Erwin Tersadar

1106 Kata
Bagi sebagian orang, itu naif. Akan tetapi, untuk Erwin, itu satu-satunya hal yang membuat dirinya masih merasa hidup hingga detik-detik ini. Pukul tujuh lewat sepuluh pagi, ia sudah di dalam mobil. Avanza 2013 itu masih mengeluarkan sedikit bunyi ngorok di bagian bawah kap mesin, tapi setidaknya mobil itu masih setia menemaninya dari satu kantor hukum ke kantor polisi; juga dari pengadilan ke rumah-rumah klien. Hari ini, Erwin harus menemui satu orang penting. Orang itu seorang jaksa bernama Ignatius Muchtar, yang belakangan ini mulai terlihat risih karena banyak perkara yang tidak wajar masuk ke dalam jalurnya. Erwin punya dugaan, kalau Koh Yudi dan kroni-kroninya juga menyebar jaring sampai ke Kejaksaan Negeri. Walaupun demikian, Erwin tidak mau sembarang tuduh. Ia ingin tahu pasti. Sesampainya di kantor Kejari Jakarta Timur, ia langsung disambut oleh ajudan Pak Ignatius Muchtar, seorang pria muda berkacamata yang memperkenalkan diri sebagai Bram. “Pak Erwin, mohon maaf, Pak Ignatius Muchtar sedang ada pembicaraan dengan Tim TP4D. Tapi beliau titip pesan, silakan menunggu di ruang tamu VIP.” “Baik,” jawab Erwin singkat. Bram membawanya ke sebuah ruang ber-AC, dengan lukisan Gunung Rinjani tergantung di dinding. Meja marmer dan sofa hitam mengisi ruang yang terasa sunyi. Di situ, Erwin membuka laptopnya, menyusun kronologi kasus Jalu. Ia tahu, Jalu hanya pion kecil dalam papan catur yang lebih besar. Menurut Erwin, bahkan mungkin ssungguhnya ini melibatkan polisi, mafia logistik, dan distributor narkotika lintas wilayah. Setengah jam kemudian, Pak Ignatius Muchtar muncul. Usianya 50-an, rambut disisir rapi ke belakang, jas kejaksaan masih berkilau. “Erwin,” ucapnya dengan nada ramah namun waspada. “Masih bawa kopi dari luar?” Erwin tersenyum. “Maaf, saya lupa adatnya. Biasa ngopi di dalam mobil sendiri.” Pak Ignatius Muchtar tertawa. “Kamu masih keras kepala ya. Duduk, duduk.” Pembicaraan mereka berlangsung tertutup. Tapi yang bisa kita dengar adalah ini: “Pak Ignatius,” kata Erwin serius. “Kalau saya tunjukkan bukti, bahwa ada oknum aparat dan penyidik yang sengaja memasukkan heroin ke paket yang seharusnya skincare, Bapak masih bisa bantu saya?” Pak Ignatius Muchtar menatap Erwin tajam. “Erwin, kamu tahu sendiri, kita ini sekarang seperti jalan di tambang yang penuh ranjau. Salah langkah dikit, bisa meledak semua. Tapi, kalau kamu bisa tunjukkan bukti kuat, yang seperti rekaman, transfer dana, atau saksi yang netral, saya mungkin akan mempertimbangkannya. Maksud saya, buat ambil resiko itu.” Erwin menyodorkan sebuah flashdisk. “Lihat file yang bernama KasusJaluPertama.mp4. Isinya rekaman CCTV dari sebuah lobi apartemen. Salah satu petugas keamanan diam-diam kirim ini ke saya. Ada orang berpakaian polisi, tapi tidak masuk dalam daftar personel resmi Polsek Cibubur. Dia kasih bungkusan ke kurir yang nanti bakal ditangkap waktu razia.” Pak Ignatius Muchtar menggenggam flashdisk itu. Lalu berdiri dan berjalan ke jendela. Dari sana, ia melihat ke arah jalan. Sejenak hening. “Apa kamu yakin ingin lanjutkan semua ini, Erwin?” tanyanya pelan. “Ini bukan sekedar kasus. Ini bisa bikin kamu hilang dari dunia hukum.” Erwin tersenyum. “Saya sudah pernah bilang, kan, Pak Ignatius? Andaikan saya harus hilang demi menyelamatkan orang tidak bersalah, saya rasa itu lebih baik daripada tetap hidup tapi pura-pura tuli.” Pak Ignatius menghela napas. “Baiklah. Dasar anak muda, apa-apa idealisme. Tapi, sudahlah, biar Bapak tonton ini dulu. Tapi kalau besok pagi kamu tidak dapat kabar dari saya, segera cari perlindungan, Erwin.” “Tak perlu Bapak ingatkan, saya juga tahu diri.” ***** Hari mulai sore. Erwin memutuskan mampir ke rumah orangtuanya, sekadar menenangkan diri. Di sana, ibunya, Bu Liana, sedang menyiram bunga. “Win, Papa kamu tadi ke rumah sakit. Periksa darah katanya. Katanya dia sempat pusing waktu urus kontrak di proyek Kelapa Gading,” ujar Bu Liana sambil tetap menyiram tanaman. “Papa nggak bilang ke aku,” gumam Erwin sambil duduk di kursi teras. "Tumbenan..." “Iya, kamu tahu sendiri Papa kamu. Kalau urusan begituan, nggak mau ngerepotin anak-anak.” Erwin terdiam. Di sela-sela semua yang ia perjuangkan, ada satu kenyataan yang tak bisa ia lupakan. Itu adalah waktu. Waktu terus berjalan. Orangtua menua. Dirinya pun tidak lagi muda. Terkadang pilihan-pilihan besar dalam hidupnya terasa seperti rute kereta yang sudah terlalu jauh untuk balik arah. Saat itu, ponselnya berbunyi. Dari nomor tidak dikenal. Erwin mengangkat. “Halo?” Suara berat di seberang sana, “Koh Erwin, saya terima info dari teman di dalam. Kamu lagi dilacak. Bukan cuma kamu. Gloria juga. Hati-hati dalam beraktivitas. Mereka tahu kamu punya file soal aktivitas mereka. Saran saya, mending hapus, Koh.” Erwin tercekat. “Siapa ini?” “Nggak penting siapa saya. Tapi kalau kamu masih pengen hidup, jangan pulang ke rumah sendiri malam ini. Dan jangan biarin cewek namanya Gloria itu jalan sendirian. Nggak pengen doi mampus, kan?" Sambungan terputus. Erwin berdiri. Jantungnya berdebar. Ia menatap ibunya yang masih menyiram tanaman. Aroma bunga kamboja tercium di udara. Lentera yang ia nyalakan mungkin saja akan mengundang monster keluar dari kegelapan. Apa pun itu, ia tak akan mundur sekarang. Saat Erwin menatap ibunya tersebut, Erwin baru sadar satu hal. Ternyata, ia baru sadar, ada korelasinya antara rekan bisnis ayahnya--Pak Martin Tumbelaka--dengan CV Anugerah Prima. Dulu, saat masih kuliah S2, salah satu dosen S2, Ibu Dina Halimah, pernah menceritakan bahwa Martin Tumbelaka merupakan salah satu pengusaha Manado cukup disegani. Keponakan Dina Halimah pernah menjalin hubungan kerjasama dengan Martin Tumbelaka, yang juga dengan Ferdi Welly. Menurut Dina Halimah, Ferdi Welly itu termasuk pengusaha hitam. Langsung saja bergegas ke dalam kamarnya. Ia ambil laptop yang semalam ia taruh di atas meja belajar. Ia nyalakan. Erwin menatap layar laptop yang mulai menyala, detak jantungnya tak karuan. Ia membuka direktori file yang biasa ia simpan untuk catatan kasus dan referensi lama dari masa kuliahnya. Di folder berjudul “Materi Kuliah Bu Dina Halimah”, ia mulai mencari-cari nama “Martin Tumbelaka”. Berkas presentasi, catatan kelas, hingga artikel berita lama terarsip rapi di sana. Tabiatnya sebagai mantan mahasiswa hukum memang membuat ia rajin mencatat dan menyimpan setiap potongan informasi, meskipun saat itu tak tahu akan berguna atau tidak. Ia menemukan berkas Word berjudul: “Kelas Hukum dan Dunia Usaha” Di dalamnya, Erwin membaca ulang catatan kuliahnya di kelas Hukum dan Etika Bisnis, yang diajar oleh Ibu Dina Halimah. “...Martin Tumbelaka, meskipun tidak pernah tercatat melakukan pelanggaran hukum secara langsung, selalu disebut-sebut dalam kasus sengketa logistik lintas pulau, terutama menyangkut pengadaan bahan bangunan di Indonesia Timur. Salah satu perusahaan yang pernah berkonflik dengannya adalah CV Anugerah Prima, yang belakangan digandeng oleh pengusaha baru, Ferdi Welly. Dalam lingkaran tertutup, Ferdi dikenal sebagai pengusaha gelap yang memiliki jaringan kuat dengan oknum aparat dan penyidik. Kombinasi mereka dianggap berbahaya oleh komunitas bisnis lokal.” Mata Erwin terbelalak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN