Teror Kepala Babi

1362 Kata
Sekarang Erwin berada di restoran mewah yang ada di Plaza Senayan. Bersama rekannya, Mordekhai Siagian dari Sanputra Siagian Associate. Untuk membicarakan banyak hal. Salah satunya itu tentang Indra, penggemar Gloria yang kepergok sedang membakar bingkisan berisi heroin. "Win," kata Mordekhai makan nasi goreng spesial seharga Rp 75.000. "Iya, Deka..." balas Erwin yang makan Lo Mie seharga Rp 54.650. "Polisi seharusnya nggak bisa main tangkep gitu aja." "Lo sepakat kan sama gue?!" Mordekhai menganggukkan kepala. "Biar gimana juga, bingkisannya udah dibakar. Dan, menurut cerita yang gue tangkep, emang nggak ada CCTV di dekat rumahnya Indra itu. Polisi nggak punya motif kuat buat nangkep. Motivasinya apaan juga? Toh, bingkisannya belum tentu heroin." "Nah, itu dia, Bro..." “…makanya gue curiga. Jangan-jangan ada yang main belakang,” sambung Erwin sambil menyeruput kuah Lo Mie-nya yang mulai dingin. “Terlalu cepat proses penangkapannya. Seolah-olah ada yang nyodorin info ke polisi. Bisa jadi ini kerjaan orang dalam…” Mordekhai menyeka mulutnya dengan tisu, lalu mencondongkan badan. “Lo udah cek siapa penyidik yang megang kasus si Indra itu?” “Masih diselidiki sama Anggi dan lainnya. Tapi dari sumber lain, namanya Kompol Pendi Sinurat. Pernah jadi bagian dari Satgas Narkoba, tapi belakangan dipindahin ke unit lain. Anehnya, sekarang kok balik lagi megang kasus begini?” “Kompol Pendi? Dulu dia pernah disebut dalam laporan Komnas HAM gara-gara penanganan paksa terhadap anak jalanan yang dituduh sebagai kurir narkoba,” bisik Mordekhai. “Tapi kasusnya menguap gitu aja.” Erwin menghela napas panjang. “Gue makin yakin, ini bukan sekadar salah tangkap. Ini kayaknya framing. Bisa jadi ada pihak-pihak yang mau Gloria atau gue terseret juga. Lewat Indra. Masalahnya, Indra tuh polos kelihatannya. Dia penggemar beratnya Gloria juga, Deka. Bukan kurir apalagi pecandu.” “Kalau gitu, satu-satunya jalan, kita kawal terus kasus ini.” Erwin menggeleng. “Belum saatnya kayaknya. Kita harus hati-hati. Kalau terlalu cepat di-up media, bisa jadi malah diputer balik narasinya. Kita harus kumpulin bukti dulu. Minimal, buktiin kalau penangkapan Indra nggak prosedural. Lo masih punya kenalan di LBH nggak?” “Masih, Win. Gue bisa minta bantuan investigasi dari mereka. Atau minimal, minta opini hukum dari dosen kita dulu waktu masih kuliah. Dia sering bantu dalam kasus hak sipil begini.” Erwin menyandarkan punggung ke kursi. Restoran itu makin ramai. Obrolan mereka tenggelam di antara dentingan garpu dan senda gurau pengunjung. Namun di kepala Erwin, segala sesuatu malah semakin bising. “Ada satu hal lagi, Dek.” “Apa?” “Kalau ternyata benar ada orang dalam yang bocorin aktivitas gue sama Gloria, bisa jadi itu bukan polisi. Bisa jadi, itu orang-orang lama. Gue takut ini ada hubungannya sama kasus yang law firm kita lagi tangani." Mordekhai terdiam. “Lo kepikiran sama Ferdi Welly?” Erwin mengangguk perlahan. “Dan mungkin… Pak Martin juga masih main. Kita nggak boleh lengah, makanya.” Mordekhai menatap Erwin dengan sorot yang berbeda. Bukan sekadar rekan kerja. Bagi Mordekhai, dirinya seperti sedang memandang seorang jenderal yang tahu medan perang ini masih panjang dan penuh ranjau. ***** Sementara itu, Gloria cukup kewalahan akibat pemberitaan terkait Indra. Isunya sudah menyebar ke mana-mana. Mana dalam penuturan Indra, nama Gloria Sincia disebut-sebut. Banyak DM masuk ke akun i********: Gloria. Belum lagi, Gloria dihubungi oleh manajemen keartisannya. Mereka minta klarifikasi dari Gloria. Salah satunya itu dari Ian, yang tadi pagi menghubungi Gloria. Sekarang Gloria sedang menemui Ian di Taman Anggrek. Mereka membicarakan masalah ini di tempat yang agak tersembunyi dari kerumunan. Namun, dari awal sudah janggal, jangankan Erwin, Gloria pun sulit menghindar. "Jadi, gitu ceritanya?" "Aku, Mas, dikirimin paket aneh. Orangnya maksa-maksa. Terpaksa aku terima. Eh, tahunya isinya heroin. Aku kaget, terus hubungi temanku. Dia bantu aku buat buang sebelum ketahuan. Ternyata di tempat itu, ada salah satu penggemarku. Dipungut sama dia. Di rumahnya, dibakar. Ternyata si penggemar kepergok polisi yang kayaknya intel atau apa, lah. Penggemar itu sekarang masih ditahan." Ian mengangguk-angguk sambil minum chamomile tea. Ia lalu meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan. Wajahnya serius, tak seperti biasanya yang suka bercanda saat bertemu dengan Gloria. “Glo, kamu tahu nggak, ini udah masuk portal gosip. Nama kamu diseret jadi ‘artis terlibat kasus narkoba’,” ujarnya pelan tapi tajam. “Manajemen dapet tekanan. Endorse banyak yang pending. Bahkan ada dua brand yang langsung mundur.” Gloria menunduk. Jemarinya menggenggam kuat sisi meja. “Aku tahu, Mas. Aku tahu semua ini ribet, tapi aku kan korban. Aku nggak salah juga. Aku juga dijebak. Aku nggak tahu kalau penggemarku itu ikut kebawa dalam masalah ini.” Ian menarik napas panjang. “Kita perlu strategi. Bukan cuma klarifikasi di story. Itu nggak cukup kelihatannya. Opini netizen udah terlanjur liar. Kamu harus bikin video resmi. Aku akan bantu produksi. Tapi kita harus bikin klarifikasi buru-buru, Glo. Jangan sebut nama temenmu yang bantu buang heroin itu.” Gloria terdiam. “Erwin,” gumam Ian, seperti membaca isi kepalanya. “Jangan sebut nama dia. Kalau kamu bawa-bawa dia, masalah ini bisa makin dalam. Bisa-bisa mereka malah nuduh kalian sekongkol. Kita harus pisahin kamu dari semua potensi keraguan publik.” “Tapi, Mas, dia yang nyelametin aku. Dia yang paling tahu semua kejadian dari awal…” “Dan justru karena itu, dia bisa dijadiin sasaran. Kalau kamu sayang dia, lindungi dia juga. Dengan cara, jangan sebut namanya. Nanti ujung-ujungnya, balik ke aku, kamu, dan manajemen." Gloria menghela napas. Ia tahu Ian tidak sepenuhnya salah. Namun hatinya berat. Tidak menyebut nama Erwin seolah menyangkal orang yang justru telah berdiri bersamanya ketika semuanya nyaris runtuh. “Terus, sekarang gimana?” tanya Gloria pelan. “Kita bikin video sore ini juga. Lokasinya di studio manajemen. Script-nya aku bantu. Kamu fokus tenangin diri dulu. Jangan buka i********: juga. Jangan tanggepin komentar apa pun. Ini saatnya kamu bersikap profesional.” Gloria mengangguk, meskipun dadanya terasa sesak. Sambil memandang ke arah keramaian Taman Anggrek dari balik kaca, ia bertanya dalam hati, yang sampai kapan dirinya harus selalu diam demi menyelamatkan citra, saat satu-satunya orang yang benar-benar melindunginya tak bisa disebutkan namanya? ***** Begitu sampai di kantor firma Sanputra Siagian Associate, saat Erwin dan Mordekhai ingin meminta tolong karyawan untuk menyelidiki sesuatu, salah satu karyawan yang bernama Anthony bercerita bahwa kantor baru saja mendapatkan kiriman kepala babi. Anthony, salah satu paralegal, langsung mendekat dengan wajah panik. “Koh Erwin… Bang Deka… tadi pagi ada yang ngirim paket aneh ke resepsionis. Waktu dibuka… i-itu kepala babi, Bang!” ujarnya nyaris berbisik, seolah takut ada yang menguping. Erwin langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap Anthony lekat-lekat. “Kepala babi? Siapa pengirimnya?” Anthony menggeleng. “Nggak ada nama. Nggak ada label. Cuma kardus biasa. Nggak ada petunjuk lain.” Mordekhai langsung mengacak rambutnya yang mulai menipis. “Ini bukan main-main. Ini simbol intimidasi, Win.” Erwin mengangguk pelan. Ia tahu, dalam budaya kriminal Asia Tenggara, kepala babi sering kali digunakan sebagai simbol peringatan keras. Terutama sering digunakan dalam urusan antar kelompok, korporasi, atau individu yang dianggap melanggar batas. “Lu curiga siapa, Win?” tanya Mordekhai. “Banyak kemungkinan,” jawab Erwin datar. “Tapi feeling gue, ini berkaitan sama kasusnya Gloria. Gue cemasin dia” Anthony menambahkan, “Kami udah cek CCTV. Tapi kamera depan rusak sejak dua hari lalu. Anggi masih coba cari-cari teknisi, tapi belum dapet-dapet." Mordekhai mendengus. “Pas banget.” Erwin menatap tangga menuju lantai dua kantor. Di atas sana ada ruang kerjanya. Akan tetapi, pikirannya tak bisa diam. Kepalanya dipenuhi skenario-skenario terburuk. Jika ancaman ini datang dari jaringan yang merasa terganggu karena barang haramnya hilang, maka ia dan Gloria benar-benar sedang berjalan di atas garis api. “Ada wartawan yang udah tahu soal ini?” tanya Erwin pada Anthony. “Belum. Kami bungkam semua staf. Nggak ada yang boleh posting apa pun.” “Bagus.” Erwin lalu menatap Mordekhai. “Kita harus perketat keamanan. Bikin daftar klien yang bisa jadi musuh. Dan, satu lagi, tolong cari tahu siapa saja yang pernah berurusan sama CV Anugerah Prima dan Martin Tumbelaka dalam lima tahun terakhir.” Mordekhai mencatat di ponselnya. Anthony bertanya ragu, “Bang, Koh, kita mau lapor polisi nggak?” Erwin tertawa kecut. “Polisi? Kita lagi berurusan sama orang-orang yang mungkin punya polisi sendiri. Untuk sekarang, kita sebaiknya play safe. Kumpulin bukti sambil terus ngamatin situasinya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN