pulang."
Bram terpaku di tempat. Ekspresinya tak terbaca dengan rahang dikeraskan. Namun, dirinya tetap berusaha untuk bersikap tenang dan ramah karena ia tahu, Faz mengamati dari dalam mobil. Ia memaksakan sebuah senyum sambil berbisik tegas, "aku akan mengawasi."
Irva tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan ekspresi tak percaya. Setelah berkata bahwa dirinya tak akan pernah memaksakan kehendaknya pada seorang gadis yang tidak menginginkan dirinya, ia membungkuk samar kemudian berbalik meninggalkan Bram dan masuk ke dalam mobil. Ia membanting pintunya hingga menutup sebelum menyalakan mobil dan melaju cepat meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.
"Irva?" Faz mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Irva, tapi kemudian ia urungkan, tangannya berhenti di udara beberapa senti sebelum menyentuh Irva. Cowok itu terlihat terlalu marah hingga tak mendengar panggilannya dan tak menjawab. Faz menarik tangannya lagi dan memutuskan untuk membiarkan Irva tenang lebih dulu sebelum berbicara. Ia menyandarkan kepalanya di jendela kaca yang membuat dirinya tertidur beberapa saat kemudian dan baru terbangun ketika merasakan sentuhan halus di pipinya.
Faz membuka matanya perlahan. Selama beberapa detik, dirinya masih bingung, "di mana ini?"
"Di rumahku," jawab Irva sambil menyengir seperti biasa.
Faz menegakkan badan dan melihat kondisi sekitar. Ternyata Irva tidak berbohong. Saat ini mereka sudah berada di pelataran rumah Irva. "Kenapa ke sini?" Faz menoleh dan mendelik menatap Irva. "Antarkan aku pulang sekarang juga!"
"Baik, tapi aku harus ikut menginap di rumahmu."
"Itu tidak mungkin!"
"Pilihannya hanya dua, kau yang menginap di rumahku atau aku yang menginap di rumahmu."
Faz mengerang pelan. "Aku bisa sendiri." Namun saat itu Irva sudah turun dari mobil dan berjalan memutar di depannya kemudian membukakan pintu untuknya. Ia turun sambil menghentakkan kaki. "Sudah kubilang, aku bisa sen—"
Irva tidak tahu atas dasar apa dirinya tiba-tiba sudah meraih tengkuk Faz dan menarik gadis itu mendekat kemudian menempelkan bibirnya di bibir gadis itu. Mungkin karena emosi yang masih ia rasakan pada Bram atau memang ini murni keinginan dari dalam hatinya sendiri, Irva tak tahu. Pikirannya buntu.
Faz membelalak lebar. Tubuhnya kaku seolah seluruh sel di dalam tubuhnya mati. Bahkan ketika Irva sudah menarik diri darinya, ia hanya bisa terdiam dengan mata yang sudah memanas dengan bulir-bulir air mata menetes dari kedua sudut matanya.
Ketika akhirnya sudah bisa menguasai diri, Faz berkata dengan suara bergetar, "sebaiknya aku pulang saja." Ia mendorong Irva agar menjauh dari tubuhnya kemudian berlari cepat ke arah pagar rumah Irva.
Irva kelabakan. Ia mengejar Faz dan meraih lengan gadis. "Faz, tunggu!"
Faz terpaksa menghentikan langkah karena Irva berhasil mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Ia memberontak untuk membebaskan diri, tapi Irva menahan tubuhnya dengan lebih kuat membuat dirinya akhirnya berhenti meronta dan terisak semakin keras. Meski begitu, telinganya masih bisa menangkap ucapan maaf yang dibisikkan Irva di telinganya berkali-kali.
"Aku sungguh minta maaf," bisik Irva penuh penyesalan. "Aku bersumpah tak akan pernah melakukannya lagi. Jangan pergi."
Faz bergeming, tak menjawab permintaan maaf itu. Irva sudah berani menciumnya—atau dalam pandangannya, cowok itu sudah merenggut kehormatannya sebagai seorang muslimah—tanpa izin. Meski hanya sebuah ciuman di bibir, tapi bagi Faz itu adalah hal yang sangat sakral dan penting baginya. Dirinya berharap hal-hal semacam itu hanya akan ia berikan pada orang yang berhak mendapatkannya yaitu suaminya kelak. Namun, Irva membuatnya marah dan kecewa karena telah merenggut hal itu darinya. Sungguh, Faz merasa dirinya murahan dan tercemar.
"Faz, kumohon," ujar Irva merana. "Aku tak mau kau membenciku." Ia melepaskan pelukannya saat merasakan tubuh Faz sudah mulai tenang dan berhenti meronta. Kakinya melangkah berputar agar bisa berdiri berhadapan dengan gadis itu. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk bisa mengintip Faz yang masuk terisak dengan kepala tertunduk. "Aku minta maaf."
"Aku tidak tahu, Irva." Faz akhirnya bisa bersuara meski terdengar sengau. Ia menolak menatap Irva yang membungkukkan badan dan mengintipnya dari bawah dengan wajah menghadap ke atas. Jika tidak sedang dalam kondisi marah dan kecewa mungkin dirinya akan tertawa melihat Irva terlihat begitu konyol, tapi nyatanya melihat Irva melakukan itu justru membuat hatinya merasa kasihan. Selama ini Irva sudah begitu baik padanya. Rasanya tidak adil bagi Irva jika dirinya marah untuk kesalahan yang sudah disesali oleh cowok itu. Dia bahkan sudah meminta maaf berkali-kali padanya.
Faz mengusap air mata di pipinya kemudian memaksakan sebuah senyum untuk sahabatnya itu. "Jangan diulangi lagi."
"Janji." Irva menegakkan badannya kembali sambil tertawa lebar. "Ya, sudah ayo masuk. Dingin. Mama dan Papa sepertinya sudah tidur, tapi aku selalu bawa kunci cadangan." Irva mengacungkan tangannya yang memegang kunci.
Faz mengekor di belakang Irva masuk ke dalam rumah yang gelap karena semua lampu sudah dimatikan. Ia berjalan tersaruk-saruk karena tidak terlalu mengenal kondisi ruangan yang ia lewati. Tangannya meraih lengan Irva untuk berpegangan ketika dirinya hampir saja terjerembab ketika ujung jari kelingkingnya tersangkut di kaki sebuah kursi atau mungkin meja. Faz tidak bisa melihatnya karena benar-benar gelap. Ketika memasuki ruang keluarga barulah ada sedikit cahaya dari lampu meja di sudut ruangan di samping televisi.
"Kamu mau langsung istirahat atau di sini dulu?" Irva bertanya sambil melemparkan tas ranselnya begitu saja ke atas salah satu sofa.
"Kamu istirahat aja, biar aku di sini."
"Ya sudah, langsung ke kamar aja." Irva menarik pergelangan tangan Faz yang baru saja hendak menjatuhkan pantatnya di salah satu sofa. "Kata dokter kan kamu harus banyak-banyak istirahat."
"Ehm, aku di sini aja gapapa, kok."
Irva mengabaikan jawaban Faz dan tetap menarik gadis itu menuju kamarnya. "Chika pasti sudah ngorok, jadi aku nggak mungkin pinjam baju dia untuk kamu pakai. Sementara kamu pakai bajuku dulu, ya. Pilih sendiri di lemari yang cocok untuk kamu pakai." Sambil mengatakan itu, Irva dengan santainya melepas kemeja seragamnya dan melemparnya ke keranjang cucian kotor, mengabaikan wajah Faz yang memerah karena melihatnya setengah telanjang. Kemudian, ide jahil itu tiba-tiba saja terlintas di benaknya. Dirinya berdiri membelakangi Faz sambil membuka kaitan ikat pinggang di celananya. Setelah terlepas, ia pun membuka kaitan celana dan juga resletingnya kemudian berbalik menghadap Faz sambil menurunkan celananya.
Faz terkejut melihat Irva tiba-tiba membuka celana di hadapannya. Sontak saja ia menutup wajah dengan dua telapak tangannya sambil berteriak histeris.
"Kenapa, Faz?" Irva bertanya sambil menahan tawa. Ia melangkah maju mendekati gadis itu kemudian menarik telapak tangan Faz yang menutupi wajah. Tawanya tak bisa lagi ditahan melihat ekspresi ngeri di wajah Faz. "Kau ini kenapa?" Irva berpura-pura tidak mengerti.
"I-itu." Faz memejamkan matanya dengan erat tak mau melihat Irva.
"Itu apa?"
"Irva, ihh ... Aku pulang nih."
"Lha, apanya yang salah, sih?" Irva pura-pura b**o.
"Kamu ngapain telanjang begitu!"
Irva tertawa semakin keras. "Siapa yang telanjang sih? Liat dulu dong!" Telunjuk dan ibu jarinya memaksa untuk membuka mata Faz yang terus terpejam. "Aku juga harus menjaga keperjakaanku, Faz. Jangan ge-er deh."
Faz terpaksa membuka matanya dan bersiap-siap untuk memejamkan mata kembali ketika melihat sesuatu yang terlarang untuk ia lihat. Namun, nyatanya ia justru membelalakkan mata semakin lebar saat melihat Irva berkacak pinggang di hadapannya sambil menyengir lebar. Ternyata Irva tidak telanjang. Dia memakai celana pendek selutut di dalam celana seragamnya.
"Irvaaaa!" Faz berteriak sambil berdiri dan menyerang Irva. Dia mencubit perut, pinggang dan bagian mana saja tubuh Irva yang bisa ia raih membuat cowok itu mengaduh sambil terus tergelak.
"Kan, kamu sendiri kan mikir aku telanjang. Kok jadi aku yang salah?" Irva meringis merasakan cubitan Faz di pinggangnya. "Aduh, udah dong, Faz."
"Biarin. Kamu emang seneng banget ngerjain aku!" Faz berteriak geram sambil terus menyerang Irva yang berlari menghindar dan tidak melihat bahwa ikat pinggang Irva masih tergeletak di lantai. Kakinya menginjak besi runcing ikat pinggang itu dan membuatnya terkejut. Ia melangkah menghindar dan menabrak tubuh Irva yang tidak siap membuat mereka berdua sama-sama oleng kemudian jatuh ke lantai dengan posisi Irva telentang, sementara Faz menelungkup di atasnya.
Irva yang lebih cepat menyadari situasi, memilih diam dan tidak bereaksi apa-apa karena takut membuat Faz tak nyaman dan meminta pulang. Ia berbaring telentang sambil melemaskan kedua tangan di samping tubuhnya dan memejamkan mata, sementara Faz masih berbaring menelungkup di atasnya.
Faz mengangkat kepalanya perlahan dan terkejut mendapati dirinya jatuh menimpa tubuh Irva. Ia buru-buru menyingkir dari atas tubuh Irva dan duduk bersimpuh di sebelah tubuh Irva yang diam tak bergerak. "Irva?" Faz memanggil lirih, tapi cowok itu tetap diam dengan mata terpejam.
Faz menggoyang lengan Irva untuk membangunkan cowok itu. "Irva, kamu gapapa kan?" Tiba-tiba saja dirinya dilanda ketakutan luar biasa. Apakah kepala Irva terbentur dengan keras saat terjatuh tadi?
Faz membungkuk untuk memeriksa kepala Irva, siapa tahu ada genangan darah atau apa. Namun, begitu dirinya menyentuh telinga Irva untuk memiringkan sedikit kepalanya agar bisa memeriksa, Irva tiba-tiba saja membuka mata dan berteriak, "mau ngapain, hayo?!"
"Apa?!" Faz tergugu di tempat dengan tangan menggantung di udara. Matanya mendelik memperhatikan Irva yang sudah bergerak bangun dan saat ini duduk bersandar ke tempat tidur sambil menertawakan dirinya. Faz menurunkan tangannya ke pangkuan sambil menarik napas panjang. "Bercandanya jangan keterlaluan, dong. Aku beneran takut kamu kenapa-napa."
"Memangnya kau pikir aku kenapa?" Irva berhenti tertawa meski bahunya masih berguncang. "Aku tidak akan mati hanya karena terjatuh begitu." Ia berkata geli. Namun, saat melihat Faz tidak menangkap gurauannya dengan baik ia pun berhenti tertawa sepenuhnya dan mengulurkan tangan untuk mengusap pipi gadis itu. "Ada apa?"
"Bisa-bisanya hal seperti ini kamu jadikan bahan bercandaan. Aku benar-benar takut."
"Apa yang membuatmu takut?" Irva memajukan badannya agar bisa mendengar suara Faz dengan lebih jelas karena gadis itu berbicara sangat lirih.
"Aku tau aku mungkin konyol, tapi sesaat tadi aku benar-benar takut kau pergi."
Irva terharu mendengar pengakuan Faz. Gadis itu biasanya selalu menahan diri dan tak pernah mengungkapkan hal-hal yang bisa membuat hubungan mereka semakin dekat dan menjadi lebih berarti, tapi kali ini sepertinya dia memang benar-benar takut kehilangan dirinya. Hati Irva bersorak gembira. Ternyata efek pertengkaran mereka kemarin, berdampak begitu besar bagi hubungannya dan Faz. "Sepenting itukah aku bagimu?" Irva bertanya sambil menahan napas.
"Ya."
"Kalau begitu, aku tidak akan pernah pergi jika bukan kau sendiri yang memintanya."
***