Musuh Belum Mau Menyerah

1087 Kata
Keadilan akhirnya menang. Namun, benarkah itu keadilan? Setidaknya, kemenangan didapatkan oleh tim pengacara dari Sanputra Siagian Associate. Pak Robert Sitorus menyalami Erwin. Tanah sengketa di daerah Cipayung, setelah beberapa kali persidangan, dimenangkan oleh Pak Robert Sitorus. Tampaknya Ibu Mariana Lidwina--selaku hakim ketua--menemukan kejanggalan dalam beberapa perjanjian yang dibuat oleh PT CV Anugerah Prima. CV itu dikenakan sanksi. Rivo Nadapdap, selaku pengacara CV Anugerah Prima, menghampiri Erwin dan Mordekhai, perwakilan dari CV Anugerah Prima. "Selamat, yah," Di mata Erwin, tatapan Rivo, cukup menyeramkan. Apakah... "Maaf, yah, Lae," ujar Mordekhai Siagian menyalami Rivo, berbisik, "lain kali hati-hati pilah-pilih client, Lae." Rivo balas berbisik, "Lihat nanti saja," Koh Yudi dan Ferdi Welly memanggil Rivo. Rivo mendekati dua kliennya. Perasaan Erwin makin tak tenang. Erwin tahu sedang berurusan dengan siapa. Ferdi Welly sudah terkenal sebagai taipan Cina yang cukup bermasalah. Konon, apalagi jika mengingat cerita dosen-dosen Erwin dulu, Ferdi Welly memiliki kedekatan dengan pihak kepolisian, militer, dan tokoh-tokoh politik. Erwin pun teringat dengan Gloria. Erwin meremas pelan ponsel di tangannya. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya melayang ke arah Ferdi Welly yang berdiri tak jauh dari ruang sidang, dikelilingi oleh dua bodyguard bertubuh kekar. Di sampingnya, Koh Yudi tampak lebih kalem, tapi Erwin tahu, justru dari situlah bahaya yang lebih dingin mengintai. Rivo Nadapdap berbicara pelan dengan dua kliennya. Dari gerak bibirnya, Erwin sempat menangkap sepintas: “jadi lanjut ke kasasi?” Dan meskipun jaraknya agak jauh, Erwin tak bisa menepis firasat buruk yang mencuat dari sikap mereka. Mordekhai menepuk bahu Erwin. “Santai aja, Win. Kita udah pegang semua data. Hakim pun adil. CV mereka kena sanksi. Masalah tanah ini udah tutup buku.” “Tutup buat publik,” gumam Erwin. “Tapi buat mereka, ini baru pemicu. Mereka gak bisa kalah tanpa balas dendam.” Mereka berdua berjalan keluar dari ruang persidangan. Di luar, wartawan sudah menunggu. Lampu kamera menyala, mikrofon diarahkan ke wajah Erwin. Ia mengangguk sopan. “Pak Erwin, bagaimana tanggapan Anda atas kemenangan ini?” “Yang menang adalah masyarakat Cipayung,” jawab Erwin tenang. “Kami hanya mewakili hak yang benar. Semoga ini jadi sinyal bahwa hukum masih bisa berjalan adil.” Setelah menjawab beberapa pertanyaan, Erwin dan Mordekhai buru-buru keluar menuju parkiran. Mereka tak ingin terlalu lama jadi pusat perhatian. Diam-diam, Erwin mengirim pesan pada Gloria: “Glo, kasus ini memang aku menangkan. Tapi aku khawatir kamu. Boleh aku temui kamu?" ***** Di kamarnya, Gloria membaca pesan dari Erwin. Ia lega, tapi juga takut. Ketakutan itu bukan karena persidangan, melainkan karena teror yang makin sering datang sejak nama dan wajahnya mencuat dalam kasus Indra. Sudah tiga kali seseorang mengirimkan bunga ke apartemennya, tanpa nama. Di salah satu buket mawar putih, ada selembar kertas kecil bertuliskan: "Mawar putih untuk yang segera dikuburkan.” Gloria tidak memberitahu Erwin tentang itu. Ia tak ingin membuat kekasihnya tambah panik. Namun, malam ini, dengan firasat buruk yang belum juga surut, ia memutuskan untuk mengemas beberapa barang pribadinya ke dalam koper kecil. Hanya yang penting saja: laptop, dokumen, charger, dan satu album foto kenangan masa kecil. Ketika bel pintu apartemen berbunyi, ia refleks menggenggam benda tumpul di dekatnya, yaitu payung lipat. Namun, suara yang terdengar setelah itu membuatnya lega. “Ini aku, Win.” Ia membuka pintu. Erwin berdiri di depan, wajahnya penuh kelelahan. Namun, saat melihat Gloria masih utuh, ia menghembuskan napas panjang. “Cepetan, ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa.” Mereka pun turun ke parkiran dan masuk ke mobil. Gloria memperhatikan wajah Erwin dalam diam. “Aku tahu kamu takut,” katanya pelan. “Takutnya bukan karena kalah di pengadilan. Tapi takut kamu kenapa-napa,” jawab Erwin. Gloria menggenggam tangannya. Mobil melaju perlahan, keluar dari gedung apartemen, menembus lampu malam Jakarta yang terang, tapi terasa kosong. ***** Sementara itu, di ruang VIP sebuah lounge hotel di Menteng, Ferdi Welly menyulut cerutunya. Rivo Nadapdap duduk di depannya, gelas wine di tangan, tapi belum disentuh. “Kalian janji sama saya bisa menangin kasus ini,” kata Ferdi datar, tapi berisi. “Kita punya bukti. Tapi Hakim Lidwina kelihatannya..." sahut Rivo mengepalkan jemari erat. Koh Yudi mengangguk pelan. “Mungkin bukan waktunya kita main lewat jalur hukum. Ada cara lain.” Ferdi mengangguk. “Saya nggak suka kalah. Sejak kecil, saya sudah diajarin harga diri itu nomor satu.” Ia berdiri, menghampiri jendela besar ruangan itu, memandangi kota Jakarta dari ketinggian. “Erwin Sanputra Lukmansyah. Kalian cari semua jejaknya. Cari celah buat kalahin dia. Dan satu lagi…” Ferdi berbalik. Wajahnya yang tadinya dingin, sekarang berubah menjadi penuh murka. “…bikin dia nyesel udah pernah menang lawan saya. Terus, buat si Batak itu, bikin dia lepasin tanah itu buat CV Anugerah Prima. Persetan... padahal kita sudah berencana bikin mal di sana." "Kita kasasi atau pegimana?" tanya Koh Yudi yang sepertinya belum puas dengan hasil persidangan tadi siang. "Kasasi, pastinya," geram Ferdi Welly. "Dan, sorry nih, Pak Rivo, kerjasamanya harus kita akhiri. Kita kira you kompeten. Kenyataannya pengacara ecek-ecek." Rivo Nadapdap terlihat tersinggung. "Nanti kirimin, Lae," ujar Koh Yudi terkekeh bercampur sinis. "nomor rekeningnya. Koh, I masih ada sederet pengacara yang cukup kompeten buat menangin sengketa ini." ***** Esok harinya, Gloria sementara tinggal di rumah salah satu rekan Mordekhai di daerah Bogor, sambil menenangkan keadaan. Hanya saja, pagi itu, seorang tukang sayur yang melintas di depan rumah sempat melihat dua orang asing dengan motor matic mondar-mandir sambil sesekali memotret rumah. Erwin merasa harus mengambil langkah proaktif. Ia tak bisa hanya menunggu diserang. Ia menghubungi seorang teman lama dari kampus yang kini bekerja di kejaksaan. Namanya Abraham Manurung. Konon Abraham ini memiliki koneksi ke dunia intelijen, entah yang mana. “Abram, gue butuh bantuan lo. Ini bukan lagi cuma soal sengketa. Mereka udah main ancam.” Di seberang telepon, suara Abraham terdengar tegas. “Gue bantu. Tapi lo juga harus siap, Win. Kalau main sama mereka, nggak ada yang setengah-setengah.” Erwin menatap Gloria yang tertidur lelap di kursi kayu dekat jendela. Wajahnya damai. Ia tahu, semua ini akan berujung pada satu hal. Bentrokan antara yang punya kuasa dan yang berani melawan. "Bisa kita ketemuan?" "Boleh-boleh aja. Hari minggu mau? Jadwal gue padat, Win." "Ah, sok sibuk lo. Katanya, solidaritas anak hukum, hahaha..." "Apaan sih lo. Untung kita satu almamater, satu angkatan. Udah gini, hari minggu, mau?" "Jam dan lokasinya?" "Kelar ibadah, kita ketemuan di Plaza Senayan, di Remboelan. Jam 4 sore, no ngaret. Ini gue juga... yah, lo tau, lah, gue ada bini sama anak. Anak udah usia 4 tahun. Hari minggu, waktu santainya gue, Win. Pengertian, lah." "Oke, oke, deal, jam 4 sore, hari minggu, Remboelan, Plaza Senayan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN