33. Kekacauan Tengah Malam

1585 Kata

Anin mengekeret di tempatnya berdiri. Ia terkungkung resah. Kakinya gatal ingin berlari pergi. Tapi mengingat Fany yang pasti murka berhasil membabat habis keberaniannya.  Seperti yang Anin sering katakan. Dia tak masalah jika Fany mengkonfrontasi dirinya. Tapi tentu saja, gadis itu tak akan puas jika tak menghancurkannya dengan kelemahan yang dia miliki. Ya, siapa lagi kalau bukan sang Bibi. Wanita paruh baya itu selalu menjadi sasaran agar Anin tetap tunduk di bawah titah seorang Fany. Memuakkan? Sangat! "Fan, memangnya kita boleh masuk?" Setelah hanya berdiam diri dan menjadi penonton. Anin akhirnya angkat bicara. Berharap, semoga saja mereka tak di izinkan masuk ke tempat yang akan Fany dan teman-temannya tuju. "Lo tenang aja. Dia," Fany mengedikkan dagu pada sosok pria yang tadi me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN