Tujuh bulan sudah berlalu. Selama itu ia selalu setia menjadi pembasmi nyamuk untuk dua sahabatnya Friska dan Elena, jika mereka double date dengan pasangan masing-masing. Nayla memilih untuk menjomlo sejak putus dengan mantan pacarnya--Bintang yang ketahuan selingkuh itu. Gadis berlesung pipi tersebut memilih untuk menutup hati dan tidak ingin lagi untuk berpacaran. ia menutup dan mengunci hatinya dengan sangat rapat karena ia tidak mau lagi terluka. Ia masih muda, ia ingin menikmati masa remaja dengan hal-hal bermanfaat yang bisa membuatnya bahagia.
Seperti biasa, hari Sabtu adalah hari yang paling menyenangkan untuk Nayla dan kedua sahabatnya karena di hari ini mereka boleh pulang ke rumah lebih telat. Biasanya mereka akan ngabisin waktu di Pasar Atas sambil menikmati nasi goreng H. Minah atau mie tahu Bang Karto. Tentu saja Nayla akan jadi pembasmi nyamuk lagi. Namun, gadis tersebut tidak peduli asalkan bisa makan gratis.
"Nanti kita nyobain makan di Pondok Bakso yang di belakang Bioskop Gloria, yuk! Kata kakak aku makanannya enak-enak di sana. Nggak cuma bakso. Di sana juga ada siomay, mie ayam, nasi goreng, mie goreng, pokoknya komplit." Elena berpromosi.
"Boleh juga, tu. Tempatnya aku lihat juga keren," timpal Nayla. Sore kemarin dia dan mamanya melewati tempat makan yang baru saja dibuka beberapa hari yang lalu itu.
"Sepertinya siang ini aku nggak bisa join. Mama mau berangkat ke Padang karena besok si Uni wisuda. Uda juga pulangnya nanti sore. Aku harus buruan pulang," sesal Friska.
"Ya, sudah! Kalau begitu, kita undur aja makan-makannya. Kita ke rumah Friska aja. Kita nongkrongnya di sana aja, gimana?" tanya Nayla.
Friska adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Papanya sudah meninggal dunia tiga tahun yang lalu, saat dia masih duduk di kelas dua SMP. Kakaknya yang paling besar, saat ini sudah tamat kuliah, sementara abangnya yang nomor dua, memilih untuk kerja di bengkel mobil, setelah tamat dari sebuah sekolah kejuruan tahun lalu.
"Beneran kalian mau nemani aku di rumah?" tanya Friska senang.
"Iya, benar. Gimana kalau kita malam ini nginap di sana. Kasihan kalau Friska hanya berdua sama Uda di rumah. Pasti kesepian," usul Elena.
"Mama bakal ngizinin, nggak, ya?" Nayla tampak ragu.
Sebagai anak satu-satunya, Nayla agak susah minta izin untuk nginap di rumah teman. Selama ini, belum pernah sekali pun ia merasakan menginap di rumah teman, tetapi Friska dan Elena sudah beberapa kali menginap di rumah Nayla.
"Nanti kita bantuin ngomong, lah! Iya, kan, El?" ujar Friska senang.
"Pasti, dong!" jawab Elena yakin.
"Baiklah, semoga kalian bisa meluluhkan hati Mama," ujar Nayla penuh harap.
Sudah hampir tujuh belas tahun usianya, belum pernah sekali pun Nayla merasakan menginap di rumah teman seperti sahabatnya yang selalu diizinkan untuk menginap bareng. Selalu ada saja alasan mamanya untuk menggagalkan rencananya itu.
"Insyaallah kami pasti bisa. Pas pulang sekolah nanti, kita ke rumah kamu, nanti habis itu langsung ke rumahku agar bisa ketemu mama sebelum beliau berangkat ke Padang," ajak Friska.
"Siiiip!" Nayla dan Elena mengacungkan jempol mereka tanda setuju.
Ketiga sahabat itu sangat bahagia karena mamanya Nayla dengan gampang memberi izin untuk putri semata wayangnya menginap di rumah Friska. Padahal mereka sudah menyiapkan bernagai macam rayuan kalau seandainya beliau melarang. Namun, di luar dugaan, beliau justru tidak banyak tanya saat Friska mengatakan ingin mengajak Nayla dan Elena menginap karena mamanya mau ke Padang dan ia hanya tinggal berdua dengan abangnya di rumah.
"Luar biasa baget, ya. Hebat kamu, Friska. Mama bisa ngasih izin segampang itu." Nayla merasa sangat senang. Ini pertama kalinya ia diizinkan mamanya menginap di rumah teman.
"Siapa dulu, dong! Friska ...," ujar gadis berambut pendek tersebut sambil menepuk dadanya pelan.
Elena dan Nayla tertawa melihat kelakuan gadis yang badannya paling mungil di antara mereka itu. Terbayang sudah keseruan-keseruan yang akan mereka alami nanti.
--
Setelah mama Friska berangkat ke Padang, ketiga sahabat tersebut segera pergi ke supermarket yang terletak tidak jauh dari rumah Friska. Malam ini mereka akan melakukan semua hal yang menyenangkan. Elena sangat menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan masak memasak. Rencananya, malam ini ia akan memasak spaghetti dengan saos yang ia racik sendiri. Beberapa hari yang lalu, ia baru belajar mengeksekusi jenis masakan ini bareng mamanya yang memiliki sebuah kantin yang cukup besar di kantor kejaksaan Bukittinggi.
"Tambahin nugget, Fris," ujar Nayla sambil memasukkan sebungkus nugget ayam seberat lima ratus gram ke dalam keranjang berwarna merah yang dipegang Friska.
"Jangan lupa sekalian ambil mayonase biar rasanya lebih ajib," perintah Elena.
"Siap, Chef," jawab Friska. Gadis mungil yang memiliki tinggi badan seratus lima puluh empat sentimeter tersebut langsung melangkah mengambil mayonase yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka sedang berdiri.
Setelah semuanya lengkap, termasuk beberapa macam soft drink, makanan ringan, dan beberapa macam kertas warna-warni beserta balon, mereka bertiga segera ke kasir. Elena membayar semua belanjaan mereka terlebih dahulu, pas sampai di rumah baru mereka bagi tiga total harga belanjaan, lalu membayar uang Elena.
"Lumayan banyak juga makanan kita malam ini. Aku nggak sabar mau mulai party-nya," ujar Nayla girang.
Gadis manis berlesung pipi tersebut benar-benar senang. Ini adalah momen pertamanya nginap di rumah teman. Selain udanya Friska yang sejak tadi nggak nampak batang hidungnya, hanya mereka bertiga yang berada di rumah tersebut. Biasanya, saat para sahabat menginap di rumah Nayla, mereka hanya menghabiskan waktu dengan ngobrol dan dengarin musik di kamar.
Mereka tidak bisa bebas seperti saat ini karena saat suara musik sedikit lebih keras saja, mamanya sudah menegur mereka. Walaupun semuanya seperti diawasi, tetapi mereka tetap senang karena mama Nayla selalu menyiapkan makanan yang berlimpah untuk mereka.
"Kita salat Magrib dulu, yuk! Habis itu, aku dan Friska memasak makanan. Nayla yang menata makanan ringan dan minuman ini di atas meja, serta ngedekor ruangan ini. Bagaimana?" tanya Elena.
Elena tahu kalau Nayla sama sekali tidak bisa memasak. Sebagai anak tunggal yang kehadirannya ditunggu selama lima belas tahun, mamanya sangat memanjakan Nayla. Semua kebutuhannya selalu dilayani. Jangankan memasak, mencuci piring pun ia tidak diizinkan. Tugasnya hanya belajar.
"Siap, Chef," jawab Nayla dan Friska patuh.
Sepeninggal Elena, Nayla mulai menata makanan dan minuman di atas meja ruang tengah. Tidak lupa memasang dekorasi di dinding ruangan tersebut dengan beberapa balon, kertas warna-warni dan tulisan pajamas party. Setelah selesai, Nayla tersenyum melihat hasil karyanya. Dekorasi yang dibuatnya didominasi dengan warna pink dan ungu. Dekorasi tersebut terlihat sangat girly, sesuai dengan karakternya yang lembut dan feminin. Setelah merasa puas, Nayla membereskan sisa-sisa kertas yang masih berserakan di lantai. Ia tidak sabar untuk menyusul kedua sahabatnya ke dapur karena wangi masakan yang mereka racik, sudah menyebar sampai ke ruang tengah.
Ting ... tong ....
Suara bel mengurungkan langkah Nayla untuk beranjak ke dapur. Ia berbalik ke ruang tamu untuk membukakan pintu.
"Selamat malam, Uda Enrikonya ada?" tanya tamu yang baru saja menekan bel.
Nayla yang terpesona melihat sesosok pemuda tampan, berkulit putih, berhidung mancung dan memiliki dagu yang sangat menawan berdiri tepat di hadapannya, tidak menjawab pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut pemuda tersebut.
"Halo ... assalamualaikum! Uda Enrikonya ada?" Pemuda tersebut menggoyangkan tangannya tepat di depan mata Nayla yang sedang terpana menatapnya.
"Eh ... nyari Uda Enriko, ya! Tunggu di sini sebentar. Saya tanya Friska dulu," jawab Nayla gugup. Gadis itu segera berlari ke dapur sambil mengutuki dirinya yang tiba-tiba seperti orang b**o saat melihat cowok ganteng yang baru pertama kali ditemuinya.
Sementara itu, sepeninggal Nayla, pemuda yang mencari Enriko--abangnya Friska tersebut tersenyum melihat tinggah konyol Nayla yang menurutnya sangat imut. Entah kenapa, ia langsung merasa tertarik pada gadis yang baru saja ditemuinya itu.
"Fris, ada cowok ganteng banget di depan lagi nyariin Uda Enriko. Temuin, gih!" lapor Nayla.
"Siapa, Nay?" tanya Friska heran.
"Aku nggak nanya namanya tadi. Namun, sumpah! Ganteng banget! Kalau dia mau jadi cowok aku, aku bakalan tarik janji aku yang nggak mau pacaran lagi," ujar Nayla bersemangat.
"Seganteng apa, sih, Nay? Kamu kok sampai segitunya?" Elena penasaran.
Selama hampir dua tahun mereka bersahabat, ini pertama kalinya Nayla seheboh ini saat pertama kali bertemu dengan cowok sejak putus dari Benni. Padahal, selama ini banyak yang mencoba mendekatinya, dan semua harus menanggung kecewa karena ditolak Nayla.
"Pokoknya ganteng banget. Cowok kalian berdua lewat!" jawab Nayla, disambut dengan cubitan sahabat-sahabatnya.
"Aaawww ...," pekik Nayla kesakitan. Ia tidak menyangka akan mendapat serangan dari kedua sahabat baiknya ini.
"Yuk! Kita lihat ke depan siapa yang datang," ajak Friska setelah puas melihat Nayla kesakitan karena cubitan kecilnya tadi.
Tanpa menjawab, Elena dan Nayla mengekori Friska dari belakang. Elena sangat penasaran dengan cowok yang barusan dimaksud Nayla, sedangkan Nayla, tidak ingin melewati kesempatan untuk bisa melihat wajah tampan pangerannya.
"Hai, Fris! Uda Enriko ada?" tanya pemuda yang sejak tadi hanya berdiri di depan pintu rumah Friska karena tidak ditawari Nayla untuk masuk.
"Oh ... kamu, Teguh! Ayo masuk! Aku pikir tadi siapa? Temanku ini sampai heboh banget bilangin ada cowok ganteng yang datang," ujar Friska sambil tertawa.
"Aawww!" Nayla balas mencubit pinggang Friska. Ia mengutuki mulut sahabatnya yang tidak bisa direm tersebut.
Pemuda yang ternyata bersama Teguh tersebut tersenyum melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Ia semakin gemas melihat wajah Nayla yang memerah seperti kepiting rebus.
"Kenalin aku ke temanmu yang cantik ini, dong, Fris!" pinta Teguh membuat wajah Nayla jadi semakin merah. Sementara itu, dalam hatinya seperti ada bunga-bunga yang tumbuh bermekaran saat mendengar ucapan Teguh tersebut.
"Oh, iya. Teguh ... kenalin ini Elena dan ini Nayla. Elena ... Nayla ... ini Teguh, teman aku dari kecil. Rumahnya nggak jauh dari sini. Statusnya jomlo sama dengan Nayla, belum pernah pacaran dan sering bikin cewek patah hati," jelas Friska sambil tertawa.
"Apaan, sih, kamu, Fris! Panggilin Uda Enriko, sana!" perintah Teguh.
"Ogah! Kamu aja manggil sendiri! Seperti biasa, dia lagi ngeram di kamar!" ujar Friska.
Tanpa menunggu disuruh dua kali, Teguh langsung melangkah ke kamar Enriko yang terletak di lantai dua. Di saat melewati Nayla, ia memberikan senyuman yang paling manis, menandakan kalau ia merasa tertarik pada gadis berlesung pipi tersebut. Melihat tingkah Teguh, Nayla tersipu dan lagi-lagi wajahnya terasa panas. Friska yang melihat kejadian itu langsung mendeham mengagetkan mereka berdua.
Teguh sudah menganggap rumah Friska ini seperti rumahnya sendiri. Pemuda tersebut seumuran dengannya. Sejak SD sampai SMP mereka bersekolah di tempat yang sama. Namun, saat masuk SMA, Teguh lebih memilih untuk mengambil sekolah kejuruan yang sama dengan Enriko--Abang Friska yang nomor dua. Teguh dan Enriko adalah teman dekat. Jarak usia mereka cuma dua tahun. Keduanya memiliki hobi yang sama di bidang automotif. Makanya mereka sangat cocok.