Tentang Hubungan Erwin dan Gloria

1020 Kata
Antara Erwin Sanputra dan Gloria Sincia, mereka berjarak usia sepuluh tahun. Erwin sekarang berusia 35. Sementara Gloria akan memasuki usia 25 di tanggal 11 Desember nanti. Erwin mengenal Gloria lima tahun lalu. Saat itu, Gloria masih mahasiswi di salah satu universitas swasta di kawasan Sudirman. Jurusannya Gloria adalah Komunikasi. Meskipun masih kuliah, Gloria menyempatkan diri untuk magang di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang event organizer. Erwin bertemu Gloria di sebuah konser musik yang mana Gloria terlihat dalam kepanitiaannya--dalam sistem EO-nya. Dari tak sengaja menonton konser bersama, berlanjut ke pertemuan di sebuah klub malam, lambat laun hubungan mereka lebih dari sekadar teman. Sayangnya, keduanya belum sama-sama sepakat untuk berkomitmen. Saat itu Erwin baru lulus kuliah S2 Hukum. Bersiap untuk mendirikan firma hukum bersama temannya di fakultas Hukum saat masih kuliah S1 (yang namanya Justin Siagian). Erwin Sanputra masih ingat dengan jelas malam pertama ia benar-benar memperhatikan Gloria Sincia. Di antara hiruk-pikuk penonton konser, sorotan lampu panggung, dan dentuman bass yang menggetarkan d**a, mata Erwin secara naluriah menangkap sosok perempuan berambut hitam lurus nan panjang, mengenakan kaus biru panitia dan celana jins belel, sibuk mondar-mandir sambil membawa clipboard. Perempuan itu tampak tangguh, cekatan, tapi ketika ia tersenyum pada seorang kru, senyuman itu meluluhkan semua energi maskulin yang mengelilinginya. Setelah konser usai, Erwin menghampirinya di dekat area backstage. "Kamu kayaknya bukan penonton biasa," ucap Erwin dengan nada ringan. Gloria menoleh, sedikit curiga. “Kenapa? Takut aku malah ngasih kamu tiket palsu?” Erwin terkekeh. “Bukan. Tapi aku kayaknya mau ngasih kamu kopi asli. Asli enaknya.” Gloria hanya tersenyum geli dan melangkah pergi, tapi esoknya, mereka bertemu lagi di sebuah klub malam, dalam sebuah afterparty kecil yang diadakan untuk kru konser. Di sanalah semuanya mulai. Dari satu obrolan ke obrolan lainnya, satu gelas ke gelas lainnya, hingga Erwin mengantar Gloria pulang malam itu, dengan keduanya tertawa sepanjang perjalanan. Selama hampir dua tahun setelahnya, hubungan mereka seperti orbit yang saling bersilangan. Kadang dekat, kadang menjauh, tapi tak pernah sepenuhnya lepas. Sampai sekarang Erwin, dari lubuk hatinya, masih mencintai Gloria. Kini, lima tahun berlalu sejak malam itu. Gloria sudah dewasa. Erwin selalu merasa justru dirinya yang masih terombang-ambing. Kadang ia suka bercanda tentang usianya dan Gloria yang terpaut sepuluh tahun. Omong-omong, karier Erwin makin menanjak, namanya mulai dikenal di dunia hukum, terutama perkara-perkara pelik yang menyangkut celah gelap antara regulasi dan praktik. Namun, tidak begitu dengan kehidupan pribadinya. Menurut Erwin, terlalu banyak kompromi. Terlalu sedikit ruang untuk benar-benar bernapas. Sore itu, keduanya bertemu di Grand Indonesia. Tepatnya di Starbucks. Gloria datang dengan blus krem dan celana kulot hitam. Ia membawa dua gelas kopi, salah satunya diberikan ke Erwin. “Masih suka americano tanpa gula, kan?” tanya Gloria. Erwin mengambil gelas itu dan mengangguk. “Kamu masih ingat.” “Orang kayak kamu susah dilupain, Win.” Obrolan awal terasa canggung. Tapi pelan-pelan, kehangatan muncul. Mereka duduk di bangku dekat meja kasir, menatap hilir mudik pengunjung yang silih berganti masuk ke dalam Starbucks. “Aku denger kamu sekarang masuk ke ranah kasus berat, bener?” tanya Gloria sambil menyeruput kopinya. “Lumayan. Satu klien malah hantu,” jawab Erwin santai. Gloria nyaris tersedak. “What?! Hantu? Maksudnya gimana? Becanda kan kamu?” “Beneran, Glo? Ada hantu anak kecil suka nyamperin aku. Dia meninggal di flyover. Muncul di kamarku. Minta tolong gitu.” Gloria memandang Erwin dalam-dalam. “Kamu masih bisa bercanda kayak dulu.” “Siapa bilang aku bercanda?!” Mata Gloria sedikit membelalak. Namun ia tak tertawa. Ia tahu, kadang-kadang Erwin mengatakan kebenaran di antara candaannya. “Kamu masih ngelihat yang begituan?” Erwin mengangguk pelan. “Dan kamu masih bisa ngerti tanpa mikir aku sakit jiwa, kan. Itu yang aku suka banget dari kamu.” Gloria tersenyum. Tapi ada duka kecil di matanya. “Tapi kamu nggak pernah ngizinin aku masuk lebih dalam, Win. Selalu ada batasnya. Kadang aku kesel di posisi itu." Erwin menunduk. “Karena aku nggak mau kamu ikut terluka bareng aku. Dunia tempatku berada sekarang, Gloria, lebih gelap dari yang kamu tahu. Sekarang, satu client aku hampir dijebak sama kasus narkoba. Sopir ojol gitu. Dia bahkan nggak tahu dia lagi bawa heroin. Aku harus bantu dia. Tapi lawan yang aku hadapi, you know, mereka bukan main-main, Glo.” Gloria menyentuh tangan Erwin. “Win, kamu ingat malam saat kamu pertama kali nganterin aku pulang? Kamu bilang, kamu suka jadi pelindung, bukan pahlawan.” “Karena pahlawan selalu mati duluan,” gumam Erwin. "Sementara seorang pelindung bisa mati-hidup kapan saja. Dia nggak selalu mati duluan." “Tapi pelindung juga bisa jatuh kalau dia sendirian terus.” Mereka terdiam. Udara dari mesin pendingin kian berhembus, yang makin menambah ketegangan di antara keduanya. Cukup aneh, tapi memang begitulah hubungan Erwin dan Gloria. Sering disusupi hal-hal aneh bin ajaib. Erwin menghela napas. “Aku gak tau apakah aku bisa punya ruang buat sebuah hubungan romantis.” Gloria menatapnya lembut. “Aku nggak minta hubungan romantis. Aku cuma minta kamu percaya sama aku. Kalau kamu butuh tempat bersandar, kamu tahu di mana harus mencarinya. Dan, itu aku bisa aku sediakan buat kamu, Erwin.” Erwin menatap mata Gloria. Di dalamnya, ia menemukan rumah. "Gloria... apa ini artinya?" "Ehem... terserah kamu mau mengartikannya sebagai apa? Terus, satu hal lagi, jangan sering-sering berhubungan sama Sisca. Aku cemburu." Erwin tertawa terbahak-bahak. "Orangnya bahkan sudah menikah, Glo..." "Masa?" ***** Setelah pertemuan itu, Erwin kembali ke mobil dengan perasaan yang lebih ringan. Di tengah jalan, Jalu menelepon lagi, mengatakan bahwa polisi yang kemarin malam datang ternyata bukan utusan Pak Laurentius. Bahkan Laurentius membantah keras saat ditanya. Erwin tahu, ini makin rumit. Ada operasi bayangan. Mungkin dari CV Anugerah Prima. Atau bahkan dari internal penegak hukum yang korup. Di dasbor mobilnya, ponselnya terus berbunyi. Ada email masuk. Satu dari Justin Siagian, rekannya di firma hukum. Subjeknya: "Win, client baru. Urgent banget kayaknya. Tapi, menurut gue, agak aneh." Erwin menarik napas panjang. Hari belum berakhir. Dunia tak pernah benar-benar damai. Walaupun demikian, sekarang, setidaknya, ia tahu bahwa ada seseorang di luar sana yang percaya padanya. Menurutnya, itu sudah cukup untuk membakar semangatnya. Ia lalu menyalakan mesin, dan melaju lagi ke arah malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN